Sejumlah warga saat melakukan ziarah kubur di TPU Menteng Pulo, Jakarta, Ahad (4/4). Jelang bulan suci Ramadhan, TPU Menteng Pulo ramai didatangi warga yang ingin membersihkan makam serta mendoakan keluarga mereka yang telah meninggal dunia. Republika/Put | Republika/Putra M. Akbar
15 May 2021, 08:00 WIB

Antisipasi Kunjungan Para Peziarah

Ziarah kubur bukan cuma tradisi, melainkan menjadi pengingat akan kematian.

Tahun ini, umat Islam menjalani ibadah puasa Ramadhan di tengah pandemi Covid-19. Dengan berbagai pembatasan sosial dan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid- 19, nyatanya tidak menyurutkan antusias sebagian masyarakat untuk bepergian, termasuk untuk wisata religi, seperti ziarah. Pada umumnya, menjelang Ramadhan ataupun Hari Raya Idul Fitri, banyak warga berziarah ke makam orang tua ataupun keluarga.

Contohnya, Fajar Afri, warga kota Depok, yang tetap melakukan ziarah kubur ke makam keluarganya di tempat pemakaman umum (TPU) Kalimulya. Rian mengatakan, tahun ini dia mulai bisa beradaptasi dalam berziarah dengan menerapkan prokes Covid-19. "Kita engga terlalu ramean ziarahnya. Jadi giliran aja. Pakai masker gitu sudah pasti. Kita juga di makam enggak terlalu lama, hanya 15 menitan," kata Rian, pekan lalu.

Mulanya Rian sempat berniat untuk tidak melakukan ziarah menjelang Ramadhan, demi menghindari keramaian. Namun, setelah dipertimbangkan dia pun tetap berziarah dengan mematuhi prokes. "Bagi saya, ziarah kubur bukan cuma tradisi, namun juga pengingat bahwa kita semua akan meninggal dan kembali menghadap- Nya," jelas dia.

Sementara itu, koordinator TPU Kalimulya, Warsundari, mengungkap, jumlah peziarah di Ramadhan tahun ini menurun dibandingkan tahun pertama Covid-19 pada 2020. Dia menduga, penurunan jumlah peziarah ke TPU ini karena masyarakat sudah lebih teredukasi tentang bahaya Covid- 19.

Terkait

Tahun-tahun sebelumnya, setiap menjelang Ramadhan, jumlah peziarah selalu membeludak. Hal itu bisa diukur dari penuhnya lahan parkir, maraknya pedagang kaki lima, dan lain-lain. "Tapi, tahun ini parkir masih banyak yang lowong, pedagang juga sepi. Pokoknya kalau pedagang enggak ada atau dikit, yasepi itu peziarahnya," kata Warsundari saat diwawancarai Republika, Kamis (22/4).

Meski jumlah peziarah jelang Ramadhan tidak seramai tahun lalu, dia tetap mengantisipasi lonjakan kun jungan di hari raya Idul Fitri 2021. Apalagi, tahun ini pemerintah masih melarang mudik.

Sebagai persiapan, dia menyiapkan masker gratis, area cuci tangan, dan beberapa spanduk edukasi serta imbauan. Cara ini sesuai dengan instruksi Wali Kota Depok agar setiap TPU menerapkan prokes ketat. "Alhamdulillah-nya, selama ini enggak ada klaster Covid-19 di TPU. Bagaimana pun kami enggak bisa lengah, harus tetap menjaga agar semuanya aman dan patuh pada prokes," ujar Warsundari.

Menurunya, jumlah peziarah di TPU Kalimulya membuat para penjual kembang terpukul, seperti Suwarti. Perempuan yang sudah berjualan kembang hampir satu dekade itu mengungkap, selama dua tahun ini, jumlah peziarah tidak sebanyak tahun sebelumnya.

Ketika Republika menjumpai Suwarti pada Kamis (22/4) siang, dia mengaku baru menjual empat kantong kembang. Padahal, biasanya selama Ramadhan dia bisa menjual sam pai ratusan kantong saat ramai peziarah. Kembangnya dijual seharga Rp 5 ribu per kantong. Kalau tidak korona, selama bulan puasa biasanya banyak yang ziarah, tidak hanya pas sebelum Ramadhan atau lebaran,kata Suwarti.

Sebelum pandemi, kata dia, biasanya penjual kembang dan pedagang kaki lima ramai berdagang di TPU Kalimulya. Namun, sejak pandemi, mereka tidak berjualan lagi. "Karena mungkin enggak balik modal juga kalau jualan, kan sepi. Kalau saya masih coba jualan, karena rumahnya deket, tinggal nyebrangjalan. Jadi, daripada diam di rumah mending jualan, kata Suwarti. 

 

 
Bagai mana pun kami enggak bisa lengah, harus tetap menjaga agar semuanya aman dan patuh pada prokes.
Warsundari, Koordinator TPU Kalimulya
 
 

 

Yuk, Patuhi Protokol Kesehatan

photo
Sejumlah warga saat melakukan ziarah kubur di TPU Menteng Pulo, Jakarta, Ahad (4/4). Jelang bulan suci Ramadhan, TPU Menteng Pulo ramai didatangi warga yang ingin membersihkan makam serta mendoakan keluarga mereka yang telah meninggal dunia. Republika/Putra M. Akbar - (Republika/Putra M. Akbar)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam yang hendak berziarah ke makam keluarga agar tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) untuk pencegahan Covid-19 yang ketat. Sekretaris Jenderal MUI Amirsyah Tambunan menjelaskan, ziarah boleh dilakukan asal mematuhi prokes.

Untuk kemaslahatan bersama, sebaiknya memperhatikan pelaksanaan protokol kesehatan terutama di masa pandemi Covid 19. "Dengan demikian, adanya kebolehan untuk ziarah kubur dengan ketentuan prokes benar- benar ditegakkan dengan wajib iman, aman, dan wajib imun," kata Amirsyah saat dihubungi Republika, Jumat (23/4).

Soal hukum ziarah kubur, dia menjelaskan, ada tujuh hadis yang salah satunya diriwayatkan Turmudzi. Hadisnya menyebutkan: Dari Buraidah dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Namun sekarang, Muhammad telah diberi izin ke makam ibunya, maka sekarang berziarahlah! Karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat.

Imbauan untuk menjaga prokes juga disampaikan Pemerintah Daerah Kota Depok.Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Ety Suharyati, mengimbau masyarakat yang berziarah ke makam keluarga agar tetap mematuhi prokes. "Semua itu wajib dilakukan demi mencegah penularan Covid-19. Saya sudah menginstruksikan dan mengimbau ke semua TPU agar menerapkan prokes yang ketat," ucapnya saat dihubungi Republika, Rabu (21/4).

Dijelaskannya, prokes yang wajib dijalankan adalah memakai masker, mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer, serta menghindari kerumunan. Waktu berziarah juga dibatasi paling lama 15 hingga 20 menit saja. "Kami sudah imbau juga agar tidak berdesakan. Kalau memang penuh, lebih baik bergantian. Jadi, tidak berkerumun," ucap Ety. 


×