Seorang jamaah mendorong kerabatnya di kursi roda sembari menjalankan ibadah haji di Masjidil Haram, Sabtu (17/7/2021). Sebanyak 60 ribu jamaah terpilih tak henti mengungkapkan syukur bisa berhaji. | REUTERS/Ahmed Yosri
19 Jul 2021, 03:50 WIB

Rasa Syukur Mereka yang Terpilih Berhaji

Sebanyak 60 ribu jamaah terpilih tak henti mengungkapkan syukur bisa berhaji.

OLEH DEA ALFI SORAYA

Ritual haji telah dimulai, 60 ribu jamaah terpilih tak henti mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraan atas kesempatan untuk melaksanakan haji di tengah pembatasan ketat karena krisis kesehatan global. Puluhan ribu jamaah itu terpilih dari 500 ribu pendaftar melalui seleksi dan persyaratan yang cukup ketat.

Um Azzam (53 tahun), dan suaminya dari Riyadh, adalah salah satu dari mereka yang beruntung. Dia mengaku sangat bahagia begitu mendapatkan izin haji pada 24 Juni lalu. Saat ditanya mengenai kekhawatiran terinfeksi saat melaksanakan haji, dia mengatakan, tidak takut dan yakin bahwa Allah SWT akan senantiasa melindunginya. 

Selain itu, haji juga dilangsungkan dengan penerapan pembatasan jumlah jamaah, tetap menerapkan protokol kesehatan dan telah mendapatkan dosis lengkap vaksin. “Kami menerima pesan teks pada malam 24 Juni dan perasaan itu benar-benar kegembiraan dan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Kami berharap dan berdoa untuk melakukan haji dan doa kami terkabul,” ujarnya yang dikutip Arab News, Ahad (18/7).

Terkait

“Mengapa kita harus takut (melakukan haji selama pandemi) ketika kita percaya kepada Allah SWT? Selain itu, kami telah mengambil vaksin kami dan percaya pada tindakan pencegahan. Saya tidak mengatakan tidak mungkin terinfeksi, tetapi itu jelas bukan masalah saya karena saya merasa aman, dengan jumlah orang yang pergi dan tindakan pencegahan ketat yang harus kita ikuti,” katanya. 

photo
Jamaah menjaga jarak saat melaksanakan tawaf mengelilingi Kakbah di Masjidil Haram, Sabtu (17/7/2021). - (REUTERS/Saudi Ministry of Media)

Mariam Mohammed, dan ibunya Um Mazin, seorang warga negara Amerika Serikat yang tinggal di Kerajaan, juga dipilih untuk melaksanakan haji tahun ini. Wanita 24 tahun itu mengatakan ini adalah perjalanan haji pertamanya. "Aku sangat gembira. Saya selalu ingin melakukan haji, tetapi untuk beberapa alasan, itu tidak pernah berhasil. Tapi kali ini berhasil,” ujarnya.

“Saya tidak merasa takut atau gugup. Saya tidak akan membiarkan ketakutan saya terinfeksi (dengan Covid-19) menghentikan saya untuk mengambil kesempatan ini. Saya bisa jadi tertular Covid-19 di kota saya sendiri, jadi mengapa saya harus takut menjalankan tugas agama?” katanya.

Um Mazin, sang ibu, mengatakan, ancaman tertular Covid-19 tidak bisa sepenuhnya dihindari, tetapi dia mengaku merasa aman dengan jumlah jamaah dan segala tindakan pencegahan yang diupayakan Kerajaan. “Saya tidak mengatakan tidak mungkin terinfeksi, tetapi itu jelas bukan masalah saya karena saya merasa aman dengan jumlah orang yang pergi dan tindakan pencegahan ketat yang harus kita ikuti,” ujarnya. 

“Saya juga berasumsi bahwa karena pemerintah telah melakukannya dengan sangat baik dalam mengendalikan virus, itu akan lebih berhati-hati ketika datang ke musim haji,” kata Um Mazin. 

Sebelum mendapatkan izin haji, pendaftaran Mariam Mohammed dan sang ibu sempat ditolak oleh sistem karena kewarganegaraannya, selain karena terlalu banyak warga Saudi yang mendaftar. Namun, Kerajaan ternyata menyediakan kuota bagi warga Kerajaan non-Saudi, yang menurut Mazin adalah keputusan yang bagus. 

photo
Jamaah tiba sebelum dibawa ke Masjidil Haram, Sabtu (17/7/2021). - (REUTERS/Ahmed Yosri)

“Dijelaskan kepada kami bahwa ada terlalu banyak orang Saudi, yang menghadiri haji dan mereka (otoritas Saudi) ingin memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan juga. Saya tidak tahu bahwa mereka memiliki kuota untuk non-Saudi, meskipun itu sebenarnya ide yang bagus,” ujarnya.

Nasib baik juga dialami Mohammed Al-Hokair dari Riyadh. Dia mengatakan, sudah merencanakan haji untuk seluruh keluarganya, dia, orang tuanya, dan saudara perempuannya. Namun, hanya aplikasi orang tuanya yang diterima, sedangkan miliknya dan saudara perempuannya ditolak. 

Tak lama setelahnya, dia mendapatkan pesan bahwa dia dan saudaranya diizinkan untuk berhaji sebagai pendamping orang tua mereka. “Awalnya, saya merasa gugup. Tapi itu tidak bertahan lama, dan sekarang saya merasa sangat aman dan tenang,” kata Al-Hokair.

Namun, Abu Hassan ( 55 tahun) dari Jeddah, tidak seberuntung itu. Dia mengatakan kepada Arab News bahwa dia telah mendaftar haji secara daring. Meskipun pada awalnya diterima, dia kemudian menerima pesan yang mengatakan bahwa aplikasinya ditolak.

“Allah SWT mungkin punya rencana lain untuk saya, jadi saya sepenuhnya menerima hasilnya,” ujar pria yang terakhir kali berhaji pada 26 tahun silam itu.


×