Polisi berjaga di sekitar ruang jenazah yang menjadi tempat proses identifikasi dan otopsi dua jenazah terduga teroris anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di RS Bhayangkara, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (14/7/2021). | ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah

Nasional

19 Jul 2021, 03:45 WIB

Anggota MIT Tersisa Enam Orang

Sembilan anggota MIT yang masuk dalam daftar pencarian orang.

JAKARTA — Satguan Tugas Madago Raya meyakini sisa anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) tinggal enam orang. Tim gabungan TNI dan Polri itu meminta para anggota kelompok tersebut menyerahkan diri.

“Sesuai dengan DPO (daftar pencarian orang) teroris MIT yang dikeluarkan Polri sebanyak sembilan orang, jadi sisa enam orang. Kami mengimbau agar sisa DPO teroris yang ada di Pegunungan Biru di wilayah Poso, Sigi, dan Parimo segera menyerahkan diri,” ujar Wakil Kepala Humas Satgas Madago Raya AKBP Bronto Budiono dalam keterangan tertulis, Ahad (18/7).

Pada Maret 2021, Satgas Madago Raya menerbitkan total sembilan anggota MIT yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Mereka Ali Ahmad alias Ali Kalora, Qatar alias Farel alias Anas, Askar alias Haid alias Pak Guru.

Yang lainnya, Abu Alim alias Ambon, Nae alias Galuh alias Mukhlas, Jaka Ramadhan alias Krima alias Rama, Rukli, Suhardian alias Hasan Pranata, dan Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang.

photo
Polisi berjaga di depan gerbang Rumah Sakit Bhayangkara yang akan menjadi lokasi identifikasi dua jenazah dari kelompok DPO Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso di Palu, Sulawesi Tengah, Ahad (11/7/2021). Prajurit Kopassus dalam tim Komando Operasi Gabungan Khusus (Koopsgabssus) Tricakti yang tergabung dalam Satgas Operasi Madago Raya menembak mati dua orang dari kelompok DPO MIT Poso dalam kontak senjata di Pegunungan Tokasa, Desa Tanah Lanto, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong pada Ahad (11/7) pagi. Hingga foto ini diturunkan, petugas masih melakukan evakuasi kedua jenazah dari hutan untuk dilakukan identifikasi - (ANTARA FOTO/BASRI MARZUKI)

Bronto mengatakan, aparat tak ingin melihat aksi-aksi kelompok MIT terus mengorbankan masarakat sipil dan kelompok pimpinan Ali Kalora tersebut. “Jadi untuk segera menyerahkan diri baik-baik, supaya tidak ada lagi jatuh korban,” ujar Bronto.

Satgas Madago Raya adalah tim gabungan Polri dan TNI untuk memburu, hidup maupun mati anggota kelompok MIT di wilayah Poso. Dalam sepekan terakhir, operasi gabungan memicu aksi kontak senjata antara Satgas dengan anggota kelompok MIT. Pada Ahad (11/7), dua anggota MIT tewas dalam kontak senjata di Pegunungan Tokasa, Desa Tanalanto, Parigi.  

Wakil Komandan Satuan Gabungan Khusus TNI Tri Cakti, Letnan Kolonel Infantri Romel Wardhana menyebutkan, dua anggota MIT yang tewas teridentifikasi bernama Rukli dan Ahmad Panjang. Kontak senjata susulan terjadi di Desa Tanah Lanto, Torue Parigi, pada Sabtu (17/7) sore.

Peristiwa itu menewaskan satu lagi anggota MIT, Abu Alim alias Ambon. Menurut Bronto, Ambon sudah dimakamkan di Poboya, Palu pada Ahad (18/7).

Kemarin, petugas juga menerima sampel DNA dari keluarga dari Rukli dan Ahmad Panjang. "Setidaknya sampai saat ini, Satgas Madago Raya telah mengambil sampel dari keluarga terdekat kedua jenazah teroris Poso yang tewas," kata Brontop.

Menurut dia, identifikasi yang telah dilakukan Tim Inafis Polda Sulteng baru melalui pengambilan sidik kedua jenazah. Namun, hasilnya perlu didukung pemeriksaan sampel DNA dari keluarga. DNA merupakan materi genetik yang menentukan sifat dan karakteristik fisik seseorang yang diturunkan keturunannya.

"Sampel DNA diperlukan dari keluarganya untuk mengetahui identitas pasti kedua jenazah teroris Poso yang saat dievakuasi sudah dalam keadaan membusuk, sehingga menyulitkan identifikasi saat diterima Rumah Sakit Bhayangkara Palu," kata dia.

Ia mengimbau masyarakat tetap sabar menunggu meskipun telah beredar dugaan nama-nama teroris yang meninggal dunia. "Perkembangan hasilnya akan segera diumumkan," kata dia.


×