Pekerja menunjukkan aplikasi mobile banking Mega Syariah saat pre-launching di Jakarta, Senin (12/4). | Tahta Aidilla/Republika
17 Jun 2021, 04:40 WIB

Asbisindo: Digitalisasi Perkuat Daya Saing Bank Syariah

Karakter pasar Muslim kini juga mendorong pengembangan bank syariah yang lebih masif.

JAKARTA -- Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) menilai, perbankan syariah nasional kini sudah mampu memenuhi kebutuhan nasabah terutama dari kelompok milenial. Sekretaris Jenderal Asbisindo Herwin Bustaman mengatakan, arah pengembangan bank syariah semakin terdigitalisasi dan bisa bersaing dengan konvensional.

"Digitalisasi ini membuat kita bisa bersaing, tidak perlu lagi banyak membuat cabang tapi tetap bisa menggaet pasar," kata Herwin dalam webinar yang digelar Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Rabu (16/6).

 

 
Sekarang dengan digital keterjangkauan pasar menjadi lebih luas.
HERWIN BUSTAMAN, Sekjen Asbisindo
 

 

Terkait

Herwin mengatakan bank syariah kini punya pelayanan yang baik dan tidak kalah dengan bank konvensional. Ini merupakan buah dari perubahan strategi menyesuaikan dengan potensi pasar milenial yang punya karakter unik.

Lanskap bisnis bank syariah kini telah berubah dengan adanya inovasi di sisi teknologi. Adaptasi dan adopsi digital tersebut menjadi sebuah keharusan untuk terus bertahan. Herwin mengatakan, digitalisasi juga menjadi jawaban atas kendala daya saing yang selama ini dihadapi.

"Dulu kita harus mengerahkan sumber daya yang besar untuk ekspansi cabang. Sekarang dengan digital keterjangkauan pasar menjadi lebih luas," katanya.

photo
Nasabah antre melakukan migrasi rekening di Bank Syariah Indonesia (BSI) di Banda Aceh, Aceh, Senin (7/6). - (ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA)

Perubahan karakter pasar yang mayoritas milenial juga membuat bank harus selalu dekat dengan nasabahnya. Pembuatan produk-produk baru harus disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Direktur Bank Permata Syariah itu mengatakan, karakter pasar Muslim kini juga mendorong pengembangan bank syariah yang lebih masif. Pasalnya, milenial punya kecenderungan lebih taat secara spiritual, mementingkan aksi sosial, dan safe security. Di sisi lain, milenial juga cakap secara teknologi dan menggunakannya sebagai sarana aktualisasi diri.

"Bank syariah harus benar-benar memahami kebutuhan nasabahnya, tepat menggunakan sarana distribusi, dan punya keunikan agar bisa menggaet pasar Muslim milenial," kata Herwin.

Dengan literasi yang lebih baik, Asbisindo optimistis pasar milenial akan meramaikan industri bank syariah yang saat ini penetrasinya masih enam persen. Menurut data OJK, jumlah outlet bank syariah kini menempati pangsa 7,9 persen terhadap perbankan konvensional.

Jumlah bank umum syariah saat ini sebanyak 14 bank dan bank konvensional sebanyak 89 bank. Jumlah outlet bank syariah yakni 2.426 outlet di seluruh Indonesia sementara bank konvensional sebanyak 30.733 outlet. 

Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) optimistis keberadaan ekonomi syariah dapat menjadi salah satu pendorong pemulihan ekonomi nasional. Hal ini ditunjang oleh integrasi aspek komersial dan sosial yang diterapkan oleh bank syariah dan menjadi model dalam membangun ketahanan ekonomi berbasis ekosistem halal.

Kepala Ekonom BSI Banjaran Surya Indrastomo mencontohkan, perekonomian Aceh yang didukung dengan layanan perbankan syariah diperkirakan dapat tumbuh sampai 2,3 persen pada kuartal II 2021. Perbankan syariah di Aceh memiliki pangsa delapan persen terhadap total nilai industri perbankan syariah nasional.

"Stimulus pemerintah mulai dari PEN, relaksasi PPnBM, uang muka pembiayaan KPR nol persen, insentif pariwisata, serta relaksasi restrukturisasi nasabah terdampak Covid-19 menjadi driving factor pertumbuhan ekonomi di Aceh," ujar Banjaran.

Secara nasional, pertumbuhan ekonomi 2021 diperkirakan akan mendekati empat persen. Hal itu didukung oleh kebijakan fiskal countercyclical, meningkatnya mobilitas masyarakat, dan momentum Ramadhan serta Idul Fitri.


×