Nasu Palekko | Youtube
12 May 2021, 18:59 WIB

Nasu Palekko, Primadona Kuliner Lebaran Khas Bugis

Menjamu tamu saat Lebaran dengan menu khas sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia di berbagai daerah.

Di Sulawesi Selatan, ada aneka kuliner khas yang cukup populer, yaitu nasu palekko. Menu masakan khas nasu palekko yang berbahan dasar itik ini terkenal di kalangan masyarakat suku Bugis, khususnya di Kabupaten Pinrang dan Sidrap. Panganan ini selalu disajikan sebagai menu berlebaran.

Meski pedas dan bisa membuat telinga memerah karena menggunakan cabai yang cukup banyak, masyarakat setempat tetap menggandrunginya. Nasu palekko biasanya disantap bersama burasa atau ketupat sebagai pengganti nasi. Selain itu, biasanya disiapkan pula bajabu yang terbuat dari kelapa parut sangrai.

Nasu palekko merupakan daging bebek yang dipotong-potong kecil. Bisa disebut juga dengan itik cincang.

Itik yang akan dijadikan nasu palekko bisa jenis itik alabio dan juga itik manila yang ukurannya lebih besar dibandingkan itik alabio atau itik biasa. Nasu palekko merupakan istilah dari bahasa Bugis yang terdiri dari dua kata, yakni nasu artinya masakan dan palekko artinya panci tanah liat. 

Terkait

Namun, seiring perkembangan perlengkapan rumah tangga, menu itik pedas ini tidak lagi dimasak dengan menggunakan panci atau tungku berbahan tanah liat, tetapi menggunakan panci aluminium ataupun stainless. Untuk proses pembuatannya, daging bebek yang sudah disembelih dan dikuliti, kemudian dibakar di atas perapian hingga semua bulu-bulu halusnya hilang.

Setelah dipotong-potong kecil dan dicuci bersih, potongan daging itik itu diberikan asam jawa atau jeruk nipis untuk menghilangkan bau khas itik. Bumbunya terdiri atas cabai, bawang merah, bawang putih, jahe, sereh, garam, dan asam dari irisan mangga yang sudah dikeringkan.

Setelah bumbu digiling halus, lalu dicampur dengan potongan daging itik, kemudian dimasukkan dalam penggorengan atau wajan. Selanjutnya, diaduk hingga matang untuk disajikan.

Menu ini tanpa menggunakan minyak. Hanya dimasak bersama kulit itik itu sendiri yang mengeluarkan lemak hingga menjadi minyak. Setelah daging itik ini empuk dengan proses pemasakan sekitar 1-2 jam, maka sudah siap untuk disajikan dan disantap ramai-ramai maupun sendiri.

Jika tidak sempat memasak sendiri, warga bisa membelinya di toko maupun secara daring. Pengalaman sensasional menu itik pedas ini diakui Salmawati, warga Kota Makassar yang kerap memesan secara daring menu nasu palekko.

“Harga per porsi cukup terjangkau, mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu untuk mendapatkan beberapa potong itik nasu palekko,” ujarnya, Selasa (12/5).

Jika ingin memasak, satu ekor itik membutuhkan biaya sekitar Rp 100 ribu. Biaya tersebut untuk pembelian seekor itik Rp 80 ribu dan bumbunya sekitar Rp 20 ribu. Karena itu, terdapat dua pilihan untuk menikmati makanan khas Sulsel ini, yakni membuat sendiri ataupun membeli di warung atau restoran yang menjual nasu palekko.

Yang jelas, menu ini kerap disajikan di rumah-rumah warga Bugis, baik di Kota Makassar maupun di luar kota pada saat Lebaran.

Untuk bajabu, rasa kelapa sangrainya mirip dengan menu serudeng di Jawa Tengah atau Jawa Barat. Bajabu bisa berfungsi menjadi lauk sehingga sangat tepat dimakan bersama ketupat ataupun burasa.

Bajabu dapat bertahan hingga beberapa pekan bahkan bulanan, tanpa perlu menggunakan bahan pengawet. Cukup dijemur lebih lama di bawah terik matahari, kemudian disangrai lebih lama di atas kompor dengan api sedang.

Sumber : Antara


×