Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika
21 Jun 2021, 12:52 WIB

Adab Menjadi Hamba Allah

Tugas seorang hamba Allah hanya memuji, mengagungkan, dan meninggikan-Nya.

 

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Alquran hadir dengan mukadimah yang luar biasa yaitu surah al-Fatihah. Inti diturunkannya Alquran adalah untuk membimbing manusia agar menjadi hamba Allah, “Wamaa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduni (Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menghambakan dirinya kepada-Ku).’’ QS adz-Dzariyat: 56).

Karena itu target utama Alquran adalah manusia. Dari pembukaan sampai penutupan tidak pernah lepas dari pembicaraan mengenai manusia. Kata “al alamiin” di pembukaan surah al-Fatihah maksudnya manusia.

Terkait

Demikian juga kata “an naas” di penutup Alquran adalah manusia. Di setiap surah ada panggilan berulang-ulang untuk manusia: “ya ayyuhan naas (wahai manusia), “ya ayyuhalladziina aamanuu (wahai orang-orang yang beriman)".

Nama-nama surah banyak sekali dari nama-nama manusia. Seperti nama-nama para nabi: surah Yusuf, Hud, Ibrahim, Muhammad dan sebagainya. Selain nama nabi juga ada nama Maryam dan Lukman.

Betapa tingginya derajat manusia di sisi Allah SWT. Bukti paling jelas, perintah-Nya terhadap para malaikat agar bersujud kepada Nabi Adam “usujuduu li aadam”. Artinya, di atas manusia langsung Allah SWT.

 
Betapa tingginya derajat manusia di sisi Allah SWT. Bukti paling jelas, perintah-Nya terhadap para malaikat agar bersujud kepada Nabi Adam.
 
 

Bahwa manusia tidak pantas menghambakan dirinya kepada makhluk, sebab tidak ada makhluk yang mengungguli-Nya. Dalam surah al-Fatihah kita diajarkan bagaimana menghambakan diri kepada Allah SWT.

Dari ayat satu “bismillah” sampai ayat empat “maaliki yaumiddin” adalah pujian kepada Allah. Bahwa tugas seorang hamba hanya memuji, mengagungkan dan meninggikan-Nya.

Dalam ayat “bismillah”, ada komitmen melibatkan Allah dalam segala urusan. Nabi SAW bersabda: "Semua urusan tanpa Bismillah akan terputus dari-Nya." (HR Ibn Hibban).

Ayat berikutnya “alhamdulillah”, komitmen untuk selalu memberikan pujian hanya kepada-Nya. “Arrahmanirrahim” yakni komitmen berprasangka baik kepada-Nya. Bahwa semua yang datang dari Allah adalah bukti kasih sayang-Nya. “Malikiyaumiddin” yakni komitmen menjadikan akhirat sebagai tujuan.

Setelah semua itu terbukti, baru mengucapkan ikrar kehambaan “iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’ien (hanya kapada-Mu aku menghamba dan hanya kapada-Mu aku memohon pertolongan)".

 
Pertama, tidak akan menghamba kecuali hanya kepada Allah. Kedua, tidak akan bergantung kecuali hanya kepada-Nya.
 
 

Dalam ikrar ini ada dua persaksian. Pertama, tidak akan menghamba kecuali hanya kepada Allah. Kedua, tidak akan bergantung kecuali hanya kepada-Nya. Untuk menguatkan ini harus didukung dengan doa: “ihdinash shraathal mustaqim (tunjukilah kami ke jalan yang lurus)".

Tidak cukup hanya dengan doa, lebih dari itu harus melakukan dua kewajiban. Pertama, mengikuti jejak orang-orang saleh “shirathalladziina an’amta alaihim” (yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat) seperti para nabi, para wali, para ulama, dan orang-orang saleh.

Kedua, tidak kompromi dengan orang-orang zalim dalam melakukan kerusakan “ghairil maghdhubi alaihim waldhd dhallin”.

 


×