Pelayan menunggu restoran yang kosong pembeli di New York, AS, beberapa waktu lalu. | EPA-EFE/PETER FOLEY

Internasional

24 May 2021, 03:35 WIB

Ketika Bekerja tak Lagi Menarik

Kenaikan tunjangan pengangguran membuat orang enggan bekerja.

OLEH LINTAR SATRIA

Sue Choi dan suaminya memiliki beberapa restoran Korea di New York. Ia ingin merekrut staf dapur, pelayan, dan penyambut tamu untuk restoran terbarunya Rib No 7. Tapi, belum ada yang menghubunginya sejauh ini. "Saya tidak menerima satu telepon pun, bahkan sampai satu pekan," ungkapnya, dilansir dari ABC News, Ahad (23/5).

Choi mengatakan, ia juga menawarkan kenaikan gaji, tapi ternyata tetap tak ada orang yang tertarik untuk melamar. Padahal, sebelum pandemi ia biasa menawarkan 20 dolar Amerika Serikat (AS) per jam untuk penyambut tamu berpengalaman, dan ia akan menerima ratusan lamaran.

Hingga dua pekan membuka lowongan, Choi masih juga tak menerima sambutan, meski ia menawarkan gaji 30 dolar AS per jam. "Cukup menakutkan sekarang," kata Choi.

Choi tidak sendirian. Setelah peraturan pembatasan sosial Covid-19 dilonggarkan banyak restoran yang melaporkan kekurangan pegawai. Sehingga beberapa restoran gagal buka kembali, meski telah mengurangi jam operasi, menaikkan gaji, hingga menjanjikan bonus.

photo
Warga mengambil paket daging dan sayuran yang didistribusikan di Masbia of Flatbush Food Pantry, Brooklyn, New York, AS, Kamis (30/4/2020).  EPA-EFE/JUSTIN LANE - (EPA)

Pakar menilai, fenomena ini disebabkan naiknya tunjangan pengangguran selama pandemi. Langkah tersebut dianggap membuat orang saat ini enggan mencari kerja.

Beberapa gubernur memang sudah mengumumkan akan memotong tunjangan pengangguran sebesar 300 dolar AS per pekan. "Tidak ada satu masalah yang membuat proses rekrutmen karyawan di industri restoran menjadi sangat sulit, tapi kekuatan kolektif dari berbagai tekanan," kata direktur eksekutif asosiasi industri jasa pelayanan, NYC Hospitality Alliance, Andrew Rigie.

Menurutnya, berbagai restoran dan bar, saat ini merekrut karyawan di saat bersamaan. Sementara kebutuhan karyawan yang dibutuhkan industri juga naik.

Situs lowongan kerja untuk bidang jasa, Culinary Agents mengatakan, sejak awal tahun unggahan lowongan kerja naik 'signifikan dan konsisten'. Situs itu mengatakan jumlah lowongan kerja yang diunggah dari bulan Januari ke Maret di seluruh negeri naik hingga 10 kali lipat.

Posisi yang paling banyak kosong adalah posisi yang menghadapi konsumen secara langsung seperti pelayan, bartender, dan penyambut tamu. Namun, kini restoran-restoran di AS akan bersaing ketat untuk mendapatkan karyawan terampil yang semakin sedikit.

Sebab selama pandemi banyak juga orang yang pindah, kembali sekolah, atau bekerja di industri yang lain. "Saat kami mulai menutup restoran dan mengurangi karyawan, sayangnya kami kehilangan mereka ke industri lain. Terutama industri ritel dan grosir dan pengiriman, seperti Uber," kata direktur eksekutif asosiasi restoran, Greater Houston Restaurant Association, Melissa Stewart.

Selama pandemi, para pekerja juga mencari pekerjaan yang dapat dikerjakan jarak jauh. Jajak pendapat situs pencari kerja ZipRecruiter pada Februari 2021, menemukan 60 persen responden mengatakan mereka kini lebih memilih pekerjaan yang dapat dikerjakan dari rumah.

Pekerjaan di industri restoran, tentu tidak termasuk dalam kategori pekerjaan idaman selepas pandemi. "Industri restoran bukan industri di mana anda dapat bekerja jarak jauh, Anda tidak bisa mencampur cocktail melalui FaceTime," kata Rigie.

Selain itu, tak sedikit pula tenaga kerja yang kini sibuk mengurus anak. Jajak pendapat yang digelar pada paruh kedua bulan April menemukan, hampir satu juta orang mengatakan orang dewasa di rumah mereka tidak mencari kerja karena mengurus anak.

Sementara 920.000 lainnya mengatakan harus berhenti bekerja karena mengurus anak. Upah rendah di industri restoran serta naiknya tunjangan pengangguran, telah menahan sejumlah orang untuk melamar kerja di industri tersebut.

Peneliti ekonomi di Brookings Institution, Gary Burtless mengatakan rata-rata pendapatan mingguan pekerja industri jasa makanan dan akomodasi termasuk restoran pada tahun 2019 hanya sebesar 407 dolar AS. Jumlah ini, sekitar 43 persen di bawah rata-rata pendapat industri lain di AS.

Jumlah ini harus bersaing dengan tunjangan pengangguran yang diperoleh selama pandemi per wilayah, ditambah 300 dolar AS per pekan. Jumlah tunjangan ini, melebihi jumlah yang didapat pekerja restoran dua tahun yang lalu.

"Saya pikir banyaknya tunjangan pengangguran tidak diragukan lagi bagian dari eksplanasi mengapa pengusaha kesulitan mengajak orang kembali bekerja terutama untuk pekerjaan upah rendah, tapi tidak hanya itu," kata Burtless.

photo
Warga makan siang di sebuah restoran di Washington, beberapa waktu lalu. - ( EPA-EFE/MICHAEL REYNOLDS)

"Bagi banyak keluarga masalahnya pada merawat anak, dan khawatir terinfeksi Covid-19 di tempat kerja, saya pikir hal-hal ini menjadi tantangan bagi pemberi kerja, terutama bagi pemberi kerja yang mengira mereka dapat mempekerjakan pegawai restoran dengan gaji yang sama sebelum Covid-19 menghantam kita," tambahnya.

Berdasarkan hukum, bila seseorang ditawarkan untuk bekerja lagi dan ia menolaknya maka orang itu akan kehilangan tunjangan pengangguran. Tapi, pemberi kerja harus melaporkannya ke departemen tenaga kerja setempat bila itu terjadi.

Banyak negara bagian yang mengabaikan syarat lapor bagi penerima tunjangan pengangguran. Bulan ini setidaknya lima gubernur mengumumkan dalam beberapa pekan terakhir mereka akan memotong tunjangan pengangguran pemerintah federal 300 dolar AS per pekan. "Kami tidak perlu membayar orang untuk tetap tinggal di rumah ketika pemberi kerja kesulitan mencari karyawan, dan itu yang saya dengar," kata Gubernur Asa Hutchinson.

Restoran-restoran dan bar-bar di AS pun masih berusaha merekrut karyawan. Peraturan pembatasan sosial Covid-19 terus dilonggarkan. Industri jasa dan hospitalitas seperti restoran dan bar, kini menjadi pencipta lapangan kerja terbesar pada bulan April.

Dalam laporannya, Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan industri ini menambah sekitar 331 ribu lapangan kerja. Di saat yang sama industri itu juga masih memiliki waktu yang lama untuk pulih setelah lapangan kerja turun 2,8 juta atau 16,8 persen sejak Februari 2020 lalu. 


×