Aktivis Great Return March Aheer Z Barakat memberikan paparan saat kunjungan di Kantor Republika, Jakarta, Jumat (3/8/2018). Kunjungan tersebut mendiskusikan kondisi terkini kehidupan masyarakat di Gaza. Republika/Putra M. AKbar | Republika/Putra M. Akbar
30 May 2021, 03:47 WIB

Abeer Z Barakat, Mengejar Pendidikan Demi Gaza

Sebanyak 70 persen perempuan di Gaza merupakan penyangga keluarga.

 

 
Pendidikan selalu merupakan senjata paling penting yang dapat Anda miliki untuk bertahan hidup.
ABEER Z BARAKAT
 

Abeer Z Barakat harus menunggu setahun untuk menyeberangi perbatasan Rafah ke Mesir. Dia mesti melengkapi surat permohonan izin keluar dari perbatasan lewat internet.

Bersama ribuan warga Gaza lainnya, Abeer mesti mengunduh bukti dokumen yang menunjukkan tujuan kepergiannya untuk pengobatan atau studi. Pintu Rafah yang memang amat jarang dibuka akan menyeleksi mereka untuk bisa keluar dari daerah terblokade itu.

Ibu dengan empat anak ini hendak melanjutkan studi doktoralnya di Universiti Putra Malaysia (UPM). Abeer mendapatkan surat penerimaan untuk kuliah mulai Juni 2019.

Terkait

Delapan tahun sebelumnya, Abeer sudah menyelesaikan gelar master di bidang linguistik di Malaysia. Pada 2018, Abeer menginjakkan kaki kedua kalinya di Selangor, Malaysia. Abeer ingin memperjuangkan Gaza lewat pendidikan. 

“Belajar di luar negeri adalah satu dari mimpi terbesar saya sejak masih kecil. Saya ingin melihat dunia di balik penjara besar ini," ujar Abeer menceritakan studinya kepada Republika, belum lama ini.

Abeer berangkat bersama keempat anaknya. Suaminya harus bekerja di Gaza untuk menyangga kebutuhan ekonomi keluarga besar mereka. Pada awalnya, Abeer mengaku sempat merasa kesulitan untuk mengurus anak sendiri, sementara dia juga harus belajar.

Namun, Abeer mengungkapkan, banyak perempuan Gaza yang harus menjadi orang tua tunggal dengan kasus beragam. Ada yang suaminya ditahan tentara Israel. Tak sedikit yang menjadi janda karena suaminya terbunuh dalam peperangan.

photo
Aktivis Great Return March Aheer Z Barakat memberikan paparan saat kunjungan di Kantor Republika, Jakarta, Jumat (3/8/2018). Kunjungan tersebut mendiskusikan kondisi terkini kehidupan masyarakat di Gaza. - (Republika/Putra M. Akbar)

Menurut Abeer, sebanyak 70 persen dari perempuan di Gaza merupakan penyangga keluarga karena kebanyakan kaum pria di sana menjadi martir, tahanan, dan terluka karena perang. Perempuan Gaza mesti memiliki kemampuan untuk membesarkan anak dan bekerja keras.

Mereka harus menyiapkan anak untuk tidak hanya terdidik secara akademis. Anak-anak itu pun harus menjadi Muslim yang baik dan berjuang bagi Palestina. "Jadi, mengikuti dan belajar dari mereka," kata dia. 

Di Malaysia, Abeer harus menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga dan mahasiswi. Setiap pagi, aktivis Great Return March ini mesti membawa anaknya ke sekolah. Dia mesti kembali ke apartemen untuk memasak.

Ketika menu untuk makan malam sudah siap, Abeer pergi kuliah hingga pukul lima sore. Selepas Maghrib, Abeer akan menemani anak-anaknya untuk belajar, terutama mendengar cerita mereka saat mendapatkan kuis di sekolah. 

Rutinitas sebagai orang tua tunggal memang tidak mudah. Terlebih, anak-anaknya sudah tumbuh menjadi remaja. Abeer harus menjadi ibu, ayah, dan mahasiswa yang harus mengerjakan beragam tugas kuliah. "Terkadang saya merasa sangat sulit dan menangis sendirian. Saya pun berbicara dan meminta pengertian mereka (anak-anak) tentang kesulitan yang dialami,” ujar dia.

Setelah dua tahun di Malaysia, dosen di salah satu universitas di Gaza ini kembali ke negerinya pada Januari 2020. Di Gaza, Abeer memotivasi para pelajar perempuan Palestina di tengah kesulitan hidup sehari-hari.

Abeer berharap pengalaman hidupnya di luar negeri bisa memicu mereka untuk lebih bersemangat dalam belajar. "Pendidikan selalu merupakan senjata paling penting yang dapat Anda miliki untuk bertahan hidup," kata dia.

Serangan Israel

Abeer kembali harus hidup bersama ancaman teror Israel saat berada di Gaza. Pada Ramadhan ini, Gaza menjadi target rudal-rudal Israel yang tak melihat objeknya. Abeer dan kawan-kawan harus hidup dalam ancaman terus-menerus beberapa hari belakangan. Kaum perempuan memilih tidur dengan hijab lengkap karena bom-bom militer Israel terus berjatuhan.

Menurut dia, tak ada tidur nyenyak di Gaza belakangan. "Baru dua jam kami tidur, tiba-tiba 'bum!' jatuh bom Israel tak jauh dari rumah kami," kata dia dalam wawancara dengan Republika, Sabtu (15/5).

Ancaman itu membuat Abeer harus tidur dengan hijab lengkap. "Kami berdoa kepada Allah, jika ada apa-apa terjadi, misalnya harus meninggal tiba-tiba, kami tetap dalam keadaan satr (tertutupi)," kata dia. 


×