Ilustrasi tenaga kesehatan menangani pasien Covid-19 | Wihdan Hidayat / Republika
15 Jun 2021, 09:12 WIB

DKI Siapkan 2.500 Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19

Gubernur Anies minta warga tidak menganggap remeh tingginya lonjakan kasus Covid-19.

 JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, pihaknya menyiapkan penambahan 2.500 tempat tidur di Rumah Susun (Rusun) Nagrak, Cilincing, Jakarta Utara. Hal ini jika pasien rawat inap di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran terus bertambah.

Saat ini Pemprov DKI Jakarta masih memfokuskan RSDC Wisma Atlet Kemayoran sebagai fasilitas rawat inap pasien Covid-19. Namun, jika dibutuhkan penambahan, Rusun Nagrak siap digunakan.

"Apabila nanti dibutuhkan penambahan, kita sudah siapkan Rusun Nagrak untuk bisa digunakan, di sana ada lebih dari 2.500 tempat tidur yang bisa dipakai. Kita bergerak bertahap, saat ini konsentrasi masih tetap di Wisma Atlet," kata Anies saat ditemui di Kantor PMI DKI Jakarta, Senin (14/6).

Anies menekankan, warga DKI Jakarta tidak boleh menganggap enteng tingginya lonjakan pertambahan kasus Covid-19 di ibu kota. Sebagai penyintas Covid-19, Anies mengingatkan, kondisi tubuh setelah terpapar virus sangat tidak nyaman. Apalagi, jika memiliki penyakit bawaan yang mengakibatkan kondisi tubuh semakin menurun.

Terkait

"Saya pernah merasakan terkena Covid-19, sama sekali tidak nyaman dan apalagi kalau susah sampai kondisinya berat. Saya mengajak seluruh masyarakat sadari bahwa kita masih dalam kondisi pandemi," kata Anies.

Adapun untuk mendukung fasilitas isolasi pasien Covid-19 di Rusun Nagrak, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 memberikan bantuan 500 velbed. Penyaluran bantuan tempat tidur portabel tersebut dilakukan seiring dengan peningkatan kasus infeksi virus korona.

Rusun Nagrak memiliki 14 tower yang terbagi dalam tiga klaster. Masing-masing tower memiliki 16 lantai dengan 225 unit tempat tinggal dengan dua kamar. Rumah susun itu bisa menampung hingga 2.550 orang.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Anies Baswedan (aniesbaswedan)

Di DKI Jakarta, terdapat beberapa klaster penularan Covid-19. Salah satunya di Kelurahan Cilangkap, Jakarta Timur yang disebabkan sebagian besar warga lalai dalam menerapkan protokol kesehatan.

"Saat ini tercatat naik lagi jadi 64 kasus Covid-19, padahal sebelumnya sempat 52 kasus karena masih banyak masyarakat yang lalai," kata Kartini, petugas Kelurahan CIlangkap yang juga anggota Satgas Covid-19.

Akibat tingginya kasus Covid-19 di Kelurahan Cilangkap membuat RT dan RW di kawasan tersebut memberlakukan karantina (lockdown) skala mikro seperti dilaksanakan di RT 03 dan RW 03. "Dari 64 kasus positif tersebut satu orang meninggal dunia," kata dia.

RT 03 dan RW 03 sempat mengalami lonjakan kasus Covid-19 mencapai 104 kasus setelah Lebaran. Kebanyakan kasus yang terjangkit, yaitu OTG (Orang Tanpa Gejala). Kartini menduga penyebab kenaikan kasus tersebut akibat lalainya masyarakat terhadap protokol kesehatan.

Setelah mengalami lonjakan kasus, kelurahan langsung menyelenggarakan tes usap massal dan melakukan vaksinasi di RT 03 RW 03 untuk mencegah meluasnya penularan. Kartini menyampaikan seluruh warga RT 03 dan RW 03 Cilangkap sudah melakukan "swab" massal dan juga vaksin.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Namun, untuk sebagian warga terutama lansia enggan untuk divaksinasi salah satunya karena mereka yang mempunyai gejala penyakit tertentu yang pada akhirnya tidak jadi melakukan vaksinasi.

Dalam upaya mencegah virus Covid-19, Kelurahan Cilangkap melakukan disinsifektan rutin terhadap rumah-rumah yang terjangkit Covid-19 serta mengadakan program lingkungan (proling) berkolaborasi dengan pengurus RT dan RW untuk mengimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan serta menempelkan stiker peringatan atau pencegahan Covid-19.

Kartini berharap agar seluruh masyarakat tetap menjaga protokol kesehatan (prokes) terutama kepada masyarakat jangan menyepelekan adanya virus Covid-19. Jangan merasa virus ini tidak ada atau tidak berbahaya, mengingat nyatanya virus tersebut ada dan berbahaya.

Di Kota Bekasi, satu kampung di RT 02 RW 25, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria juga terpaksa dikarantina. Hal ini karena ada 47 warga yang positif Covid-19. Satu orang diketahui juga meninggal dunia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pemprov DKI Jakarta (dkijakarta)

Camat Medan Satria, Lia Erliani, mengatakan, meledaknya kasus Covid-19 di wilayahnya itu bermula dari acara arisan yang dihadiri 30 orang ibu-ibu ke Kabupaten Bekasi. "Pertama kali mereka arisan di restoran Kabupaten Bekasi. Sekitar 30-34 orang, pulang tanggal 29 Mei," kata Lia.

Selanjutnya, rombongan ibu-ibu dari RT yang sama pergi menghadiri undangan pernikahan di Rawamangun, Jakarta Timur. Dua hari usai acara, atau sekira 1 hingga 2 Juni, ada dua orang warga yang mengalami gejala Covid-19.

"Mereka secara mandiri jalani swab, dan setelah di-swab, mereka positif," ujar dia.

Dua orang warga itu kemudian melaporkan kepada RT setempat. Selanjutnya, pihak RT setempat menjalankan prosedur 3T (tracing, testing dan treatment). Sehingga, didapat 125 orang yang menjadi sampel kasus baru. "Akhirnya, didapatlah 47 sampai saat ini terkonfirmasi positif," ujar dia.


×