Hikmah Republika Hari ini | Republika
18 Jun 2021, 03:30 WIB

Keajaiban Shalat

Setiap gerakan shalat dan bacaannya memiliki nilai filosofis yang sangat dalam.

 

OLEH ABDUL MUID BADRUN

Shalat merupakan ibadah wajib yang biasa dilakukan Muslim setiap harinya. Setiap gerakan dan bacaannya memiliki nilai filosofis yang sangat dalam. Karena sejatinya shalat adalah percakapan yang paling indah dan agung antara Tuhan dengan hamba.

Namun tak jarang kita melakukan rutinitas shalat ini tanpa memahami makna bacaan yang kita ucapkan. Akibatnya, shalat kita tidak memberikan dampak sama sekali dalam hidup.

Terkait

Banyak sekali ayat dan hadis yang memberikan penjelasan tentang kedahsyatan shalat, baik fardhu maupun sunah. Bahkan ada garansi dari Allah, ketika kita mampu menjalankan shalat secara khusyuk, kita akan menjadi manusia yang beruntung (QS al-Mu’minun: 1-2). Bukankah ini yang sebenarnya kita cari-cari selama 24 jam dalam sehari, 30 hari dalam sebulan, dan 365 hari dalam setahun?

Salah satu bacaan dalam shalat yang sering kita abaikan maknanya adalah doa saat duduk di antara dua sujud. Makna bacaan doa duduk di antara dua sujud, antara lain. Pertama, Rabbighfirlii, “Wahai Tuhan ampunilah dosaku.”

Dosa adalah beban berat yang wajib dikurangi, bahkan dibuang. Karena dosa, hati menjadi kotor, bahkan mati. Dosa pula yang menjadi sebab seorang hamba malas beribadah dan rezekinya seret.

Kedua, Warhamnii, “sayangilah diriku.” Tidak ada kasih sayang terindah di dunia ini selain kasih sayang Allah. Tidak pula kasih sayang manusia yang satu dengan yang lain, kasih sayang orang tua kepada anak, suami kepada istri, bahkan seseorang atas dirinya sendiri. Kasih sayang Allah jauh di atas segala kasih sayang.

Ketiga, Wajburnii, “tutuplah segala aibku.” Siapakah yang mampu menutup aib seseorang selain Allah? Bersyukur sebab meski aib kita banyaknya tak terkira, Allah telah menutupnya dari hadapan manusia. Bayangkan andai setiap aib yang dilakukan manusia itu Allah tampakkan?

Keempat, Warfa’nii, “tinggikanlah derajatku.” Siapakah yang mampu meninggikan derajat seorang hamba beriman kalau bukan Allah SWT? Apa yang terjadi jika manusia tidak punya derajat? Atau jika derajatnya sama dengan binatang?

Kelima, Warzuqnii, “berikanlah aku rezeki.” Jangankan makhluk bernama manusia, semut hitam kecil pun diberi rezeki oleh Allah (QS Hud: 6). Apalagi manusia yang Ia ciptakan sebagai wakil-Nya di muka bumi ini.

Keenam, Wahdini, “berikanlah aku petunjuk ke jalan kebahagiaan.” Petunjuk adalah hal terpenting dalam hidup seorang hamba. Kita tidak hanya minta petunjuk yang berkaitan dengan akhirat, tapi juga minta petunjuk agar terhindar dari mengambil keputusan yang salah untuk kebahagiaan di dunia.

Ketujuh, Wa’aafinii, “berikanlah aku kesehatan.” Bila seorang Muslim itu sehat fisik dan imannya, ia bisa memberi dan menambah kemaslahatan bagi sesama. Demikian sebaliknya.

Kedelapan, Wa’fuannii, “maafkan segala kesalahanku.” Allah SWT Mahapemaaf kepada setiap hamba-Nya. Manusia itu tempatnya salah dan lupa, maka kita membutuhkan ampunan-Nya.

Kedelapan kekuatan doa ini akan berubah menjadi keajaiban hidup, tidak hanya soal kecukupan materi saja, tapi ketenangan hidup lahir dan batin. Syaratnya? Kita mampu melakukannya dengan rendah hati dan suara yang lembut (QS al-A’raf: 55).

Wallahu a’lam.


×