Hikmah Republika Hari ini | Republika
03 Jun 2021, 03:30 WIB

Menjadi Kekasih Tuhan

Kekasih akan melihat pengorbanan kekasihnya itu.

OLEH MUSHOFA

Pada makalah kesebelas dalam kitab “Nashaih Al-Ibad” diterangkan bahwa Nabi Ibrahim AS ketika ditanya, “Sebab apa kamu menjadi kekasih Allah (khalilullah)?”

Ia menjawab, “Sebab tiga hal. Yang pertama, aku mendahulukan perintah Allah dari pada perintah selain-Nya. Kedua, aku tidak pernah susah atas apa yang sudah menjadi tanggungannya Allah SWT. Dan ketiga, aku tidak pernah makan sore dan sarapan kecuali bersama dengan tamu.” (Syekh Nawawi Al-Bantani, Nashaih Al-Ibad, Beirtu-Libanon: Darul Kutub Al-Ilmiah, 2013, h. 23).

Dari jawaban Nabi Ibrahim AS di atas, maka dapat dijabarkan sebagai berikut: Pertama, syarat menjadi kekasih Allah adalah harus mendahulukan perintah Allah SWT dan menomor sekiankan perintah dan tugas yang lainya. Dalam kenyatannya, memang seorang kekasih itu harus selalu dinomorsatukan. Sebab inilah bukti cinta yang tulus.

Terkait

Ketika seseorang sudah setiap waktu mendahulukan kekasihnya, maka secara otomatis kekasihnya akan mencintainya. Kekasih akan melihat pengorbanan kekasihnya itu.

Inilah kenapa Nabi Ibrahim mendapat gelar khalilullah. Dan pengabdian hidupnya hanya untuk Allah semata. Sebagaimana firman Allah SWT. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56).

Kedua, “Aku tidak pernah susah atas apa yang sudah menjadi tanggungannya Allah SWT.” Pernyataan Nabi Ibrahim AS ini memberi pemahaman bahwa manusia hendaknya tidak perlu menyusahi apa saja yang sudah menjadi tanggung jawab Allah kepada hambanya, seperti urusan rezeqi.

Keberadaan kita di dunia ini bukan kehendak kita, melainkan diadakan oleh Yang Mahaada. Eksistensi kita pun akan senantiasa dijaga oleh-Nya. Karena Ia yang mengadakan kita, maka Ia pula yang akan menanggung kita.

Allah berfirman: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS Huud: 6). Rezeki manusia itu berada pada genggaman-Nya. Jadi tidak perlu susah esok makan apa. Pasti itu sudah ada pada ketentuan Allah SWT.

Nabi Ibrahim AS mengajarkan kemurnian tauhid. Artinya, manusia hendaknya menggantungkan hidupnya hanya kepada Allah, bukan pada kekuatannya sendiri. Karena Dialah yang maha dimintai segalanya. Jika manusia menggantungkan hidupnya pada dirinya sendiri, maka akan rapuh karena keterbatasannya.

Ketiga, alasan gelar “kekasih Allah” yang disematkan kepada Nabi Ibrahi AS adalah Ia tidak pernah makan kecuali bersama tamu. Artinya Nabi Ibrahim AS adalah orang yang sangat dermawan. Bahkan dikisahkan, ia rela berjalan satu sampai dua mil mencari kawan untuk diajak makan bersama. Kedermawanan menjadi penyebab ia dicintai Tuhannya.

Dalam pandangan Allah, kesalehan individu belum cukup untuk menjadikan manusia layak dicintai Tuhan, melainkan ia harus mempunyai kesalehan sosial, kepedulian dengan lingkungannya, dan kepekaan dengan masalah-masalah sosialnya. Alhasil, jika kita ingin dicintai Allah jadilah hamba yang total mencintai-Nya.


×