Seorang ibu memberikan vitamin A pada anaknya yang dibagikan oleh kader posyandu di Rorotan, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu. | ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
24 Jun 2021, 03:45 WIB

Pandemi Diperkirakan Pengaruhi Angka Stunting

BKKBN tetap mengingatkan agar posyandu di zona merah tidak dibuka terlebih dulu.

JAKARTA – Pandemi Covid-19 diprediksi bakal memengaruhi angka stunting di Indonesia. Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KS-PK) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Lalu Makripuddin menuturkan, pandemi bisa memengaruhi kondisi ekonomi, yang secara otomatis berdampak turunan pada masyarakat.

"Termasuk salah satu yang berpengaruh terhadap munculnya kelahiran bayi-bayi stunting," kata Lalu, ditemui di Kantor BKKBN, Rabu (23/6).

Angka stunting di Indonesia pada 2020 diperkirakan 27,6 persen. Namun, para pakar menghitung angka stunting tahun ini bisa mencapai 32 persen. Menurut Lalu, hal ini dipengaruhi pandemi cukup tinggi terhadap angka stunting di Indonesia.

Selain dari segi ekonomi, pandemi juga mempengaruhi kesehatan masyarakat. Covid-19 berhubungan pada kemampuan seseorang untuk bernapas, yang artinya mengganggu pasokan oksigen masuk ke dalam tubuh. Jika ibu hamil terpapar Covid-19, maka oksigen yang masuk ke tubuhnya akan terganggu.

Terkait

photo
Kader posyandu menimbang berat badan balita di Rorotan, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu. - (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

"Kita tahu salah satu yang dimakan oleh Covid-19 itu oksigen. Supply oksigen ke tubuh jadi sedikit. Tentu pengaruhnya ke tubuh kita. Kalau ibu hamil terpapar maka pemberian makanan kepada janin terhambat," kata Lalu.

Untuk mengendalikan angka stunting, Posyandu berperan salah satunya untuk memastikan gizi anak terjamin. Lebih lanjut, ia berharap tahun 2021 posyandu sudah mulai aktif.

Namun, BKKBN tetap mengingatkan agar Posyandu yang berada di zona merah tidak dibuka terlebih dulu. Sementara bagi Posyandu yang berada di zona kuning atau hijau, sudah bisa dijalankan.

Kendati sudah berjalan, kata Lalu, Posyandu di zona ini harus tetap menjalankan protokol kesehatan secara ketat. "Jadi petugas Posyandu membatasi berapa kira-kira yang bisa menjaga jarak sehingga pelayanan tidak hanya dilakukan satu kali," kata dia.

BKKBN berupaya melakukan pencegahan stunting dengan fokus pada tiga tahapan. Ketiganya adalah masa sebelum menikah, masa kehamilan, dan masa bayi lahir hingga usia dua tahun.

Direktur Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) BKKBN Eka Sulistia Ediningsih menjelaskan, yang ditekankan saat ini kepada masyarakat adalah mengubah pola pikir. Masyarakat harus menyadari bahwa kasus stunting masih menjadi masalah di Indonesia.

photo
Seorang kader Posyandu dengan membawa alat timbang berat badan digital menuju rumah warga di kawasan Rorotan, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu. - (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

"Membuat masyarakat sadar bahwa kasus stunting ini bisa terjadi pada siapa saja. Artinya tidak hanya yang punya balita atau yang sedang hamil. Pada dasarnya kita semua merupakan keluarga berisiko stunting," kata Eka.

Saat ini, BKKBN memiliki sekitar 1,2 juta kader di lapangan. Idealnya, mereka berada di kelurahan atau desa. Tugas para kader itu, kata Eka, akan sangat penting terutama di pulau terluar Indonesia. Tidak adanya sinyal internet perlu digantikan dengan para kader yang menjadi penyuluh KB kepada masyarakat secara langsung.

"Memang jumlahnya tidak cukup. Karena itu dilakukan bermitra dengan perangkat desa yang ada di sana. Stunting tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Maka, kita menggalang mitra sebanyak-banyaknya," ujar Eka. 


×