Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir melihat proses penyuntikan vaksin Covid-19 saat kunjungan kerja di Stasiun Bandung, Kota Bandung, Sabtu (10/7). Dalam kunjungan kerjanya di Bandung, Erick Thohir berkesempatan untuk memantau dan memasti | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
22 Jul 2021, 07:46 WIB

Kinerja Emiten BUMN Terkoreksi

Kinerja sebagian besar emiten BUMN masih dalam tekanan pada kuartal I 2021.

JAKARTA — Kinerja sebagian besar emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih berada dalam tekanan pada kuartal I 2021. Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia, Toto Pranoto, menilai kondisi perusahaan pelat merah tersebut pada tiga bulan pertama tahun 2021 bahkan belum pulih seperti yang diharapkan.

"Sebagian besar masih berjuang ke situasi keuangan yang lebih baik, bahkan sebagian masih merugi," kata Toto kepada Republika di Jakarta, Rabu (21/7).

Dari beberapa sektor yang ada, Toto melihat BUMN kelompok perbankan masih mampu mencatatkan laba yang positif. Namun, pertumbuhan laba tersebut rata-rata menurun dibandingkan periode sama pada tahun lalu.

Salah satunya yang mengalami penurunan adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Emiten berkode saham BMRI tersebut membukukan laba bersih hanya sebesar Rp 5,9 triliun pada kuartal I 2021. Perolehan tersebut turun 25,2 persen dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

Terkait

Penurunan laba bersih juga dialami PT Bank Negara Indonesia Tbk. Emiten berkode saham BBNI ini mencatatkan laba bersih pada kuartal I 2021 sebesar Rp 2,38 triliun, turun drastis hingga 43,9 persen dari periode sama 2020.

Demikian halnya dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang membukukan laba bersih sebesar Rp 6,86 triliun, atau susut 16 persen secara yoy. Peningkatan laba bersih hanya mampu diraih oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk yang tercatat naik sebesar 36,75 persen menjadi Rp 625 miliar.

Berbanding terbalik dengan perbankan, emiten kelompok transportasi publik, seperti PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, malah jatuh dalam kerugian. Hal yang sama juga terjadi pada sebagaian emiten kelompok infrastrukur.

Sebut saja PT Waskita Karya (Persero) Tbk yang membukukan rugi bersih sebesar Rp 46,09 miliar sepanjang kuartal I 2021. Sementara, PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk masing-masing mencatatkan penurunan laba sebesar 26,25 persen dan 21,21 persen.

Adapun BUMN yang masih mencatatkan hasil positif berasal dari kelompok jasa, seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Emiten berkode saham TLKM ini mampu mencatatkan laba bersih Rp 6,01 triliun per Maret 2021, naik 2,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 5,86 triliun.

Toto pesimistis terhadap kinerja emiten BUMN pada kuartal II 2021. Menurut dia, perbaikan kinerja perusahaan pelat merah ini tidak terlepas dari penanganan Covid-19. Toto melihat, jika vaksinasi bisa dipercepat dan tindakan pembatasan sosial efektif, pemulihan performa BUMN baru bisa terjadi pada kuartal IV 2021.

Pandangan yang sama juga disampaikan oleh pengamat dari Pusat Studi BUMN, Syamsul Anam. Ia melihat, melambatnya performa emiten BUMN pada kuartal I 2021 paralel dengan perlambatan kinerja perekonomian nasional.

"Performa BUMN pada kuartal I 2021 terus tertekan. Bahkan, Garuda Indonesia kini masuk dalam daftar korporasi yang tengah diawasi (watch list)," kata Syamsul.

Meski demikian, Syamsul mengatakan, hampir seluruh BUMN telah menyusun perencanaan kontingensi untuk menghadapi kondisi perekonomian saat ini dan meminimalisasi risiko. Di sisi lain, menurut Syamsul, sekarang adalah waktu yang ideal untuk memilih saham-saham yang harganya mengalami koreksi seiring dengan penurunan performa korporasinya.

Kinerja BUMN sektor telekomunikasi, farmasi, keuangan, serta logam dan mineral yang positif seharusnya bisa menopang bangkitnya performa BUMN secara umum. Meski juga mengalami perlambatan, menurut Syamsul, pertumbuhan sejumlah sektor tersebut masih lebih baik dibanding emiten sektoe lainnya.

Adapun faktor yang dapat menjadi pendorong pemulihan kinerja BUMN adalah optimisme dalam negeri di beberapa negara mitra dagang utama Indonesia, seperti Amerika Serikat, Cina, dan Uni Eropa (UE). Sementara, faktor yang dapat menekan kinerja BUMN dapat datang dari masih tingginya kasus aktif Covid-19 di dalam negeri.

Pada kuartal II 2021, Syamsul memperkirakan, kinerja beberapa BUMN masih terus melambat, terutama yang berkaitan dengan sektor konstruksi, transportasi, serta sektor yang saling berimpitan dengan upaya pencegahan pandemi dengan skema Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.


×