ILUSTRASI Salah satu faedah tidak berputus asa dari rahmat Allah ialah panggilan hati untuk bertobat nasuha. | DOK REP Putra M Akbar
25 Jul 2021, 05:01 WIB

Jangan Berputus Asa

Sebenarnya, tidak ada ruang bagi orang beriman untuk putus harapan, berputus asa.

OLEH HASANUL RIZQA

 

Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Demikian arti dari surah az-Zumar ayat 53. Firman Allah SWT dalam Alquran itu memberikan kabar gembira untuk kaum beriman yang tidak berputus asa.

Terkait

Menurut Prof Buya Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) dalam Tafsir al-Azhar, ayat tersebut mengingatkan kaum Muslimin tentang betapa luasnya kasih sayang Tuhan. Maka dari itu, di antara sifat-sifat ideal dalam diri seorang Mukmin ialah optimistis.

Terlebih lagi, Allah Ta’ala Mahamelihat segala perbuatan hamba-hamba-Nya, termasuk yang berusaha keras dalam kebajikan. Dia pun Mahateliti terhadap segala yang dikerjakan setiap makhluk-Nya.

Dengan menyadari hal itu, seorang Muslim akan berpasrah diri kepada Allah. Sikap demikian tidak menjurus pada pesimisme. Sebab, tawakal berarti menyerahkan keputusan terbaik kepada Zat Yang Maha Adil lagi Mahabijaksana sesudah diri berikhtiar.

photo
ILUSTRASI Allah tidak akan menguji hamba-hamba-Nya di luar kadar kemampuan mereka. - (DOK PXFUEL)

Kadar Ujian

Sebenarnya, tidak ada ruang bagi orang beriman untuk putus harapan. Sebab, setiap cobaan dan ujian yang menerpanya dalam kehidupan telah digariskan sesuai ketentuan-Nya. Dan, Allah SWT tidak akan membebani hamba-hamba-Nya di luar batas kesanggupan mereka.

Firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 286, artinya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya.”

Dalam situasi sulit, umpamanya pandemi Covid-19 kini, dibutuhkan iman yang kuat. Jangan sampai ujian yang datang justru tidak mengangkat diri kepada level ketaatan dan ketakwaan. Untuk itu, seorang Muslim hendaknya berprasangka baik kepada takdir dari Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Aku sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku’.” (HR Muslim).

Dosa Berkurang

Begitu besar pahala untuk Mukminin yang bersabar. Nabi Muhammad SAW menyampaikan kabar gembira bagi orang Islam yang tetap tabah tatkala tertimpa musibah.

Beliau bersabda, “Tidak ada satupun musibah (cobaan) yang menimpa seorang Muslim, melainkan dosanya dihapus Allah Ta'ala karenanya, sekalipun musibah itu hanya lantaran tertusuk duri.” (HR Muslim).

Dalam sebuah hadis qudsi lain disampaikan, Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman, ‘Hai anak Adam! Jika kamu bersabar dan ikhlas saat tertimpa musibah, maka Aku tidak akan meridhai bagimu sebuah balasan kecuali surga’.” (HR Ibnu Majah).

Di antara keutamaan pantang berputus asa ialah membangkitkan kesabaran. Dengan bersabar, pertolongan dari Allah SWT akan lebih dekat. Dia akan mengurangi dosa-dosa hamba-Nya, sebagaimana dikehendaki-Nya. Kasih sayang-Nya terasa, baik di dunia maupun akhirat kelak.

photo
ILUSTRASI Ujian yang dihadapi seorang Muslim bisa menjadi jalan pengurangan dosa-dosa baginya, dengan ridha Allah SWT. - (DOK PXFUEL)

Tobat Nasuha

Dalam surah az-Zumar ayat 54, Allah SWT menyuruh hamba-hamba-Nya untuk menyegerakan bertobat. “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.”

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima tobat hamba-Nya selama ruh orang itu belum sampai di kerongkongan.”

Dengan demikian, sesudah memantapkan diri untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya, seorang Muslim hendaknya tidak menunda-nunda pertobatan. Selama hayat masih dikandung badan, harapan untuk memperoleh ampunan-Nya selalu terbuka lebar. Imam Nawawi dalam Nashaih al-Ibad berkata, “Allah lebih senang pada tobatnya seorang hamba melebihi senangnya orang haus yang menemukan air, atau orang mandul yang memiliki anak.”


×