Sejumlah relawan menyiapkan makanan di dapur umum peduli Covid-19, Karet, Jakarta, Senin (12/7/2021). Aksi solidaritas dari sejumlah komunitas tersebut memberikan sekitar 1.000 paket makanan untuk membantu warga yang sedang isolasi mandiri dan terdampak k | Republika/Putra M. Akbar

Nasional

13 Jul 2021, 03:45 WIB

451 Pasien Covid-19 Meninggal Saat Isoman

LaporCovid-19 merekomendasikan pemerintah memperbanyak tempat isolasi terpusat.

JAKARTA – Inisiator LaporCovid-19 Ahmad Arif mengungkap sedikitnya  pasien Covid-19 di Indonesia yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri (isoman) semakin banyak. LaporCovid-19 mencatat sebanyak 451 pasien Covid-19 meninggal dunia saat isoman hingga Ahad (11/7).

“Pasien Covid-19 meninggal dunia karena terlambat untuk ditangani bahkan saat membutuhkan fasilitas isolasi mandiri,” kata dia saat konferensi virtual CISDI tentang kolapsnya rumah sakit dan kematian pasien Isoman, Senin (12/7).

451 kematian ini berasal dari 12 provinsi dan 62 kota/kabupaten yang terlacak. Adapun provinsi yang mengalami kematian terbanyak yaitu Jawa Barat, yakni sebanyak 160 orang. Kota yang terbanyak mengalami kematian adalah Bekasi sebanyak 81 orang dan kabupaten yang terbanyak mengalami kematian terbanyak adalah Sleman, yakni sebanyak 44 orang.

“Jumlah yang terdata ini merupakan fenomena puncak gunung es, karena tidak semuanya terberitakan dan atau terlaporkan,” kata dia.

Arif menambahkan, para pasien Covid-19 kesulitan mendapatkan rujukan rumah sakit hingga ruang isolasi mandiri sejak pertengahan Juni bulan lalu. Dia menyebut, banyak pasien isoman anak kos tidak bisa mendapatkan ruang isolasi karena ‘dipingpong’ dari satu pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) ke puskesmas yang lain.

“Permasalahan semakin kompleks. Orang yang meninggal dunia saat isoman semakin intens,” ujar dia.

Ahmad Arif juga menyatakan, LaporCovid-19 merekomendasikan pemerintah memperbanyak tempat isolasi terpusat. "LaporCovid-19 merekomendasikan pemerintah untuk memperbanyak tempat isolasi terpusat dengan memanfaatkan gedung-gedung pemerintah atau sekolah, dilengkapi dengan tenaga kesehatan yang memantau pasien," ujarnya.

Selain itu, dia melanjutkan, bisa juga dengan mengoptimalkan konsultasi online melalui telemedicine untuk mengedukasi dan mengawasi pasien isoman. Tak hanya itu, ia meminta lingkungan terkecil seperti RT/RW juga harus saling mendukung secara sosial kepada pasien isoman agar bisa menjalani masa pemulihan dengan baik.

Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Laura Navika Yamani mengatakan, pasien Covid-19 bergejala sedang dan berat tidak boleh melakukan isolasi mandiri di rumah karena tidak akan mendapatkan pengawasan. Laura meminta lebih baik pasien Covid-19 bergejala sedang hingga berat terutama yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) ikut dalam antrean IGD rumah sakit.

Obat gratis

Pemerintah menyiapkan 300 ribu paket obat gratis untuk pasien Covid-19 tanpa gejala atau OTG (orang tanpa gejala) dan bergejala ringan. Pemberian obat gratis ini akan dimulai pada Rabu (14/7) dan diharapkan bisa segera menjangkau seluruh kasus aktif di Indonesia saat ini.

“(Pembagiannya) OTG 10 persen, paket demam dan anosmia 60 persen, dan demam dan batuk 30 persen,” ujar Koordinator PPKM Darurat, Luhut Binsar Pandjaitan, dalam keterangan pers usai rapat terbatas bersama Presiden Jokowi, Senin (12/7).

Pembagian obat gratis ini, ujar Luhut, akan dilakukan oleh TNI dan unsur gabungan bersama satgas di daerah. Pembagian obat akan dilakukan selama beberapa bulan ke depan, bergantung dengan data kasus aktif yang dimiliki pemerintah.

Luhut menyebut, syarat untuk mendapatkan bantuan obat perawatan untuk pasien Covid-19 dari pemerintah adalah menunjukkan hasil tes swab PCR. “Nanti 2.200 dokter yang direkrut dan dikoordinasi oleh Pak Tugas (Kapuskes TNI) dipimpin Panglima TNI, bisa atur semua flow (alur) ini,” ujar Luhut.

Namun, Luhut tidak menjelaskan apa saja jenis atau merek obat yang termasuk dalam paket obat gratis ini. “Ini akan dibagikan oleh TNI bersama elemen-elemen lain. Prosedur sudah disusun sehingga itu bisa jalan,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi ini.

Selain itu, Luhut juga menegaskan bahwa pemerintah berupaya memastikan kecukupan pasokan obat untuk terapi pasien Covid-19 yang bergejala sedang hingga berat. Dari catatan pemerintah, jenis obat yang saat ini pasokannya kurang adalah Remdesivir dan Actemra. Khusus untuk Actemra, pemerintah Indonesia bahkan sudah mengurus lisensi untuk bisa memproduksi sendiri di dalam negeri.

photo
Menteri BUMN Erick Thohir saat mengecek ketersediaan obat ivermectin di Apotek Kimia Farma di Jakarta, Senin (5/7/2021). Erick Thohir memerintahkan Indofarma untuk meningkatkan produksi ivermectin menjadi 13,8 juta tablet per bulan hingga Agustus 2021, dari semula 4,5 juta tablet serta menetapkan ivermectin Rp 7.885 per butir, termasuk PPN, sebagai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sesuai dengan ketentuan Kemenkes. Beberapa waktu terakhir harga ivermectin sempat mengalami lonjakan drastis hingga ratusan ribu rupiah. - (Republika/Thoudy Badai)

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan akan mengimpor obat-obatan yang digunakan untuk terapi Covid-19 seperti Remdesivir dan Actemra. Menurut dia, pemerintah telah mendapatkan jatah impor Remdesivir sebanyak 150 ribu vial yang akan masuk bertahap mulai pekan ini. “Remdesivir dan Actemra memang di dunia rebutannya tinggi sekali,” ujar dia.

Pemerintah juga akan mengimpor sekitar tiga ribu Actemra. Menurut Budi, jumlah obat-obatan yang diproduksi oleh perusahaan Swiss itu memang terbatas. Sementara obat-obatan yang diproduksi dalam negeri seperti Oseltamivir, Azitromisin, dan Favipiravir tak mengalami masalah. Kendati demikian, Budi mengakui ada hambatan dalam distribusi obat-obatan tersebut.

“Yang nanti kami akan selesaikan ke pengusaha-pengusaha distributor farmasi dan kita mengimbau agar mereka segera melepaskan stoknya ke masyarakat, apotek, dan rumah sakit,” ujar dia. Dengan demikian, ia berharap masyarakat bisa mendapatkan akses obat tersebut dengan harga yang wajar.

Panglima TNI Hadi Tjahjanto menyatakan kesiapan pihaknya untuk menyusun mekanisme pencatatan, penyaluran, dan sosialisasi obat-obatan untuk pasien isoman. “Untuk kecamatan dan desa, kami tentu akan terus berkoordinasi dengan dokter dan bidan desa untuk mengedukasi pasien, dan Babinsa juga nanti akan membantu,” ujar dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Kesehatan RI (@kemenkes_ri)


×