Film The Furnace merupakan kolaborasi antara pegiat film Indonesia dan Australia | Youtube

Geni

17 Jun 2021, 10:12 WIB

Menikmati Pesona Sinema Australia

FSAI hendak menyoroti kedekatan hubungan Australia-Indonesia dalam perfilman. 

OLEH RAHMA SULISTYA

Pemutaran perdana film The Furnace di Tanah Air menjadi penanda dimulainya Festival Sinema Australia (FSAI) 2021. Ini pertama kalinya FSAI digelar secara virtual, sejak diadakan enam tahun lalu.

Festival ini memberikan kesempatan kepada penikmat film di Indonesia untuk mengakses film bioskop kelas atas Australia dan Indonesia secara gratis. Ada beragam genre film yang akan diputar pada 18-27 Juni 2021. Film-film yang telah dikurasi tersebut merupakan perayaan cerita yang menyoroti sejarah, keragaman, dan kreativitas Australia dan Indonesia.

Selain film The Furnace, ada juga Jaimen Hudson: From Sky to Sea yang menampilkan banyak pemandangan menakjubkan pantai Barat Daya Australia. Ini merupakan film dokumenter inspiratif yang menceritakan perjalanan eksplorasi fotografis pria yang berasal dari Esperance, Australia, bernama Jaimen Hudson, tentang lautan jernih Australia.

FSAI hendak menyoroti kedekatan hubungan Australia dan Indonesia dalam perfilman. Jajaran film tahun ini menampilkan film-film terkemuka alumni Australia Indonesia, termasuk saga seni bela diri terkenal Pendekar Tongkat Emas dan komedi romantis Milly & Mamet.

Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Allaster Cox, sangat senang program penting ini dapat terus berlanjut meski di tengah pandemi Covid-19. “Pada tahun ini, penonton bisa memperoleh berbagai wawasan nyata tentang keterampilan seni pembuatan film di seminar masterclass profesional kami,” kata Cox dalam peluncuran virtual FSAI 2021, Jumat (4/6).

Penonton juga bisa melibatkan energi kreatif mereka di salah satu dari tiga acara seminar masterclass virtual, meliputi animasi, promosi film, serta sinematografi dokumenter dan drone. Sahabat FSAI 2021 sekaligus alumni Australia, Marissa Anita, akan bergabung dengan berbagai pakar film Australia untuk menampilkan sesi langsung dan interaktif ini.

Marissa berakting di film berjudul No Woman, film tentang siswa 16 milimeter dari Sydney Film School yang disutradarai oleh calon suaminya sendiri. “Ketika kembali ke Indonesia, saya teruskan kecintaan saya terhadap seni peran hingga sekarang,” ujar Marissa.

Sementara itu, film The Furnace bercerita tentang pahlawan tak lazim yang mampu mengendalikan pencurian yellow stone atau emas pada era 1897 di wilayah Australia Barat. Kala itu, membawa benda berharga yellow stone menjadi perjuangan tersendiri. 

Semua manusia dilanda demam emas sehingga siapa pun yang membawa emas akan mejadi incaran pencurian. Sang sutradara, Roderick MacKay, menyoroti sifat manusia yang serakah.

 
Semua manusia dilanda demam emas sehingga siapa pun yang membawa emas akan mejadi incaran pencurian.
 
 

Banyak dari mereka juga mencari identitas diri di tanah yang baru mereka temui. Salah satunya Hanif yang diperankan oleh Ahmed Malek. Dia menjadi seorang penunggang unta dari Afghanistan.

Dia melarikan diri dari kehidupannya yang keras, hingga berada di tengah gurun wilayah Australia Barat. Hanif bekerja sama dengan penduduk lokal misterius bernama Mal yang diperankan David Wenham. 

Mal sedang dalam pelariannya dengan mengantongi dua batang emas bertanda mahkota masing-masing seberat 11,3 kilogram.

Mal bertemu Hanif ketika kondisinya terbakar matahari dan terluka parah usai mencuri emas. Karena kondisinya itu, Mal sangat membutuhkan Hanif untuk mencapai satu lokasi yang disebut tempat pencucian emas. Di sana, emas curian bisa dilebur dan diubah menjadi emas yang tidak bisa dilacak.

Mereka harus mengecoh sersan polisi dan pasukannya dalam perlombaan untuk mencapai tempat pencucian emas. Jika menonton film ini, akan terasa suasana menegangkan berada dalam keheningan di tengah-tengah gurun, lalu harus menghadapi Suku Aborigin.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Roderick MacKay (rhiodhryk)

Film ini menyinari sejarah terlupakan para penunggang unta 'Ghan' Australia yang sebagian besar adalah pria Muslim dan Sikh dari India, Afghanistan, dan Persia. Mereka melintasi pedalaman gurun yang luas, sehingga sampai membentuk ikatan unik dengan orang-orang Aborigin setempat.

Hanif tampak sebagai pusat moral yang jauh lebih muda dari latar film tersebut. Dia memiliki sifat berempati dan cerdas.

Hal itu bisa dilihat dari salah satu percakapan Hanif dengan Mal. “... di sana kecuali untuk kasih karunia Tuhan,” kata Hanif yang disambut bantahan Mal, “Tidak ada kasih atau karunia Tuhan di sini, Nak. Yang ada hanya tanah dan semua rampasannya."

Sebenarnya, film ini cukup berbahaya, seolah sang sutradara MacKay memperlihatkan aspek gelap jiwa orang Australia. Dia menyoroti berbagai jenis rasisme dan menimbulkan pertanyaan, sebenarnya bagaimana indentitas nasional orang Australia serta bagaimana mereka memperlakukan kaum minoritas.


×