Menurut ketua PP Muhammadiyah yang juga guru besar FEB UGM, Prof Lincolin Arsyad, pandemi dapat menjadi momentum perbaikan pada pelbagai lini dalam dunia akademik. | DOK IST
12 Jul 2021, 13:05 WIB

Lincolin Arsyad, Ketahanan Kampus Muhammadiyah Saat Pandemi

Lincolin Arsyad menjelaskan visi rektor Kampus Muhammadiyah adalah untuk pengembangan pendidikan.

Sejak munculnya pandemi, tatanan kehidupan masyarakat mengalami banyak perubahan. Bisa dikatakan, seluruh sektor terpukul wabah Covid-19. Tak terkecuali dunia pendidikan.

Menurut Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Dikti Litbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Lincolin Arsyad MSc PhD, epidemi menjadi ujian bersama seluruh elemen bangsa. Bagi Muhammadiyah, lanjutnya, suatu situasi sulit merupakan momentum untuk meningkatkan ketahanan dengan tetap merawat optimisme.

Sebagai contoh, pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilakukan tidak hanya untuk menjaga keberlangsungan transfer ilmu antara dosen dan mahasiswa. PJJ pun hendaknya menjadi saat untuk meningkatkan kualitas teknologi informasi di masing-masing kampus, khususnya yang berstatus perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM). Dalam hal ini, organisasi masyarakat (ormas) Islam tersebut sudah mengambil langkah awal.

“Sekarang kita juga sudah membuka Universitas Siber Muhammadiyah (Sibermu) di Yogyakarta,” kata profesor kelahiran Lampung, 21 Juli 1958 itu.

Terkait

Bahkan, pelbagai prestasi tetap bisa diraih sejumlah PTM di tengah pandemi. Umpamanya, masuknya tiga kampus Muhammadiyah dalam jajaran “Top Islamic Universities” versi UniRank tahun 2021. Diketahui, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menduduki posisi teratas. Sementara, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ada di urutan keempat dan kedelapan.

Seperti apa resep PTM sehingga bisa tetap tangguh walau diterpa situasi pendemi? Untuk menjawabnya, berikut bincang-bincang wartawan Republika, Muhyiddin, dengan guru besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut belum lama ini. 

Hingga kini, pandemi Covid-19 berlangsung lebih dari setahun. Bagaimana Anda melihat fenomena ini?

Ya, lebih dari satu tahun bangsa Indonesia bergelut dengan pandemi Covid-19.

 

 

Covid-19 adalah cobaan dari Allah SWT untuk kita semua. Dan, orang beriman pasti akan diuji dengan banyak hal selama hidupnya.

 

LINCOLIN ARSYAD: Epidemiolog
 

Surah al-Anbiya ayat 35 sudah menyinggung tentang itu. (Artinya) “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.”

Namun, sebagai manusia kita pun mesti menggunakan segenap daya yang ada. Kita harus berpikir untuk mencari solusi jangka pendek dan panjang. Solusi jangka pendeknya adalah bagiamana menghindarkan masyarakat kita dari Covid-19. Sebab, memang penularannya makin sekarang ini semakin banyak. Adapun jangka panjangnnya, kita perhatikan bahwa pandemi berimbas pada banyak sektor. Tidak hanya kesehatan, tetapi juga ekonomi, sosial, pendidikan, dan lain-lain.

Bagaimana dampak pandemi terhadap dunia pendidikan tinggi?

Ya, dunia kampus terdampak juga (oleh pandemi). Tapi, dari kampus juga bisa dipikirkan pemecahan atas masalah ini (Covid-19). Sebuah universitas juga harus mencoba mencari jalan keluar atau solusi jangka panjangnya. Misalnya, pendidikan yang berbasis informasi. Itu akan semakin penting pada masa yang akan datang. Dunia kampus juga mesti mengembangkan pendidikan yang menuntut kecerdasan total.

Sebab, yang terkena Covid-19 ini bukan hanya orang kedokteran saja, bukan orang eksakta saja. Bahkan, orang-orang agama pun terkena penyakit itu. Karena itu, kita semua harus sadar bahwa Covid-19 ini musuh bersama dan harus kita selesaikan bersama.

 

Bagaimana pandemi ini berpengaruh terhadap perguruan-perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM)?

Kami sudah beberapa kali mengumpulkan informasi. Jadi, memang sangat terasa sekali dampaknya. Walaupun untuk beberapa perguruan tinggi yang besar itu dampaknya tidak terlalu terasa, toh jumlah pendaftar mahasiswa masih cukup banyak.

Persoalannya tampak di di PTM-PTM yang kecil. Khususnya, PTM yang ada di daerah-daerah. Itu memang terasa berkurang jumlah mahasiswanya. Oleh karena itu, saya mengingatkan mereka supaya penyusunan kurikulum harus disesuaikan dengan perubahan situasi sekarang. Sebab, kurikulum yang kita susun 10 tahun yang lalu tidak akan sama dengan 10 tahun yang akan datang. 

Seberapa siap sistem pembelajaran di PTM pada masa pandemi?

Kalau dampak Covid-19 pada sistem pembelajarannya sendiri, dalam situasi sekarang, kita menggunakan sistem daring atau jarak jauh. Tapi, tentu saja ini harus terus disempurnakan lagi. Sebab, memang ada juga beberapa kelemahan dari sistem yang ada sekarang ini. Misalnya, sistem ujiannya yang barangkali kadang-kadang agak susah dilakukan.

Maka, di masa yang akan datang kita (Muhammadiyah) juga harus mempersiapkan sistem jarak jauh itu. Misalnya, dari 14 kali pertemuan, mungkin ada empat kali pertemuan yang menggunakan sistem pembelajaran jarak jarak (PJJ) kalau itu memungkinkan. Atau, PJJ bisa diterapkan pada mata kuliah tertentu dan jurusan tertentu. 

Seperti apa pedoman dari Majelis Dikti Muhammadiyah tentang PJJ ini agar efektif?

Kita memang belum menyiapkan itu. Namun, kita sudah memberikan beberapa masukan kepada masing-masing perguruan tinggi. Sebab, untuk membuat pedoman itu sekarang kita tidak bisa seragam juga. Misalnya saja, di Jawa dan luar Jawa. Keduanya itu situasinya berbeda.

Jadi, kebijakan demikian kita serahkan kepada universitas masing-masing. Majelis Dikti PP Muhammadiyah hanya menyarankan saja. Silakan mencari jalan keluar, mana yang paling baik.

Seperti sekarang, bisa kita lihat, di Pulau Jawa situasi Covid-19 lagi parah. Namun, luar Jawa masih agak tenang-tenang saja hingga saat ini. Jadi, memang tiap PTM diberikan keleluasaan untuk menentukan pedoman itu. Kalau secara umum, memang kita menginginkan supaya yang aman dan tentram. 

Mungkinkah masa pandemi menjadi momentum untuk memperbaiki sistem teknologi informasi di kampus?

Justru itu yang kita utamakan. Kita akan menguasai dunia kalau kita menguasai teknologi informasi. Dosen-dosen di fakultas keagamaan pun harus mengerti teknologi informasi. Inilah harapan kita. Hal ini sebenarnya juga menjadi blessing in disguise dari Covid-19. Pandemi menuntut kita untuk ahli dalam menggunakan teknologi infomasi, sekurang-kurangnya untuk melangsungkan pembelajaran.

Sekarang kita juga sudah membuka Universitas Siber Muhammadiyah (Sibermu) di Yogyakarta. Saat ini, izinnya sudah keluar. Itu untuk mengakomodasi mahasiswa-mahasiswa yang kuliah jarak jauh. Jadi, kita lihat nanti bagaimana perkembangannya. 

Di tengah situasi pandemi, PTM tetap mengukir prestasi, semisal masuk jajaran 15 besar kampus Islam dunia. Apa resepnya?

Ya, di daftar “2021 Top Islamic Universities” versi UniRank, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menduduki posisi nomor satu. UniRank ini lembaga yang basisnya di Sydney (Australia), memang membuat pemeringkatan perguruan tinggi internasional. Setiap tahun mereka rilis survei perguruan tinggi terbaik di dunia.

Selain UMM, ada UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) dan UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta). Masing-masing di urutan keempat dan kedelapan. Resepnya apa? Ya, sebenarnya kita berjalan seperti biasa. Tapi, kebetulan di ranking perguruan tinggi Islam kita sudah bagus.

Sebab, memang dari tiga kampus PTM yang bagus-bagus itu terus mengembangkan teknologi informasinya. Lalu apa saja faktor kesuksesannya? Pertama, visi dari rektornya masing-masing untuk pengembangan pendidikan. Kedua, masalah dana juga. Makanya, yang berhasil menjadi tiga besar itu adalah PTM yang besar-besar. Namun, tetap saja yang terpenting, visi dari rektornya.

Dengan adanya prestasi tiga kampus besar itu, saya berharap yang lain juga terpacu. Sekali lagi, kita harus mengembangkan teknologi informasi di kampus-kampus. Kalau tidak, kita akan ketinggalan zaman.

Di tengah pandemi, apa saja kiprah kampus-kampus PTM untuk turut menguatkan bangsa?

Kita sudah lihat, banyak PTM yang terlibat aktif dalam penanganan pandemi. Tapi, Pak Muhadjir Effendi (Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) yang juga kebetulan anggota PP Muhamamdiyah, sudah menyarankan. Dia meminta, kalau bisa, PTM mengembangkan bidang-bidang tertentu. Misalnya, fakultas-fakultas kedokteran yang ada (di PTM). Itu perlu lebih berperan lagi untuk membantu pemerintah dalam Covid-19 ini.

Bahkan, kita “terpaksa” mengeluarkan modal sendiri untuk membantu pemerintah menyelesaikan Covid-19. Kita harapkan juga, PTM bersedia untuk mengeluarkan sedikit dananya untuk pendidikan.

Memang dana kita untuk kemaslahatan umat. Karena itu, perlu juga untuk pengembangan pendidikan melalui keterlibatan langsung dalam pengentasan Covid-19. Selain itu, PTM juga telah berperan dalam membangun kesadaran masyarakat terkait Covid-19 ini. Kita bekerja sama, misanya, dengan MCCC (Muhammadiyah Covid-19 Command Center) maupun Lazis Muhammadiyah. Jadi, Majelis Dikti tidak bekerja sendirian. 

Bagaimana Muhammadiyah terus meningkatkan daya saing seluruh PTM yang ada?

Menurut saya, yang jelas sekarang perlu memikirkan pendidikan lanjutan dari dosen-dosennya. Jadi, tidak cukup bahwa dosen-dosen PTM itu hanya bergelar master. Kalau bisa, mereka harus doktor. Gelar itu pun bisa didapatkan dari dalam maupun luar negeri.

Nah, sekarang doktor-doktor kita yang ke luar negeri itu banyak yang muda-muda, pintar, dan bagus-bagus. Saya senang sekali. Kemudian, kalau usianya yang sudah lanjut tetapi ingin meneruskan pendidikannya, itu juga bisa meneruskan studinya di dalam negeri.

Jadi, menurut saya, kualitas pengajar itulah yang paling utama kalau kita mau unggul. Kita harus unggul dari segi sumber daya manusia. Kedua, barulah kemudian fasilitas pendidikannya mengikuti. Fasilitas-fasilitas seperti laboratorium, perpustakaan, dan sebagainya. 

Bagaimana Muhammadiyah menghadirkan sinergi antara ilmu umum dan agama Islam di kampus-kampus PTM?

Kita sudah jalan melakukan dan mewujudkan sinergi itu, yakni antara ilmu umum dan ilmu agama Islam. Di kampus-kampus PTM, ada fakultas agama Islam. Dan, di samping itu juga ada sekolah-sekolah tinggi yang khusus agama Islam. Jadi, sudah sejak dahulu kita mengawinkan dua pola pendidikan tersebut. Prosesnya pun sudah dijalankan dengan baik.

Fakultas agama di kampus PTM itu berkembang dengan baik dan jurusannya pun banyak. Selain itu, setiap fakultas yang memiliki jurusan umum juga diajarkan agama kepada para mahasiswanya. Jadi, mereka dibekali untuk menjadi sarjana yang paripurna.

Disebut paripurna karena mereka tidak hanya menguasai ilmu-ilmu duniawi, tapi juga ilmu-ilmu agama, ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ukhrawi. Menyinergikan ilmu umum dan agama Islam, itulah ciri khas kampus-kampus Muhammadiyah. Karenanya, keunikan tersebut harus terus kita pertahankan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Lincolin Arsyad (lincolin.arsyad)

Harapan untuk sektor UMKM

Lincolin Arsyad tidak hanya aktif di organisasi masyarakat (ormas) Islam Muhammadiyah. Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini juga berkhidmat sebagai dosen sekaligus pakar yang sangat mumpuni pada bidang ilmunya. Tokoh dari Lampung itu bahkan menjadi salah seorang guru besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM.

Mengamati kondisi bangsa akhir-akhir ini, profesor tersebut mengakui, pandemi telah berdampak besar terhadap ekonomi. Salah satu yang paling terimbas berat ialah sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Padahal, selama ini UMKM menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Karena itu, menurut dia, pemerintah harus mencarikan solusi yang terbaik untuk pengembangan UMKM. Misalnya, negara dapat turun tangan, membantu UMKM agar lebih efektif dan efisien dalam memanfaatkan teknologi informasi. Sebab, wabah Covid-19 menuntut setiap orang untuk menghindari tatap muka. Interaksi antara pengusaha UMKM dan pelanggan pun pada akhirnya termediasi oleh gawai (gadget).

“UMKM kita harapkan solusinya kepada pengembangan usaha-usaha yang kira-kira bisa berkembang dalam situasi seperti saat ini. Yang juga penting, agar mereka memahami teknologi informasi,” ujar Ketua Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah itu kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Ia memastikan, UMKM yang bisa memanfaatkan teknologi informasi di tengah pandemi cenderung bisa bertahan. Sebaliknya, UMKM yang tidak bisa memetik untung dari kecanggihan gawai, akan terasa lamban perkembangannya. “Ini memang jadi dilema bagi kita dan terasa bagi usaha-usaha kecil dan menengah. Bahkan, banyak (usaha) yang besar-besar bangkrut itu sekarang karena disrupsi teknologi,” ucapnya.

Mantan ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta ini menjelaskan, pandemi Covid-19 memang sangat menggangu sektor ekonomi Indonesia. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan sempat turun drastis.

Di lingkup Persyarikatan sendiri, upaya-upaya untuk memulihkan Indonesia dari dampak wabah terus digencarkan. Nyaris semua lini ditekuni Muhammadiyah, mulai dari pendidikan, sosial, hingga ekonomi.

Untuk sektor pendidikan tinggi, sambungnya, perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) tersebar di seantero negeri. Hingga kini, ada sebanyak 163 PTMA, yang terdiri atas empat akademi Muhammadiyah, enam politeknik Muhammadiyah-‘Aisyiyah, 13 institut Muhammadiyah, 73 sekolah tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah, dan 64 universitas Muhammadiyah serta tiga universitas ‘Aisyiyah.


×