Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir | Yasin Habibi/ Republika
14 Jun 2021, 05:59 WIB

Haedar: Jangan Sampai Pro-Israel dan Anti-Palestina

Mendukung Palestina berangkat dari memori sejarah tentang pahitnya penjajahan oleh Israel.

JAKARTA — Indonesia berperan penting dalam menjadikan kemerdekaan Palestina sebagai isu utama di tataran global. Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Haedar Nashir.

Guru besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu mengatakan, bagi warga Indonesia, dukungan terhadap Palestina tidak sekadar mengamalkan konstitusi. Sikap tersebut juga berangkat dari memori sejarah tentang pahitnya penjajahan. Ia pun mewanti-wanti semua kalangan, khususnya para elite politik, agar tidak bersimpati kepada Israel.

“Warga bangsa Indonesia jangan terpecah soal Palestina, termasuk bagi mereka yang lupa sejarah. Boleh saja terbawa arus suasana politik primordial, tapi jangan sampai kemudian menjadi pro Israel dan anti-Palestina,” ujar Haedar Nashir dalam pengajian umum PP Muhammadiyah yang digelar secara daring, Jumat (11/6) malam.  

Bagi umat Islam, Haedar melanjutkan, isu Palestina berkaitan pula dengan aspek teologis. Sebab, di negara itu terdapat Yerusalem, tempat Masjid al-Aqsha berada, yang juga lokasi Isra Nabi Muhammad SAW.

Terkait

Pengamat politik internasional, Prof Imron Cotan, mengatakan, RI dapat menjalankan peran signifikan dengan menyatukan dua faksi Palestina, yakni Hamas dan Fatah. Untuk melawan penjajahan Israel, persatuan keduanya merupakan keniscayaan.

Di samping itu, ia menampik pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel sebagai jalan menuju perdamaian. Sebab, banyak negara yang sudah membuka hubungan demikian, tetapi akhirnya tidak berperan penting dalam menyudahi penjajahan atas Palestina. Apalagi, yang diinginkan Israel hanyalah solusi satu negara.

“Ada yang mengatakan, kita harus membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Diiming-imingi dengan investasi. Saya teliti, itu hanya khayalan belaka. Mesir dan Turki ketika membuka hubungan dengan Israel (diimingi) akan diberi peran penyelesaian Israel-Palestina, tetapi kenyataannya tidak juga,” ujar mantan duta besar RI untuk Australia (2003-2005) dan Cina (2010-2013) itu.

Ketua Lazis Muhammadiyah Pusat Prof Hilman Latief mengingatkan, masyarakat Indonesia terus menaruh kepedulian terhadap penderitaan rakyat Palestina. Organisasi-organisasi masyarakat Islam diharapkan berperan lebih dari penghimpun dan penyalur bantuan kemanusiaan.

“Tantangan untuk ormas Islam ialah dialog intensif mungkin bisa dilakukan. Ada ruang untuk peace talks, humanitarian yang lebih terintegrasi, atau soft diplomacy. Kira-kira, Muhammadiyah bisakah memulai itu, sedikit-sedikit dengan peace talks, humaniter dan akhirnya bisa berdialog dengan berbagai pihak?” ujar dia.


×