Ilustrasi teknologi IoT | Pixabay
14 Jun 2021, 19:08 WIB

Serba-serbi Pemanfaatan IoT

Ada banyak peran IoT yang dapat kita gunakan sehari-hari.

Teknologi internet of things (IoT) dapat berperan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Mulai dari, membantu sistem keamanan di lingkup tempat tinggal, membantu mengefisienkan perusahaan, mewujudkan kota pintar (smart city), hingga meminimalisir dampak perusakan lingkungan akibat perubahan iklim. 

Ketika akan memiliki perangkat IoT untuk mengawasi rumah, misalnya. Ada beberapa aspek penting yang harus menjadi perhatian. 

Mulai dari, harga yang pasti harus terjangkau, fitur, bagaimana video kompresinya, seberapa mumpuni kemampuan digital zoom-nya, atau bagaimana kemampuan perangkat mengenali objek yang dipantau. 

photo
Pemanfaatan IoT untuk sistem pengawasan - (Dok Imou)

Regional Head of Imou South Pacific, Siti Li mengungkapkan, ke depan tren kamera pengawas adalah yang bisa integrasi dengan perangkat smart home yang dilengkapi dengan smart feature, seperti AI Human Detection dan memiliki video kompresi H.265. “Dimana perangkat juga bisa hemat bandwith dan storage sampai dengan 50 persen,” katanya.

Terkait

Menurutnya, Imou Cue 2 sebagai contoh bagus bagaimana teknologi kemera pengawas terkini yang memiliki visi yang jauh ke depan dalam memenuhi kebutuhan kamera pengawas. Perangkat ini, selain memiliki fitur AI Human Detection, juga memiliki fitur video kompresi H. 265, dengan digital zoom 16 kali dan angle hingga 131 derajat.

Untuk semakin meningkatkan kemampuan, perangkat ini  juga sudah dilengkapi dengan built-in siren, abnormal sound slarm, night vision, two-way talk, dan sistem komputasi awan. Sehingga  Imou Cue 2 memungkinkan pengguna berkomunikasi dua arah, seperti bicara dengan anak anak di rumah saat orang tua sedang tak berada di rumah.

Misi Penyelamatan Lingkungan 

 

photo
Sensor IoT di area konservasi Taman Nasional Mangrove Park, Bontang. - (Dok Microsoft)

Tingginya masalah perubahan iklim dunia, termasuk Indonesia, membutuhkan aksi nyata bersama dalam penyelesaiannya. Sebagai sebuah perusahaan rintisan Indonesia yang menyediakan solusi berbasis AI dan IoT, Jejak.in yang juga merupakan “Partner for Social Impact 2020” Microsoft, hadir untuk membantu mendemokratisasi pengimbangan karbon (carbon offset). 

CEO dan pendiri Jejak.in, Arfan Arlanda menjelaskan, Indonesia, dengan sekitar 120 juta hektar lahan hutannya, berpotensi menghasilkan 28 miliar ton kredit karbon per tahun. “Ini menjadi kesempatan yang baik bagi Indonesia untuk menjadi pemimpin di bidang ekonomi hijau yang berkelanjutan,“ ujarnya. 

Menurut Arfan, pada era di mana kita semua dapat berkolaborasi secara positif melalui teknologi, Jejak.in memanfaatkan peluang ini untuk mengajak siapa saja – baik perorangan maupun organisasi dan perusahaan, untuk terlibat dalam pengimbangan karbon. Partisipasi ini dapat dilakukan sesederhana dengan menghitung jumlah jejak karbon yang kita hasilkan dari aktivitas sehari-hari, dan mengimbanginya dengan mengadopsi pohon serta kredit karbon. 

“Di Jejak.in, kami menghadirkan kalkulator karbon dan carbon offset marketplace untuk memungkinkan partisipasi tersebut dari mana saja dan kapan saja. Yang setiap orang butuhkan hanyalah device,” lanjutnya.

photo
Sensor infiltrasi air di area konservasi Mangrove Pesisir Bendono. - (Dok Microsoft)

Sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi karbon hingga 29 persen pada 2030 mendatang, Jejak.in didukung dengan cloud platform Microsoft Azure, berkolaborasi dengan sejumlah organisasi seperti MRT Jakarta, Gojek, dan One Tree Planted, untuk mempermudah masyarakat dalam berpartisipasi untuk pengimbangan karbon melalui solusi berbasis teknologi. 

Kolaborasi dengan MRT Jakarta akan menambahkan kalkulator karbon ke dalam aplikasi MRT-J mobile. Fitur ini memungkinkan pengguna MRT-J untuk menghitung jejak karbon yang mereka hasilkan dari setiap perjalanan antar stasiun bersama MRT-J. 

Tidak hanya itu, fitur ini juga mampu memberikan perkiraan terkait berapa banyak kredit karbon yang pengguna butuhkan untuk mengimbangi emisi karbon yang telah dihasilkan. 

Jejak.in juga berkolaborasi dengan Gojek dalam meluncurkan fitur GoGreener Carbon Offset pada September 2020 lalu. Fitur ini membantu pengguna Gojek untuk menghitung jejak karbon dari penggunaan layanan Gojek mereka. 

Setelahnya, pengguna Gojek dapat mengimbangi jejak karbon tersebut dengan menanam atau mengadopsi pohon di berbagai daerah di Indonesia, seperti di Kawasan Ekowisata Mangrove Pantai Indah Kapuk (Jakarta), Konservasi Mangrove Pesisir Bedono (Demak, Jawa Tengah), dan Konservasi Laskar Taman Nasional Mangrove Park Bontang (Kalimantan Timur). 

Setiap pohon yang ditanam atau diadopsi akan dipantau dan dilaporkan pertumbuhannya oleh LindungiHutan sebagai mitra konservasi fitur ini. Pada tahap awal, kerja sama ini sukses menghasilkan 723 kilo gram pengimbangan karbon yang setara dengan menyelamatkan 23,35 meter persegi wilayah di Kutub Utara. 

 
Saat ini, kita semua dapat berkolaborasi secara positif melalui teknologi.
ARFAN ARLANDA, CEO Jejak.in
 
 

 

 


×