ILUSTRASI Zakat fitrah dilakukan menjelang Idul Fitri, pada bulan suci Ramadhan. | DOK ANTARA Feny Selly
12 May 2021, 18:49 WIB

Zakat Jadi Penawar Penyakit. Kok Bisa?

Tak hanya penyakit fisik. Zakat juga menjadi penyembuh penyakit batin.

JAKARTA – Islam merupakan agama yang memberikan jaminan ekonomi, sosial, dan solidaritas sosial. Zakat, misalnya, yang memiliki dimensi sosial dan ekonomi. Namun siapa sangka bahwa ibadah yang satu ini juga memiliki dimensi pengobatan dalam penolakan terhadap berbagai penyakit.

Dalam buku Sehat dengan Ibadah karya Jamal Muhammad Az-Zaki dijelaskan, orang yang berzakat dapat mengobati penyakit yang mendera di dalam tubuhnya. Terutama bagi mereka yang mengidap penyakit jantung dan sistem pernafasan. Tak hanya penyakit yang bersifat fisik yang dapat diobati, ternyata dengan berzakat penyakit yang bersifat psikologis juga dapat diobati dengan zakat.

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Pada dasarnya sedekah atau zakat menimbulkan dampak menakjubkan dalam menolak musibah, meskipun dari orang jahat dan juga kafir. Karena Allah akan menghindarkan musibah itu darinya dengan berzakat. Ini merupakan permasalahan yang telah populer di masyarakat,”.

Ibnul Qayyim berpendapat bahwa dalam aktivitas berzakat, sesungguhnya tersimpan obat yang sangat mujarab untuk mengobati berbagai penyakit yang tidak bisa dicerna oleh logika dokter-dokter terkemuka. Atau tidak pula dipahami oleh ilmu-ilmu pengetahuan dan eksperimen, atau juga analogi-analogi obat-obatan hati.

Terkait

Kekuatan hati, kata dia, adalah bersandar kepada Allah SWT dan bertawakal kepada Dia. Dengan berzakat, bertawakal, ini akan menjadi obat penangkal dan penyembuh penyakit yang bersemayam di dalam diri.

Berzakat juga dapat melindungi seseorang dari berbagai penyakit psikologis. Berbagai studi dan penelitian kontemporer bersepakat bahwa setiap Muslim yang berzakat sesungguhnya telah bersungguh-sungguh memikirkan orang lain dan menghentikan atau membatasi pemikiran terhadap diri sendiri.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Oni Sahroni (muamalah_daily)

Sehingga hal itu dapat menjauhkan seorang Muslim dari hidup yang terisolasi dan juga terpisah dari sesamanya. Sebab sebagaimana diketahui, orang yang mengisolasi diri dari lingkup sosialnya lambat laun akan mengalami gejala depresi. Secara ilmiah telah terbukti bahwa rasa senang dan bahagia yang dirasakan seseorang setelah menunaikan pembayaran zakat dan sedekah berpotensi memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Sehingga baginya dapat terhindar dari serangan penyakit lambung, ancaman pembengkakan, ancaman kanker yang tidak tumbuh kecuali setelah sistem kekebalan mengalami kelemahan. Kondisi yang demikian ini menyebabkan sel-sel yang merusak dan jahat, yang tumbuh dan berkembang biak semakin masif dan mendapatkan perlawanan berarti. Atau membasminya di sarangnya sebelum penyebarannya.

Dari sisi lain, menunaikan zakat dan menyerahkannya kepada orang yang berhak menerimanya berpotensi mencabur kemarahan dan kedengkian serta kemurkaan dari dada kaum dhuafa. Sehingga, jiwa-jiwa mereka selamat dari ekdengkian dan dendam, di mana keduanya merupakan faktor-faktor yang menyebabkan penyakit-penyakit psikologis.

Zakat obat depresi

Sesungguhnya menunaikan kewajiban zakat menjadikan seorang Muslim berpikir tentang orang lain dan sibuk membahas mereka untuk memberikan bantuan. Mengatasi masalah-masalah orang lain dan mengentaskan kemiskinan yang menjadi jeratan permasalahan lumrah dalam lingkup sosial masyarakat.

Aktivitas itulah yang menjadikan orang berzakat dapat keluar dari sikap tertutup, egois, dan individualis. Dengan begitu, ia dapat meminimalisasi kesedihan yang bersemayam di dalam dirinya. Dan ini merupakan bagian dari metode pengobatan kejiwaan yang paling penting yang digunakan kedokteran kejiwaan modern dalam mengobati kesedihan.

Masih banyak yang belum berzakat

Umat Islam yang memenuhi syarat diwajibkan untuk menunaikan zakat fitrah. Sayangnya, belum semua umat Islam melakukannya. “Semuanya tahu kewajiban zakat fitrah, tapi tidak semuanya menunaikan kewajiban. Banyak yang tidak menunaikan zakat fitrah. Kalau kita menunaikan zakat fitrah, bersyukurlah kepada Allah SWT,” ujar Syekh Muhammad Jaber dalam seminar tentang zakat fitrah yang digelar secara virtual, Selasa (11/5) sore.

Sesuai dengan sunah nabi, zakat fitrah bisa ditunaikan dengan menggunakan satu sha’ atau sama dengan empat mud. Menurut dia, para sahabat nabi juga menggunakan takaran sha’ dan mud dalam menunaikan zakat fitrah.

“Kita terpilih oleh Allah SWT menunaikan zakat fitrah sesuai sunah Nabi SAW menggunakan mud dan sha’,” kata Syekh Muhammad Jaber.

Dia mengajak umat Islam bersyukur kepada Allah SWT karena diberikan nikmat dan hidup hingga akhir Ramadhan. Menurut dia, umat Islam yang bisa melakukan ibadah selama bulan Ramadhan itu merupakan nikmat yang luar biasa. “Shalat, puasa, sampai akhir Ramadhan itu nikmat yang luar biasa sekali,” kata dia.

Tidak semua orang beruntung bertemu dengan Ramadhan. Orang yang diberi kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan pun ada yang beruntung dan ada yang rugi.

“Ada jamaah yang bertanya siapa yang yang beruntung itu? Ciri-cirinya mereka shalat qiyamul lail, shalat lima waktu berjamaah, dan mengerjakan amal saleh. Itulah ciri-ciri orang yang mendapatkan kemuliaan malam qadar,” ujarnya.

Habib Ahmad bin Novel Salim Jindan dalam seminar tersebut banyak mengutip tentang ayat suci Alquran dan hadis nabi yang menjelaskan zakat. Di antaranya adalah surah al-Baqarah ayat 110, yang artinya,

“Dan, laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Baqarah ayat 110).

Habib Novel juga mengutip hadis nabi yang menjelaskan zakat fitrah. Rasulullah SAW bersabda, “Zakat fitrah merupakan penyucian bagi orang yang berpuasa dari kekurangannya dan makanan bagi orang fakir dan miskin". (Hadis riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah).

Umat Islam tidak hanya diwajibkan untuk menunaikan zakat fitrah, tapi juga wajib untuk mempelajarinya. Apalagi, menurut dia, Rasulullah SAW bersabda bahwa wajib menuntut ilmu bagi setiap Muslim laki-laki ataupun perempuan.

“Sebagaimana orang Muslim diwajibkan oleh Allah untuk menunaikan zakat fitrah, dia juga diwajibakan mempelajari bagaimana menunaikan zakat fitrah yang benar,” kata Habib Novel.

Menurut dia, umat Islam wajib mempelajari tentang zakat fitrah karena karena terdapat persyaratan dalam menunaikan zakat fitrah. Di dalam Mazhab Imam Syafi’I, menurut dia, zakat fitrah itu menjadi kewajiban atas orang tatkala orang tersebut memenuhi tiga syarat.

Pertama, yaitu beragama Islam dan merdeka. Kedua, menemui dua waktu, yaitu di antara bulan Ramadhan dan Syawal walaupun hanya sesaat. Sedangkan, syarat ketiga, mempunyai harta yang lebih dibandingkan kebutuhannya sehari-hari untuk dirinya dan orang-orang di bawah tanggungan pada hari raya dan malamnya.

“Syarat ketiga adalah dia memiliki kelebihan kebutuhan pokok untuk sehari semalam,” kata dia.


×