Hikmah Republika Hari ini | Republika

Hikmah

23 Jul 2021, 03:30 WIB

Melepas Topeng Kepalsuan

Rangkaian ibadah haji dan kurban mengandung pesan moral melepaskan topeng-topeng kepalsuan perilaku manusia.

 

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Sungguh, tak terkira gemuruh rindu yang berkecamuk dalam kalbu kaum Muslimin yang tertunda lagi menunaikan ibadah haji. Seperti tahun lalu, pandemi Covid-19 memaksa Pemerintah Indonesia membatalkan keberangkatan jamaah haji ke Tanah Suci. Artinya, sudah dua tahun calon jamaah haji tidak bisa menunaikan Rukun Islam yang kelima.

Meski demikian, pelaksanaan ibadah haji tetap berjalan walau dalam jumlah terbatas dengan protokol kesehatan superketat. Pembatalan ini pun membuat masa tunggu semakin lama hingga 20 sampai 40 tahun.

Hari ini, Jumat 13 Dzulhijjah 1442 H adalah hari terakhir jamaah haji yang nafar tsani (gelombang dua) untuk menyelesaikan lontar jumrah. Lalu, mereka bergerak menuju Baitullah Makkah untuk melakukan thawaf Ifadah, sa’i, dan tahallul (memotong rambut). Dengan demikian, tuntas sudah pelaksanaan ibadah haji, dengan harapan meraih haji mabrur yang diganjar surga (HR Ahmad).

Sejatinya, seluruh rangkaian ibadah haji dan kurban, mengandung pesan moral yang sama, yakni melepaskan topeng-topeng kepalsuan dan kepura-puraan yang menyelimuti perilaku manusia. Demikian dijelaskan dalam buku Haji Bersama M Quraish Shihab, 1998. Dalam diri manusia ada sifat-sifat kebinatangan (syaithaniyah) itulah yang sering kali melenyapkan jati diri manusia yang sebenarnya.

Manusia tidak lagi tampil apa adanya sebagai seorang hamba yang mesti mengabdi kepada Khalik (QS az-Zariyat [51]: 56) atau sebagai pemimpin yang adil (QS al-Baqarah [2]: 30). Namun, justru bertindak laksana binatang bahkan lebih keji dari perilaku binatang karena dorongan hawa nafsu yang ditumpangi godaan setan (QS al-A’raf [7]: 179).

M Qurasih Shihab menyebutkan empat sifat hewani yang menjadi topeng kepalsuan yang mesti dilepaskan. Pertama, serigala yang melambangkan kekejaman dan penindasan. Sifat atau topeng inilah yang dipakai oleh para penguasa dan pengusaha.

Dengan kekuasaannya, mereka berlaku semena-mena dan menindas kaum yang lemah. Kesombongan inilah yang harus dilepas, sehingga lahir penguasa yang adil dan berpihak pada kaum dhuafa.

Kedua, tikus yang melambangkan kelicikan. Suasana yang semakin sulit akibat pandemi yang berkelanjutan saat ini tidak membuat surut hasrat sebagian orang untuk menimbun kekayaan, korupsi, dan menipu. Sungguh biadab, mereka yang tega merampok hak orang miskin yang sedang kelaparan. Keserakahan inilah yang harus dilepas sehingga lahir pribadi yang jujur dan dermawan.

Ketiga, anjing yang melambangkan tipu daya. Mereka adalah para kutu loncat politik dan penggadai keadilan dalam penegakan hukum. Rasa keadilan dinjak-injak demi mendapatkan kemenangan atau kekayaan. Hukum menjadi tumpul ke atas, tapi tajam ke bawah.

Keempat, domba yang melambangkan penghambaan kepada makhluk. Sifat lemah dan tak punya prinsip, membuat iman dan harga diri seseorang mudah tergadai. Demi sesuap nasi atau kepentingan pragmatis, rela mengorbankan nilai-nilai luhur agama dan kearifan.

Ibadah yang diwariskan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan Siti Hajar bukan simbolis semata, tetapi memiliki substansi mendalam, yang harus tampak pada perubahan perilaku keseharian.

Allahu a’lam bish-shawab.


×