Anak terluka (ilustrasi) | freepik
07 Jun 2021, 09:00 WIB

Anak Anda Terluka? Ini Cara Penanganan yang Tepat

Terpenting adalah orang tua tenang saat menghadapi anak yang terluka.

Aktivitas eksplorasi belajar dan bermain dengan keluarga memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak. Salah satunya mengasah kreativitas dan kemampuan motorik. Namun, saat belajar dan bermain, risiko terjadinya luka pada anak juga meningkat.

Itu pula yang dialami figur publik Tyna Kanna Mirdad. Dia mengatakan usia anak-anak adalah masa anak-anak sedang aktif. Ini dialami juga oleh anak-anaknya yang cenderung sulit berjalan lebih pelan, suka berlari ke sana kemari. Maka penting bagi orang tua memastikan proteksi dalam aktivitas mereka.

“Anak-anak kan biasa, susah jalan-jalan santai. Aku termasuk tenang, kalau suami agak panik kalau anak luka, tapi ada juga anakku yang sudah bisa merawat luka sendiri,” kata Tyna dalam ajang virtual pada April  lalu.

Menurut Tyna, sebagai orang tua harus terus memperhatikan anaknya agar mereka sadar bahwa melakukan sesuatu itu bukan untuk ibunya, tetapi untuk mereka sendiri. Orang tua juga jangan malas berkomunikasi, menjelaskan kepada anak apa yang dihadapinya.

Terkait

Selain itu, ‘’Orang tua juga perlu memahami kondisi anak masing-masing karena mereka terlahir dengan karakter yang berbeda-beda. Ada anak introver, ekstrover, dan di sinilah peran orang tua harus memahami itu semua agar meminimalisir ‘drama’ yang terjadi di rumah,’’ ujar dia.

Merawat luka anak menjadi bagian proteksi dalam mengiringi proses tumbuh kembang buah hati.  Dokter spesialis anak, dr Mesty Ariotedjo, Sp.A. mengatakan orang tua perlu memastikan keamanan anak bereksplorasi. Alih-alih dilarang, sebaiknya mengetahui tata cara merawat luka saat anak lecet. “Mending anak kotor dikit, lecet dikit tapi perkembangan otaknya optimal,” kata Mesty dalam ajang virtual yang sama.

Ketika anak luka, tidak sedikit orang tua yang menganggap akan sembuh dengan sendirinya atau hanya dibiarkan terkena angin. Di sinilah, pentingnya orang tua memahami tata laksana penanganan luka anak. Pengobatan yang justru malah mengandung kuman akan memperparah kondisi area kulit yang justru sedang tidak optimal. Kemungkinan buruknya adalah menyebabkan luka sekunder.

Mesty menjelaskan pada prinsipnya, orang tua harus memastikan luka itu bersih, yaitu dengan cara dibersihkan bisa dengan air mengalir dan antiseptik. Kedua, luka harus dijauhkan dari iritan dan infeksi. Selain itu, penting juga membalut luka agar menghindari hal-hal yang bisa memperburuk luka, seperti terkena benda tajam, sudut meja dan lainnya. Langkah untuk merawat luka dengan tepat agar proses penyembuhan juga berjalan optimal.

 

 
 Orang tua harus memastikan luka itu bersih, yaitu dengan cara dibersihkan bisa dengan air mengalir dan antiseptik.
Dokter spesialis anak, dr Mesty Ariotedjo, Sp.A.
 

 

Biarkan anak bereksplorasi

Psikolog anak Grace Eugenia Sameve, M.A, M.Psi mengatakan setiap anak terlahir dengan kecenderungan tertentu. Ada anak yang lebih mudah bergaul, perlu waktu lebih cair dan sebagainya. Namun masa kanak-kanak ini masih bisa berubah-ubah sebelum memasuki usia 17-18 tahun. “Kepribadiannya masih bisa dipengaruhi atau terbentuk. Meski ada kecenderungan  lebih supel, perlu dorongan sejak awal, tapi bukan berarti akan sampai besar,” kata Grace.

Jadi, faktor lingkungan akan sangat berpengaruh dan peran orang tua merupakan satu faktor pendorong agar anak bisa berinteraksi sosial. Peran orang tua adalah membentuk karakter anak untuk percaya diri. Ada juga anak yang sudah mandiri, sehingga orang tua perlu memberi kesempatan lebih luas baginya untuk berkembang dan eksplorasi, tentunya dengan bimbingan dan perhatian saat anak kemudian terluka dalam aktivitasnya.

Dukungan orang tua adalah menberikan keyakinan pada anak. Mereka harus berani eksplor tapi butuh pertolongan dan kepercayaan pula terhadap orang tuanya. “Bilang, jangan takut dan orang tua ada untuk memberi dukungan. Orang tua selalu hadir. Beri kepercayaan pada anak tapi tetap didampingi,” tambahnya.

 

photo
Anak terluka (ilustrasi) - (freepik)

Ketika Anak Terluka

Penting bagi orang tua untuk mengetahui perawatan luka yang tepat agar tidak terjadi infeksi berlanjut, dan mengetahui seputar proteksi anak agar tidak menimbulkan trauma yang dapat mempengaruhi optimalisasi tumbuh kembang anak.

Bagaimana cara yang tepat untuk merawat luka buah hati agar dapat membantu proses penyembuhan yang benar? Berikut tip dari dokter spesialis anak, dr Mesty Ariotedjo, Sp.A.

1. Buat anak tenang

Orang tua penting untuk tetap tenang. Ajak anak untuk tenang juga saat memberikan pertolongan pertama. Sebab penting sekali mengartikulasikan perasaan anak.

2. Lihat tampilan lukanya, berdarah atau tidak.

Apabila berdarah, hentikan pendarahan dengan mengangkat bagian luka kemudian tekan dengan kain atau baju yang bersih selama kurang lebih lima menit.

3. Bersihkan luka

Setelah luka berhenti berdarah, maka perlu dibersihkan. Untuk luka kecil, bisa dibersihkan terlebih dulu, jangan dibiarkan begitu saja agar menghindari infeksi. Sementara jika luka robekan besar, tidak bisa ditutup rapat, sebaiknya dibawa ke dokter.

4. Bila darah tak berhenti

Bila darah tak kunjung berhenti meski sudah ditekan selama lima menit, maka perhatikan jenis lukanya. Untuk luka bakar, perlu dibuang dulu suhu panasnya. Berikan air mengalir sekitar 15 menit sampai suhu kulit kembali normal. Akan tetapi jika luka terlalu besar, tetap harus menemui tenaga medis. Bagi luka bakar dengan cairan, akan menguap sehingga anak kemungkinan mengalami dehidrasi. Ortu perlu menghindari adanya risiko infeksi.

5. Segera bawa ke dokter

Jika benar-benar darah tak kunjung berhenti, segera bawa anak ke dokter. Ceritakan tempat kejadian jatuh si anak seperti di tempat sangat kotor, jalan raya, lumpur, dan lainnya. Perlu juga diceritakan apabila riwayat imunisasi anak tidak lengkap di lima tahun terakhir.  “Khawatir misalnya awalnya kecil tapi tiba-tiba banyak nanah berbau harus langsung juga dibawa ke dokter,” ujar Mesty.

6. Jangan percaya mitos

Menurutnya, mitos penanganan luka berpotensi memperburuk kondisi anak. Dia mencontohkan tidak tepat untuk menangani luka memakai odol, air liur, atau diberi terigu. Penggunaan odol bisa membuat luka lebih perih, membeperbesar iritasi, atau pemberian air liur yang mengandung kuman serta ditiup, juga berisiko memberikan kuman.

 


×