Sejumlah orang dengan masalah kejiwaan di Panti Sosial Cipayung Jakarta. | Republika/Putra M. Akbar
11 Jun 2021, 04:57 WIB

Terapi Mengingat Jalan Pulang di Panti Sosial Cipayung

Ratusan orang dengan masalah kejiwaan di Panti Sosial Cipayung tak bisa pulang karena sulit mengingat.

OLEH FEBRYAN A

Ratusan orang dengan masalah kejiwaan di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 (PSBI BD 2) Cipayung tak bisa pulang karena kesulitan mengingat alamat keluarga. Pengelola panti membuat berbagai kegiatan untuk mengembalikan memori mereka.

Di tengah sebuah aula terbuka, 25 laki-laki dan perempuan duduk melingkar. Sebagian besar sibuk membolak-balik kain perca. Ada pula yang duduk termenung melihat tumpukan kain dan alat tenun sederhana di atas lantai keramik itu. Ada di antara mereka yang tiba-tiba tertawa.

Sebagian lain tampak mengoceh, entah mengatakan apa. Ada yang mendaku sebagai anak buah dari seorang pembesar di republik ini. Satu di antara mereka tiba-tiba berteriak histeris lalu pergi begitu saja. Seorang petugas keamanan bersiaga di sudut aula itu pada Rabu (9/6) pukul 13.00 WIB.

Terkait

"Kegiatan itu tujuan minimalnya supaya dia bisa berinteraksi. Tapi, kita berharap juga bisa mengasah motorik mereka agar hilang halusinasinya dan mengembalikan ingatannya," kata Kasatpel Pembinaan di PSBI BD 2, Mia Rumsari, kepada Republika, Rabu.

Sebanyak 25 penghuni panti di Cipayung, Jakarta Timur, ini adalah orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). Total sekitar 300 ODMK menjadi warga binaan di panti milik Dinas Sosial (Dinsos) DKI Jakarta. Sebagian ODMK itu dibawa ke PSBI BD 2 dari Rumah Sakit Duren Sawit. Ada pula yang diciduk petugas Satpol PP DKI dari hasil razia di jalanan Ibu Kota.

Sebenarnya, penempatan mereka di sana maksimal 21 hari saja. Sebab, PSBI BD 2 hanyalah panti transit sebelum mereka diserahkan ke panti rujukan atau dipulangkan ke keluarga masing-masing. Namun, kini ada yang menetap di sana berbulan-bulan, ada pula yang sudah hitungan tahun. Perkaranya, panti rujukan penuh. Sedangkan untuk pulang ke pangkuan keluarga, para ODMK itu tak bisa menyebutkan alamat asalnya.

Oleh karena itu, pengelola PSBI BD 2 membuat berbagai kegiatan keterampilan sebagai metode terapi untuk melatih sistem motorik, mengasah pikiran, dan menstabilkan emosi mereka. Pada ujungnya, diharapkan mereka bisa mengingat asal-usulnya.

Kegiatan yang dibuat untuk para ODMK, kata Mia, berbeda setiap harinya. Pada Senin dan Rabu, jadwalnya membuat keset. Selasa dan Jumat kegiatan bernyanyi. Adapun Kamis untuk kegiatan tata boga.

Waktu menunjukkan pukul 14.16 WIB, sebanyak 25 ODMK masih mengurusi rajutan keset di aula yang berada di samping kantor PSBI BD 2. Yang pertama selesai membuat sebuah keset adalah ODMK bernama Yohana. Perempuan 50 tahun ini memang sedari awal fokus merajut tanpa peduli kebisingan yang dibuat kawan sepantinya.

"Itu Bu Yohana selesai membuat keset setelah enam kali pertemuan. Sejak ikut kegiatan keterampilan, dia mulai bisa diajak bicara. Tapi, alamat rumahnya dia masih belum ingat," kata Elisabeth Painem, pekerja sosial terampil di PSBI BD 2.

Pulang atau ditolak

Mia Rumsari mengatakan, berbagai kegiatan itu terbukti bisa membantu mengembalikan memori para ODMK. Ada yang tiga kali pertemuan sudah bisa mengingat potongan cerita masa lalunya. Ada yang sampai berbulan-bulan, meski sudah dibantu dengan mengonsumsi obat-obatan baru ingat keluarga dan rumahnya.

"Ada yang ingatannya kembali walau sedikit. Awalnya dia ingat nama, lalu keluarga, alamat rumah, dan sekolahnya dulu. Itu sangat membantu (untuk mencari keluarga mereka)," kata Mia.

Salah satu ODMK yang berhasil mengembalikan potongan memorinya adalah Hamzah. Laki-laki 20-an tahun itu akhirnya bisa menyebutkan alamat keluarganya ketika mengikuti kegiatan bernyanyi.

Dalam sebuah rekaman video yang diperlihatkan Wendi, staf pendamping di PSBI BD 2, tampak Hamzah menangis terisak-isak ketika menyanyikan lagu populer Iwan Fals berjudul “Sarjana Muda”. Hamzah lantas meminta pulang setelah tinggal di panti itu sejak pertengahan Mei lalu. Kepada petugas panti, Hamzah menyebut alamat keluarganya di Bogor.

Wendi lalu menyebarkan informasi keberadaan Hamzah lewat media sosial dan mengontak sejumlah koleganya di Bogor untuk turut membantu. Pada Rabu (9/6) siang WIB, ibu dan adik Hamzah datang menjemput. Air mata tiga manusia yang saling merindu itu langsung berurai.

Hamzah dipeluk erat-erat oleh ibu dan adik lelakinya itu. Tak ada kata terucap. Mereka hanya berpelukan dan menangis selama satu menit lamanya. "Maafin aku, Ma." kata Hamzah tiba-tiba, kepada perempuan paruh baya yang mengenakan kerudung coklat itu.

"Iya sudah mama maafin. Mama mohon Dedek jangan tinggalinmama lagi," kata perempuan itu sembari menyebut bahwa dirinya sudah berulang kali mencari Hamzah di Bogor.

Hamzah terus menangis tersedu-sedu sembari mendekap erat ibunya. Ia berbicara terbata-bata menyampaikan rasa penyesalan. "Hamzah jangan pikirin buat bahagiain mama dulu. Belum rezeki Hamzah buat dapat kerja, nanti pasti bakal dikasih Allah," kata sang ibu.

Sang ibu lalu meyakinkan Hamzah. Ibu tersebut mengaku, kini sudah bekerja sebagai asisten rumah tangga dan juga berjualan donat keliling setiap pagi. Hamzah tak perlu risau lagi dengan kondisi ekonomi keluarga.

"Hamzah jangan pusing-pusing mikir.  Jadilah Hamzah yang dulu kuat, pintar, dan gagah. Sekarang pulang sama mama, ya," kata sang ibu sambil menepuk lembut pundak anaknya yang tampak ringkih itu.

Hamzah terbilang beruntung karena keluarganya masih peduli. Sebab, ada pula ODMK yang keluarganya tak mau lagi menjemput atau menerimanya. "Ada yang karena tak mampu secara ekonomi, tapi ada pula yang karena tidak mau repot," kata Mia.

Wendi juga menyampaikan hal serupa. Dia bahkan pernah menemukan alamat dan mendapat kontak keluarga dari seorang ODMK. Setelah dihubungi, pihak keluarganya justru tak mau peduli. "Saya udah kayak rentenir nagih utang. Saya telepon terus, tapi masih banyak yang tidak mau jemput," ungkap Wendi.

Waktu kini menunjukkan pukul 14.30 WIB. Para ODMK itu masih asyik merajut keset di tengah aula. Yohana, yang sudah menyelesaikan satu keset, tampak kembali membuat keset menggunakan kain perca warna merah. Ia tampak masih yang paling fokus di antara rekan-rekannya.

Petugas panti berharap Yohana bisa menemukan memorinya yang hilang. Sehingga, perempuan paruh baya itu juga bisa pulang bersama keluarganya. "Mungkin sedikit lagi dia bisa ingat sembari kita kasih obat," kata Elisabeth Painem. Namun, tak ada yang tahu, entah Yohana bakal dijemput atau justru diabaikan keluarganya.


×