Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika
13 Jun 2021, 04:55 WIB

Di Jakarta Masih Ada Kakus

Hingga kini, popularitas toilet mengalahkan kamar kecil, kakus, jamban.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Sebuah iklan menawarkan bangunan bekas Pekan Raya Ekonomi Internasional (PREI), 1954. Di antaranya menyebut, “Bangunan-bangunan kakus dari tegel dengan atap zink.”

Bangunan ini sebelumnya digunakan oleh Bagian Pameran. Ada pula dari Bagian Pasar Malam: Kakus-kakus dari bambu dengan atap zink. “Penawaran dilakukan dengan surat tertutup kepada PANITYA LIQUIDATIE PREI selambat-lambatnja hari Sabtu tanggal 9 Oktober 1954 djam 12 siang,” tulis iklan itu.

Kakus, disebut penulis Belanda Camil Hamans, sebagai kata pinjaman yang termasuk paling tua dari bahasa Belanda (kakhuis) ke bahasa Melayu. Di buku Handleiding tot de Kennis der Maleische Taal (1901), Dr JJ de Hollander menyebut kakus dengan sebutan jamban di Jawa. Di buku ini Hollander menyebut kakus dalam bahasa Belanda sebagai bestekamer.

Terkait

Prof van Ronkel menyebut, kakus di Maleis Woordenboek (edisi keempat, 1939) sebagai de WC dan retirade. Orang-orang Betawi di Tugu dan Batavia yang berbahasa Melayu-Portugis, di awal 1900 sudah menyebut kakus.

Handboek der Nederlandsche Taal karya Dr Jac van Ginneken yang terbit pada 1913 mencatat kakus sebagai bahasa Melayu-Portugis yang digunakan di Batavia dan Tugu yang diserap dari bahasa Belanda. Van Pernis menyebut kakus sebagai WC dalam kamus yang ia susun pada 1950, Wordenboek Bahasa Indonesia-Nederlands.

Penulis Belanda Wim Boevink bercerita pada 1990, di Sri Lanka, kakhuis diserap menjadi kakhusa dalam bahasa Sinhala. Sementara, Ginneken menyebut kakhuis diserap bahasa Sinhala menjadi kakoussi/kakkoussi.

 
Apakah kakus di Jawa didapat melalui Sri Lanka karena dulu banyak orang Jawa yang dibuang ke Sri Lanka?
 
 

Belanda berada di Sri Lanka sekitar 138 tahun sebelum akhirnya digantikan oleh Inggris pada 1796. Apakah kakus di Jawa didapat melalui Sri Lanka karena dulu banyak orang Jawa yang dibuang ke Sri Lanka? Pembuangan itu oleh orang Jawa dikenal sebagai diselong karena Sri Lanka dulu bernama Ceylon.

Pada dekade 1980-an kakus masih dipakai sebagai papan nama di sekolah, di penginapan, dan sebagainya, sebagai alternatif untuk penyebutan kamar kecil. Pada 1990-an wartawan Belanda Marianne Boissevain masih bisa menemukan kakus tertulis di pintu kamar kecil di penginapan-penginapan tua di Jawa.

Pada 2021 di Jakarta juga masih ditemukan kakus. Ada SMA yang mengirimkan foto papan nama bertuliskan kakus kepada Badan Bahasa untuk diikutkan lomba Wajah Bahasa Sekolah.

Bersekolah di kota kecil, sejak SD hingga SMA yang ada di sekolah saya adalah kamar kecil untuk menyebut kakus. Saya baru menemukan toilet ketika tinggal di Bandung sejak 1987.

Kata ini penggunaannya bersaing dengan WC umum yang banyak dibangun di berbagai tempat pada 1980-an. Termasuk pembangunan WC umum di terminal-terminal yang menjadi peluang usaha orang-orang Tasikmalaya.

 
Kata toilet penggunaannya bersaing dengan WC umum yang banyak dibangun di berbagai tempat pada 1980-an.
 
 

Pada 1988, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbit untuk pertama kali dan menyerap toilet dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Hingga kini, popularitas toilet mengalahkan kamar kecil, kakus, jamban.

Toilet di gedung-gedung mewah di Jalan Sudirman, Jakarta, atau toilet di mal-mal di berbagai kota tak bisa lagi disebut kamar kecil karena ukurannya yang mengalahkan rumah-rumah petak di Jakarta dan tentu saja mewah.

Pada 1983, sebanyak 15 orang Garut didatangkan ke pedalaman Kalimantan Selatan. Mereka diberi tugas menularkan pengalaman bersawah secara terasering di perbukitan. Juga, diminta bantuan membuat kakus untuk warga yang masih buang hajat di sungai. Mereka harus memotong ‘leher angsa’ tempat dudukan, sehingga warga tak perlu menyiram kakus setelah buang hajat.

 
Mulai paruh kedua dekade 1980-an, kencing di WC umum dikenai tarif Rp 100. Dengan Rp 100 pula, saya bisa mendapatkan teh botol.
 
 

Mulai paruh kedua dekade 1980-an, kencing di WC umum dikenai tarif Rp 100. Dengan Rp 100 pula, saya bisa mendapatkan teh botol yang dijual di kereta rel diesel (KRD). Untuk bisa minum teh botol, perlu uang Rp 100, membuangnya dalam bentuk air seni juga perlu uang Rp 100. Uang sebesar itu juga menjadi nilai tarif bus kota untuk pelajar di Jakarta.

Dua puluh tahun lalu, saat marak-maraknya pembangunan hotel di berbagai kota, saya membaca laporan wartawan yang menyebut wawancara dilakukan di restroom. Sebenarnya, wawancara dilakukan di lobi hotel, tetapi si wartawan melihat papan nama bertulis restroom.  

Di Amerika Serikat, restroom lebih populer daripada toilet. Di Washington DC, untuk memulai perjalanan ke beberapa negara bagian 16 tahun lalu, pemandu dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengingatkan penyebutan restroom jika ingin ke belakang.


×