Pendukung Ebrahim Raisi mengibarkan bendera dalam kampanye di Teheran, Iran, Senin (14/6/2021). | AP/Ebrahim Noroozi
22 Jun 2021, 03:45 WIB

Iran Diperkirakan akan Tetap Garis Keras

Raisi diperkirakan melanjutkan upaya menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015.

DUBAI -- Kemenangan Ebrahim Raisi dalam pemilihan presiden Iran diperkirakan akan membuat negara itu tetap di jalur garis keras. Hal ini disampaikan pengamat politik Arab Saudi Abdulrahman Rashed dalam artikel yang dipublikasikan surat kabar milik pemerintah Arab Saudi Asharq al-Awsat.

Sejauh ini Arab Saudi masih bungkam dengan kemenangan garis keras dalam pemilihan presiden Iran. Tapi sebagian besar negara Arab Teluk, termasuk Uni Emirat Arab yang juga berselisih dengan Iran, sudah menyampaikan ucapan selamat pada Raisi yang merupakan sekutu pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

"Setelah Ebrahim Raisi menang kami tidak berharap ada perubahan penting dalam kebijakan luar negeri karena kekuasaan jatuh ke pemimpin tertinggi dan kesepakatan (nuklir) yang dinegosiasikan tim (presiden pejawat Hassan) Rouhani di Wina akan tetap berjalan," tulis Rashed, Senin (21/6).

Riyadh dan sekutu-sekutunya menentang perundingan tak langsung antara kekuataan-kekuataan besar dunia dan Iran. Khususnya mengenai kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang tidak turut membahas program nuklir Iran dan dukungan Teheran pada proksi di seluruh kawasan Timur Tengah.

Terkait

photo
Presiden Iran Ebrahim Raisi. - (AP/Vahid Salemi)

Pengamat mengatakan, perkembangan perundingan di Wina tergantung pada pembicaraan tak langsung antara Riyadh dan Teheran yang digelar pada April lalu. Pembicaraan tak langsung itu dilakukan untuk menahan ketegangan yang memanas karena serangan ke kilang minyak Arab Saudi pada 2019.

"Rekonsiliasi dengan Iran mungkin terjadi tapi dengan kerangka kerja politik yang pragmatis, bahasa moderasi dan setara satu-satunya bahasa yang dapat menahan Iran," tulis kolumnis Arab Saudi, Ali al-Kheshaiban dalam opininya di surat kabar Al Riyadh.

Pada April lalu, Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman mengatakan ingin memiliki hubungan baik dengan Teheran. Dia pun mengadopsi nada yang lebih hangat untuk menyeimbangkan antara permusuhan lama dan pertimbangan ekonomi serta menjembatani perbedaan dengan Washington mengenai bagaimana menghadapi perilaku Teheran di kawasan.

Terus berjalan

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borell mengatakan, terpilihnya Raisi tak akan menghentikan negosiasi untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015. Borell mengatakan, kesepakatan itu dapat membuat Timur Tengah lebih aman dan membawa penduduk Iran dalam situasi yang lebih baik.

photo
Pembangkit daya nuklir Bushehr di bagian selatan kota Bushehr, Iran. - ( AP Photo/Mehr News Agency, Majid Asgaripour)

"Kami telah menginvestasikan banyak modal politik, jadi saya berharap hasil pemilu tidak akan menjadi kendala terakhir yang akan merusak proses negosiasi. Sejauh yang saya tahu, ini tidak akan terjadi," ujar Borrell.

Iran dan enam kekuatan dunia yaitu AS, Rusia, Cina, Prancis, Inggris, dan Jerman mengadakan pembicaraan nuklir di Wina pada Ahad (21/6). Borrell, yang bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif di Turki pada Jumat mengatakan, tetap optimistis negosiasi nuklir akan terus berlanjut. Zarif mengatakan, pembicaraan nuklir telah mendekati kesepakatan sebelum Raisi terpilih menjadi presiden.

"Kami seharusnya meninggalkan kantor pada pertengahan Agustus dan saya pikir ada kemungkinan bagus kami dapat mencapai kesepakatan sebelum pertengahan Agustus. Saya berpikir (masalah yang tersisa) dapat diatasi," ujar Zarif.

Zarif menggambarkan Raisi sebagai orang yang masuk akal. Menurut Zarif, di bawah pemerintahan Raisi kebijakan luar negeri Iran yang berdasarkan konsensus akan terus berlanjut. Raisi mendukung pembicaraan nuklir sebagai upaya untuk membatalkan sanksi AS yang telah merugikan ekonomi Iran. 


×