Rasulullah SAW berwasiat mengenai amalan yang setara haji dan umrah. | Antara
13 Jun 2021, 03:03 WIB

Amalan Setara Haji

Rasulullah SAW berwasiat mengenai amalan yang setara haji dan umrah.

OLEH A SYALABY ICHSAN

 

"Bertakwalah pada Allah dengan berbuat baik pada ibumu. Jika engkau berbuat baik padanya, maka statusnya adalah seperti berhaji, berumrah dan berjihad.” (HR Ath-Thabrani).

Dua tahun berturut-turut jamaah haji Indonesia harus absen menjejakkan kaki di Tanah Suci. Faktor pandemi dan lambatnya kepastian dari Kerajaan Arab Saudi membuat pemerintah mengambil sikap untuk sekali lagi menunda pemberangkatan para calon jamaah haji.

Terkait

Bagi para calon jamaah yang sudah dalam jadwal pemberangkatan, tidak perlu kecewa. Haji adalah sebuah undangan yang datang dari Allah SWT kepada para hamba-Nya. 

Rasulullah SAW pernah menunda ibadah umrah kafilah sejumlah 1.400 orang karena dihalangi oleh kaum Musyrikin. Penundaan tersebut merupakan hasil kompromi dalam Perjanjian Hudaibiyah. Sejarah pun mencatat, Rasulullah SAW baru melakukan ibadah umrah pada tahun ketujuh hijriyah. Beliau melaksanakan umratul qadha atau umrah pengganti dengan kaum Muslimin selama tiga hari di Masjidil Haram.

photo
Warga menunjukan Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH) di Kantor Kemenag Kota Serang, Banten, Selasa (8/6/2021). Menurut petugas meski pemerintah telah mengumumkan pembatalan pemberangkatan haji tahun ini, minat warga untuk mendaftar haji tetap tinggi dengan kuota antrean hingga 24 tahun ke depan. - (ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMAN)

Bagaimana dengan haji? Rasulullah SAW baru dapat melakukan ibadah haji pada tahun ke-10 hijriyah meski setelah fathu Makkah, keinginan itu sudah ada. 

Pada tahun ke-9 Hijriyah, sekembalinya Rasulullah dan pasukan kaum Muslimin dari Madinah usai peperangan Tabuk, Nabi Muhammad mengungkapkan keinginannya untuk melaksanakan ibadah haji. Namun, Beliau kemudian mengurungkan niatnya karena pada saat itu masih ada orang musyrik yang tawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang.

Nabi Muhammad dengan tegas menyatakan bahwa selama praktik itu masih ada, maka dia tidak akan menunaikan ibadah haji. Rasulullah pun baru benar-benar berangkat haji pada tahun ke-10 Hijriyah. Haji pertama dan terakhir yang disebut dengan Haji Wada.

 
Para calon jamaah haji yang harus kembali menunda keberangkatannya tidak berputus asa dan bermuram durja
 
 

 

Berkaca pada peristiwa tersebut, ada baiknya para jamaah yang harus kembali menunda keberangkatannya tidak berputus asa dan bermuram durja. Ketimbang merutuki takdir Ilahi, sebaiknya  kita memanfaatkan waktu tunggu ini sambil menatap harapan untuk musim haji 1443 Hijriyah.

Sebagaimana kita tahu, Rasulullah SAW berwasiat dalam berbagai macam hadis mengenai amalan-amalan yang setara dengan haji dan umrah. Meski amalan tersebut tidak menggugurkan syariat kewajiban haji, besarnya pahala amalan tersebut seyogianya bisa mendekatkan jiwa kita dengan Tanah Suci.

Ustaz Hanif Luthfi Lc dari Rumah Fiqih menyebut beberapa amalan yang berganjar haji.

1. Berbakti kepada orang tua. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada seseorang yang mendatangi Rasululah SAW dan ia sangat ingin pergi berjihad namun tidak mampu.

Rasulullah SAW bertanya padanya apakah salah satu dari kedua orang tuanya masih hidup. Ia menjawab, ibunya masih hidup. Rasul pun berkata padanya, “Bertakwalah pada Allah dengan berbuat baik pada ibumu. Jika engkau berbuat baik padanya, maka statusnya adalah seperti berhaji, berumrah dan berjihad.” (HR Ath-Thabrani).

2. Shalat fardhu berjamaah di masjid. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda, “Siapa yang berjalan menuju shalat wajib berjamaah, maka ia seperti berhaji. Siapa yang berjalan menuju shalat sunnah, maka ia seperti melakukan umrah yang sunnah.” (HR Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir).

3. Melakukan shalat Subuh, menanti waktu syuruk hingga menunaikan shalat Dhuha di masjid. Meski masih jadi perbedaan tentang nama dan pensyariatannya, tapi pahalanya jelas. Shalat dua rakaat di waktu awal hari, dimulai dengan shalat Shubuh berjamaah di masjid, tidak pulang ke rumah tapi duduk zikir, sampai matahari benar-benar terbit maka pahalanya setara haji dan umrah dengan sempurna.

photo
Calon jamaah haji menunjukkan bukti pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) di Kantor Cabang Mandiri Syariah Area Bekasi, Jawa Barat, Selasa (19/3/2019). Rasulullah SAW berwasiat mengenai amalan yang setara haji dan umrah. - (Republika/Edwin Dwi Putranto)

Dalilnya adalah dari hadis dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat Shubuh dengan berjamaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumrah secara sempurna.” (HR Thabrani).

4. Menghadiri majelis ilmu di masjid. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda, “Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir).

5. Membaca tasbih, tahmid, dan takbir setelah shalat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada orang-orang miskin datang menghadap Nabi SAW. Mereka berkata, orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumrah, berjihad serta bersedekah.

Nabi SAW lantas bersabda, “Maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir shalat sebanyak 33 kali.”

Kami pun berselisih. Sebagian kami bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 34 kali. Aku pun kembali padanya. Nabi SAW bersabda, “Ucapkanlah subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar, sampai 33 kali.” (HR Bukhari, nomor 843).

6. Bertekad untuk berhaji. Siapa yang memiliki uzur tapi punya tekad kuat dan sudah ada usaha untuk melakukannya, maka dicatat seperti melakukannya. Contohnya, ada yang sudah mendaftarkan diri untuk berhaji, tapi ia meninggal dunia sebelum keberangkatan, maka ia akan mendapatkan pahala haji.

Mengapa sampai yang punya uzur terhitung melakukan amalan? Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, dalam suatu peperangan (Perang Tabuk) kami pernah bersama Nabi SAW, lalu Beliau bersabda, “Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang yang tidak ikut melakukan perjalanan perang, juga tidak menyeberangi suatu lembah, tapi mereka bersama kalian (dalam pahala). Padahal mereka tidak ikut berperang karena mendapatkan uzur sakit.” (HR Muslim).


×