Seorang karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melalui gadget di Jakarta, Kamis (27/12). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pertumbuhan pasar modal syariah menunjukan tren yang positif pada tahun 2018 ini. | Republika/Prayogi
16 Jul 2021, 14:56 WIB

Pasar Modal Syariah Perlu Cermati Perkembangan Global

Pasar modal syariah menjadi komponen penting, khususnya pada masa pandemi saat ini.

JAKARTA -- Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mengajak pelaku industri pasar modal syariah untuk mengikuti perkembangan global. Direktur Eksekutif KNEKS Ventje Rahardjo mengatakan, Indonesia perlu terus memetakan dan mengidentifikasi potensi pasar modal syariah.

"Kita juga perlu mendengar bagaimana pengembangannya di tingkat internasional agar bisa belajar, termasuk terkait sukuk, dan instrumen pasar modal lainnya," kata Ventje dalam konferensi internasional The Future of Islamic Capital Market yang digelar KNEKS, Kamis (15/7).

Ventje mengatakan, kolaborasi dengan berbagai pihak, baik di dalam negeri maupun luar negeri diperlukan agar pengembangan pasar modal syariah nasional bisa sejalan dengan kondisi perekonomian global. Menurutnya, pasar modal syariah menjadi komponen penting, khususnya pada masa pandemi saat ini. Pasar modal menjadi front runner dalam memfasilitasi kebutuhan pendanaan sektor riil, termasuk industri halal.

Perannya juga signifikan dalam rangka pemulihan ekonomi secara global. Ditambah lagi, pengembangan pasar modal syariah Indonesia saat ini memiliki keunikan seiring dengan kenaikan minat dari investor kaum muda. Dalam rangka pengembangan, Ventje mengatakan, KNEKS memiliki sejumlah inisiatif untuk meningkatkan sisi permintaan dan pasokan. Hal itu mulai dari sisi regulasi, pengembangan Islamic Investment Bank, serta peningkatan sukuk korporasi dan daerah.

Terkait

Sejumlah kebijakan strategis telah diluncurkan untuk mengakselerasi pengembangan pasar modal syariah. Yang terbaru adalah kebijakan untuk pengembangan efek syariah melalui securities crowdfunding yang dikeluarkan oleh OJK dan kebijakan terkait sukuk daerah.

Selain pasar sukuk, peningkatan pasar modal syariah juga datang dari bursa saham. Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pahala Mansury, menyampaikan, pasar saham Indonesia terus menunjukkan ketahanannya di tengah pandemi. "Meski pandemi, pertumbuhan pasar saham syariah masih positif," katanya.

 

Rata-rata volume transaksi harian per April 2021 adalah 8,97 miliar lembar dengan nilai Rp 8,54 triliun. Hal itu naik dari 7,31 miliar lembar dengan nilai Rp 4,96 triliun pada akhir 2020.

Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mengajak berbagai pihak untuk terus mengembangkan dan memajukan industri keuangan syariah di Indonesia. Dia menekankan, potensi industri dan keuangan syariah di Indonesia sangat besar, tetapi belum tergali dengan baik.

"Masih terdapat ruang yang luas untuk pengembangan industri keuangan syariah di Indonesia," ujar Kiai Ma’ruf.

Ma'ruf mengatakan, berdasarkan penyampaian Otoritas Jasa Keuangan (OJK), marketshare keuangan syariah Indonesia masih relatif rendah, yaitu 9,89 persen dari total aset keuangan nasional Indonesia.

Ma'ruf mengungkapkan, ini karena pengembangan pasar modal syariah geliatnya baru mulai dirasakan pada 2011. Padahal, pengembangan pasar modal syariah Indonesia telah dilakukan sejak 1997 dengan terbitnya produk reksa dana syariah pertama.

"Untuk lebih mengembangkan pasar modal syariah, OJK telah menerbitkan Roadmap Pasar Modal Syariah 2020-2024 sebagai salah satu panduan terkait arah kebijakan pasar modal syariah," ujarnya.


×