Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate (kanan) didampingi Direktur Utama Telkomsel Setyanto Hantoro (tengah) dan Komisaris Utama Telkomsel Wishnutama Kusubandio (kiri) dan jajaran Komisaris serta Direksi Telkom Group dan Telkomsel | ANTARA FOTO/ Reno Esnir
14 Jun 2021, 18:32 WIB

Geliat 5G di Depan Mata

Lima juta pengguna smartphone di Indonesia akan beralih ke 5G dalam dua tahun pertama pascajaringan tersedia.

Era digitalisasi semakin meningkat sejak adanya pandemi. Menurut laporan e-Conomy Southeast Asia 2020 yang dikeluarkan Google bersama Temasek dan Bain & Company, ada 37 persen konsumen digital baru dari total konsumen layanan dari agregat Asia Tenggara, di Indonesia.

“Ini contohnya banyak. Misalnya, memesan makanan online atau jual beli online,” kata Senior Account Manager Google Indonesia Stephanie Elizabeth dalam acara virtual Realme 5G Summit Indonesia, pekan lalu.

Di Indonesia, 93 persen dari konsumen digital baru, diperkirakan akan terus menggunakan setidaknya satu layanan digital pasca-Covid-19. Hal ini karena mereka sudah akrab dengan internet dan teknologi, sehingga mereka masih mau terus menggunakan teknologi untuk kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, Stephanie mengungkapkan rata-rata jam yang dihabiskan untuk berada di dunia daring, per hari berdasarkan penggunaan pribadi di Indonesia, juga semakin meningkat. Sebelum pandemi, rata-rata jam yang dihabiskan online per hari adalah 3,6 jam.

Terkait

Akan ttetapi, selama pandemi ada peningkatan cukup signifikan, yakni 4,7 jam. “Ini karena semua orang mesti stay at home, working from home, school from home. Jadi pasti average hour online itu juga semakin meningkat,” ujarnya.

Setelah puncak pandemi, rata-rata jam yang dihabiskan untuk ada di jagat maya per hari adalah 4,3 jam. Jumlah rata-rata ini pun masih lebih tinggi, dibandingkan masa sebelum pandemi.

photo
Perangkat yang dapat menikmati layanan 5G dari Telkomsel (ilustrasi) - (Dok Telkomsel )

Dari wawasan tersebut, kata Stephanie, kesimpulannya adalah Indonesia berada di era digitalisasi dan pandemi menjadi salah satu pemicunya. “Kalau kita lihat insight ini sangat cocok dengan hadirnya 5G di Indonesia,” katanya.

Operator telekomunikasi juga terus memperbesar jangkauan teknologi mereka dan bersiap meluncurkan 5G di Indonesia. Dari data yang disampaikan Google Trends, masyarakat Indonesia sebenarnya sudah mulai mencari handphone 5G sejak 2018. “Jadi mereka sudah mulai aware. Tapi, kalau kita lihat peak-nya itu memang ada di Mei 2021 dan ini berbarengan dengan officially launchnya 5G di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Realme meyakini teknologi 5G di Indonesia akan menjadi bagian penting dalam mendorong terciptanya ekosistem gaya hidup pintar anak muda. Marketing Director Realme Indonesia Palson Yi mengungkapkan, Realme menargetkan satu juta pengguna 5G di Indonesia di akhir 2021.

Realme yakin target ini mampu tercapai mengingat keberhasilan mereka dalam 2,5 tahun yang mampu melampaui target pengguna 4G secara global. Di Indonesia, Realme juga telah berhasil mencapai 10 juta pengguna hingga tahun 2021.

Selain itu, Realme juga akan menghadirkan ponsel yang memiliki prosesor Dimensity 700 5G untuk membawa pengalaman 5G dalam jangkauan mid-range. Termasuk juga, membangun 150 experience store dengan 5G spots hingga akhir tahun ini.

Siap Berpindah Jaringan

photo
Industri robotik yang akan berkembang pesat di era 5G - (Setyanavidita Livikacansera/Republika)

Laporan baru Ericsson ConsumerLab yang mewakili 1,3 miliar pengguna smartphone di seluruh dunia, termasuk 220 juta pelanggan 5G menunjukkan, pengguna smartphone 5G-ready di Indonesia meyakini teknologi generasi kelima ini akan 10 kali lebih cepat daripada 4G.

Dengan kecepatan lebih tinggi, latensi yang sangat rendah, dan jangkauan luas, 5G dianggap akan menjadi pendorong transformasi untuk bisnis dan berperan penting dalam mendukung agenda pemerintah menuju transformasi digital 4.0.

Dalam laporan berjudul “Five Ways to a Better 5G” tersebut juga mengidentifikasi manfaat 5G terhadap pengguna smartphone di seluruh dunia. Pada 2025, konsumen di Indonesia diperkirakan akan menghabiskan 7,5-8 jam per minggu menggunakan aplikasi augmented reality (AR) dan cloud gaming.

Temuan Ericsson juga menyebutkan, konsumen di Indonesia bersedia membayar 50 persen lebih banyak untuk paket 5G yang dilengkapi dengan beragam layanan digital. Saat ini, 19 persen konsumen yang disurvei, juga sudah memiliki smartphone yang mendukung 5G.

Diperkirakan, sekitar lima juta pengguna smartphone di Indonesia akan beralih ke 5G dalam dua tahun pertama setelah jaringan 5G tersedia. Dengan beralih ke 5G, para penyedia layanan komunikasi pun memiliki keuntungan yang membuat mereka unggul di market lokal.

Country Head Ericsson Indonesia, Jerry Soper menjelaskan, 5G akan mengubah cara masyarakat berinteraksi, fungsi masyarakat, dan kinerja bisnis. Termasuk, memacu ekspansi ekonomi secara masif.

Menurutnya, Ericsson, sebagai pemimpin industri teknologi informasi dan komunikasi, memiliki hampir 140 perjanjian komersial 5G, 86 5G live network di seluruh dunia, dan 57 ribu paten global. "Kami berharap dapat terus memberikan pengalaman 5G bagi konsumen Indonesia dan mendukung agenda pemerintah menuju transformasi digital dan aplikasi Industri 4.0," ujar Jerry.

Keseluruhan manfaat dari 5G pun hanya dapat diraih dengan adanya ekosistem yang kokoh. Ketersediaan spektrum, disebut Jerry, menjadi kunci penyerapan teknologi secara cepat.

Ketersediaan spektrum yang memadai juga akan mempercepat perjalanan transformasi digital Indonesia. Sehingga akan mendorong pertumbuhan ekonomi, dan membuka potensi penuh Revolusi Industri 4.0.

Terus Menambah Jangkauan

photo
Peluncuran layanan komersialisasi layanan 5G Telkomsel. - (Dok Telkomsel )

Melanjutkan kehadiran di Jakarta, Medan, Surakarta, dan Balikpapan, Telkomsel terus mengakselerasi pengembangan ekosistem 5G dengan meluncurkan layanan 5G di lima kota lainnya, yakni Surabaya, Makassar, Bandung, Batam, dan Denpasar, pekan lalu. Keberlanjutan perluasan layanan 5G secara bertahap ini sekaligus mendorong penguatan ekosistem digital lintas sektor.

Direktur Network Telkomsel Nugroho mengungkapkan, hadirnya layanan Telkomsel 5G di lima kota ini menjadi wujud komitmen Telkomsel sebagai operator 5G pertama di Indonesia. "Komitmen kami selanjutnya adalah memastikan 5G tersedia untuk semua orang di Indonesia, baik untuk segmen konsumen, pemerintah, akademisi, maupun industri," ujarnya.

Menurut Nugroho, hadirnya jaringan Telkomsel 5G mampu meningkatkan kapabilitas digital nasional dengan memajukan sektor-sektor unggulan di kota-kota tersebut. Salah satunya, adalah sektor pariwisata dengan diversifikasi layanan dan jasa melalui optimalisasi teknologi digital.

Pada fase awal peluncuran di lima kota tambahan ini, layanan Telkomsel 5G telah tersedia di beberapa wilayah yang cakupannya akan terus diperluas bertahap. Untuk kota Batam, wilayah cakupan Telkomsel 5G meliputi area Grapari Batam Center.

Sedangkan di Makassar, cakupan jaringan 5G Telkomsel meliputi Grapari Pettarani Makassar. Kemudian di Surabaya, cakupan jaringan 5G Telkomsel meliputi Grapari Pemuda Surabaya.

Di Denpasar, jaringan Telkomsel 5G sudah tersedia di Grapari Renon Bali. Sedangkan untuk di Bandung, jaringan Telkomsel 5G hadir di Telkom University dan Institut Teknologi Bandung.

Kehadiran teknologi 5G dari Telkomsel di kedua kampus ternama ini ditujukan untuk mendukung riset yang dilakukan oleh para peneliti dalam mengembangkan pemanfaatan teknologi 5G yang tepat guna bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan komitmen Telkomsel dalam menghadirkan teknologi 5G yang tidak hanya untuk untuk mengakselerasi adopsi gaya hidup digital, namun juga mendorong transformasi Indonesia menuju kedaulatan dan kemandirian digital.

Rektor Telkom University Prof Dr Adiwijaya menjelaskan, saat ini Telkom University saat telah mengembangkan beberapa aplikasi dan inovasi hasil riset pemanfaatan teknologi 5G beserta ekosistemnya. Contohnya, adalah Telesthethoscope, sebuah stetoskop berbasis internet of things (IoT) yang memungkinkan  penyimpanan data rekam suara paru maupun jantung serta penggunaan dari jarak jauh.

Sehingga penggunaannya lebih aman di masa pandemi. Selain itu, ada pula Patriot-Net, yang merupakan sistem terintegrasi dalam upaya preventif dan pemulihan jaringan pascabencana.

Sistemnya hadir berupa peringatan dini memanfaatkan teknologi IoT dan pemulihan jaringan telekomunikasi menggunakan Mobile Cognitive Radio Base Station (MCRBS). Telkom University, kini juga memiliki Autonomous UVC Mobile Robot, robot otonom yang dapat melakukan sterilisasi ruang isolasi medis dengan sinar UVC dan Doctor Representative Robot (Doper) yang merupakan alat komunikasi antara dokter dan pasien Covid-19 dari jarak jauh dan memungkinkan pemantauan suhu dengan infrared. 

 

 
5G akan mengubah cara masyarakat berinteraksi, fungsi masyarakat, dan kinerja bisnis. Termasuk, memacu ekspansi ekonomi secara masif.
JERRY SOPER, Country Head Ericsson Indonesia.
 
 


×