Warga mulai menyerbu los pakaian Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Ahad (9/5). Memasuki H-4 Idul Fitri warga mulai menyerbu Pasar Beringharjo untuk membeli pakaian. Namun, efek adanya larangan mudik sangat memengaruhi penjualan pakaian pada tahun ini. | Wihdan Hidayat / Republika
12 May 2021, 19:05 WIB

Rayakan Idul Fitri dengan Tetap Menjaga Diri

Masyarakat diimbau menaati segala kebijakan pemerintah untuk menekan risiko penularan Covid-19.

JAKARTA -- Umat Islam akan merayakan Idul Fitri 1442 H. Dalam perayaan tahun ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menitip pesan agar dilaksanakan dengan sepenuh hati, tapi tetap menjaga diri dari penyebaran Covid-19.

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Prof KH M Cholil Nafis menyebut Ramadhan merupakan bulan yang mengasah dan melatih kepekaan akan kemanusiaan seorang umat. Dengan berakhirnya bulan ini, maka perlu dirayakan dengan bertakbir dan tahmid.

"Pertama tentu dengan Lebaran yang akan datang, kita bergembira, berbahagia, tanda kita menang di bulan Ramadhan. Ini latihan kemanusiaan, maka kita bertakbir dan bertahmid," ujarnya saat dihubungi Republika, Selasa (11/5).

Di tengah segala aturan dan pembatasan yang ada, tidak semua keluarga dan kerabat dapat berkumpul merayakan Idul Fitri bersama-sama.

Terkait

Di tengah pandemi ini, wajar jika merasa sedih karena tidak bisa bertemu langsung dengan beberapa keluarga dan kerabat. Interaksi pun menjadi terbatas karena khawatir akan penularan pandemi.

Meski demikian, dia meyakinkan bahwa silaturahim tetap bisa disambung dengan alat komunikasi yang dimiliki saat ini. Berkat kemajuan teknologi, kini setiap orang dengan mudah sudah bisa bertatap muka melalui panggilan video.

"Barang kali juga kalau ada rejeki berlebih, bisa mengirimkan uang kepada keluarga-keluarga yang lain. Mudah-mudahan rejeki yang dimiliki bisa membawa manfaat dalam kehidupan kita," ujarnya.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Satgas Covid 19 Indonesia (satgascovid19.id)

Kiai Cholil lantas mengingatkan, jika kali ini adalah terakhir kalinya seorang Muslim menemui Ramadhan, setidaknya dia telah berupaya memberikan yang terbaik dan bergembira dengan kemenangan yang dia punya.

Kepada seluruh umat Muslim, dia menyampaikan harapannya agar tetap mayakan kegembiraan, namun jangan sampai menghasilkan kesedihan. Dia mengingatkan agar tetap membatasi diri dan menjaga jarak.

"Dirayakan sepenuhnya dengan keluarga terdekat dan kita jaga diri dengan protokol kesehatan," kata Kiai Cholil. 

Ketua PP Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad mengatakan, Idul Fitri adalah momen untuk merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa dan menahan hawa nafsu. Saat hari kemenangan datang, umat Islam sudah sepatutnya berbahagia dan menyambut hari yang fitri ini dengan sukacita.

“Kaum Muslimin berhak bergembira setelah melewati cobaan yang berat selama puasa, tetapi karena mesih dalam suasana pandemi Covid-19 yang masih mengkhawatirkan, hendaknya kegembiraan itu terukur dan tetap waspada agar tidak menjadi penyebab terjadinya lonjakan wabah,” ujarnya.

Dia mengimbau masyarakat menaati segala kebijakan pemerintah untuk menekan risiko penularan Covid-19. “Mari saling menahan diri untuk kemaslahatan bersama, dengan tidak mudik, tidak berkerumun, mengikuti protokol kesehatan dan rayakan hari kemenangan bersama keluarga anggota keluarga di rumah saja,” ujarnya. 

Menurut petunjuk Rasulullah SAW, Idul Fitri adalah melaksanakan Shalat Id, mendengar khotbah, membayar zakat fitrah, dan silahturahim. “Silakan memaksimalkan petunjuk Rasul tersebut dengan berhati-hati, dengan cara rayakan dengan anggota keluarga di rumah saja,” kata dia.

Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam, Kamaruddin Amin, menyampaikan harapan terbaiknya kepada seluruh umat Islam yang menjalani Ramadhan di tengah pandemi Covid-19.

"Ramadhan di tengah pandemi kali ini betul-betul menempa kita untuk menjadi pribadi yang kuat, tulus dan sabar, serta ikhlas menghadapi dan menerima cobaan dari Allah SWT," ujarnya.

Pada Ramadhan ini, Kamaruddin Amin menyebut umat Islam ditantang untuk menerima sekaligus mengingatkan saudara-saudara yang lain, agar bersabar dan terus berikhtiar melakukan yg terbaik dalam menghadapi pandemi ini.

Dia menyebut, salah satu tujuan puasa yang hendaknya terus digaungkan dan disuarakan adalah membantu dan menciptakan kemaslahatan bagi sesama umat Islam dan manusia di muka bumi.

"Di antara manifestasi takwa (yang menjadi tujuan puasa) adalah komitmen untuk terus menciptakan kemaslahatan dan membantu sesama. Pribadi seperti ini yang dibutuhkan dimasa pandemi ini," kata dia.

Kepada seluruh warga Indonesia, khususnya kaum Muslimin, Kamaruddin mengajak untuk meningkatkan dan menjaga manifestasi komitmen tersebut, agar menciptakan kemaslahatan dan membantu sesama.

Dengan keberadaan Idul Fitri yang sudah di depan mata, dia berharap agar semuanya yang telah melewati Ramadhan dapat kembali ke fitrah untuk selalu berbuat kebaikan.


×