Christian Eriksen. Ketegangan begitu terasa ketika pemain mengerubungi Christian Eriksen yang tiba-tiba tumbang. | GETTY POOL/Stuart Franklin / POOL
14 Jun 2021, 07:55 WIB

Belajar dari Kolapsnya Christian Eriksen

Ketegangan begitu terasa ketika pemain mengerubungi Christian Eriksen yang tiba-tiba tumbang.

OLEH MUHAMMAD IKHWANUDDIN

Menyaksikan pertandingan atau sekadar tayangan ulang Grup B Euro 2020 antara Denmark melawan Finlandia dapat membuat perasaaan campur aduk. Terkejut, sedih, dan waswas bergabung menjadi satu. 

Ketegangan begitu terasa ketika pemain dari kedua kubu mengerubungi gelandang Denmark, Christian Eriksen, yang tiba-tiba tumbang di tengah laga. Ia tergeletak tak sadarkan diri. 

Selang beberapa detik, Anthony Taylor selaku wasit pertandingan langsung menyuruh tim medis berlari cepat memeriksa Eriksen. Sejurus kemudian, pemain Denmark membentuk formasi lingkaran untuk melindungi kompatriotnya sekaligus menjaga fokus paramedis. 

Terkait

Seseorang dari kerumunan penonton juga memberikan bendera Finlandia untuk melindungi pemain Denmark dan tim medis. Sepercik kemanusiaan terlihat dari momen ini. 

Eriksen berhasil kembali sadar setelah denyut nadi dan jantungnya sempat berhenti. Ia dilarikan ke rumah sakit dekat stadion Parken, Copenhagen, Denmark. Kondisinya berangsur pulih dan bisa kembali berkomunikasi. 

Pemeriksaan awal dokter menyebut, gelandang berusia 29 tahun itu mengalami cardiac arrest atau henti jantung. Publik mungkin lebih mengenal dengan serangan jantung. Faktanya, dua hal itu berbeda meski sama-sama berdampak fatal. 

Ahli jantung dari rumah sakit Norfolk dan Norwich, dr Richard Till, menyebut, cardiac arrest dapat disebabkan oleh otot jantung yang menebal sehingga pemompaan darah berhenti mendadak. Dalam beberapa kasus, darah akan tertahan di otak sehingga membuat seseorang hilang kesadaran. 

Ini berbeda dengan serangan jantung yang banyak disebabkan oleh terhentinya aliran darah akibat tersumbat lemak. Menurut Richard, cardiac arrest terbilang peristiwa yang langka dalam lingkup medis. Meski demikian, ia menyebut, risiko henti jantung tidak bisa dianggap sepele dalam dunia olahraga.

Penggemar sepak bola nasional mungkin belum lupa dengan kejadian yang menimpa seniman Benyamin Sueb dan legenda timnas Indonesia, Ricky Yakobi. Keduanya meninggal akibat serangan jantung saat bermain sepak bola. Mungkin bukan cardiac arrest yang menyebabkan mereka wafat. Tapi, peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa persoalan jantung bisa menyasar siapa pun dan kapan pun. 

Jika sudah mengetahui betapa mematikannya masalah jantung dalam olahraga, terutama cardiac arrest, apakah ada cara untuk mengantisipasi jika hal ini terjadi di sekitar kita?

Jawabannya, ada. Kembali ke dr Richard, ia menyatakan, Eriksen dapat selamat karena metode cardio pulmonary resuscitation atau CPR. Tindakan ini adalah pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas atau detak jantung. Fungsinya adalah membuka kembali saluran pernapasan yang menyempit dengan teknik pemijatan atau penekanan pada bagian dada. 

Dengan metode CPR yang tepat, risiko kematian dapat turun drastis. Selain terbukti pada Eriksen, teknik CPR juga menyelamatkan nyawa pemain Bolton Wanderers, Fabrice Muamba, yang sempat kolaps saat bertanding melawan Tottenham Hotspur, Maret 2012 lalu. Jantungnya bahkan sempat berhenti berdetak selama 78 menit. 

Teknik CPR mungkin terlalu rumit untuk orang awam. Akan tetapi, masih ada cara lain yang bisa menyelamatkan nyawa manusia dengan cara yang lebih sederhana, yakni memastikan lidah seseorang yang hilang kesadaran agar tidak tertelan. 

Frasa "menelan lidah" sebenarnya hanyalah kiasan. Istilah ini sebetulnya adalah kondisi otot lidah yang lemas sehingga menutupi saluran tenggorokan ketika seseorang tidak sadar. 

Kapten timnas Denmark, Simon Kjaer, menjadi orang pertama yang memastikan lidah Eriksen tidak menutup pernapasan. Siapa pun bisa mengatasi ini, caranya dengan teknik head tilt-chin lift atau mengangkat dagu dan kepala korban seperti menengadah. Hal lain yang dapat dilakukan adalah memasukkan benda khusus untuk mendorong atau menarik lidah agar pernapasan tetap terbuka.

Hal ini butuh lebih banyak diketahui masyarakat agar tidak asal memberikan terapi pijat jempol atau memberi teh hangat untuk menyadarkan orang pingsan. Tim medis olahraga Indonesia juga perlu terus mengasah kemampuannya. 

Masih ingatkah peristiwa yang menimpa legenda Persela Lamongan, Choirul Huda, pada 2017 lalu? Sebelum hilang kesadaran, ia sempat membungkuk sambil memegang lehernya. Dalam video tayangan ulang, butuh waktu berapa menit hingga tim medis menghampiri korban?

Bagaimana cara tim medis membawa Huda dengan tandu? Mari berdoa untuk Eriksen, almarhum Benyamin Sueb, Ricky Yakobi, dan Choirul Huda.


×