Penjual menunjukkan kue bingka yang diproduksi di industri rumahan di Jalan Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (7/5/2020). Kue bingka khas bulan puasa Ramadhan di Kalimantan Tengah tersebut di jual dengan harga Rp30 ribu dan dipasarkan s | Makna Zaezar/ANTARA FOTO
11 May 2021, 10:49 WIB

Filosofi di Balik Motif Kue Bingka

Kue Bingka menggambarkan dinamika kehidupan manusia. Apa yang dilalui dan dinikmati dalam kehidupan ini.

Kemunculan kuliner-kuliner khas menjadi salah satu yang dinikmati masyarakat kala Ramadhan. Mulai dari aneka jenis kolak, hingga beragam jajanan khas untuk berbuka puasa dapat menambah kenangan indah terhadap bulan suci tersebut.

Setiap kawasan memiliki panganan khas Ramadhan. Di Kalimantan Selatan, kekhasan tersebut salah satunya jatuh pada kue bingka.

Bingka adalah satu dari 41 jenis kue tradisional Banjarmasin yang biasanya disajikan dalam perayaan-perayaan khusus, seperti pernikahan, kelahiran bayi, dan Ramadhan. Bingka termasuk jenis kue manis dengan tekstur yang lembut yang dicetak dalam motif bunga yang disebut masyarakat lokal sebagai kembang goyang. 

Ada filosofi di balik motif kembang goyang. “Yaitu menggambarkan kehidupan manusia yang tidak selalu mulus. Selalu ada naik dan turun, masa-masa menyenangkan dan menyedihkan," ujar pengelola rumah produksi Bingka H Thambrin Salon, Rafi Sujing, akhir pekan lalu.

Terkait

Pada Ramadhan tahun ini, Rafi mempekerjakan 20 pegawai. Mereka memproduksi 1.100 bingka per hari yang dijual seharga Rp 45 ribu per loyang.

Bingka produksi Rafi memiliki tiga varian rasa, yakni kentang, kentang keju, dan kentang ubi. Di Banjarmasin, dapat pula dengan mudah ditemukan kue bingka dengan varian rasa lain, seperti nangka, labu, dan pandan.

“Kami hanya memproduksi bingka selama Ramadhan dan juga menerima pesanan," kata dia.

Produksi bingka selama Ramadhan kali ini meningkat menjadi 1.100 per hari. Sebelumnya, produksi bingka milik Rafi sempat turun tajam pada 2020 dengan hanya 600-700 loyang per hari karena pandemi Covid-19.

“Sebelum pandemi, kami bisa membuat 1.500-2.000 kue dan mempekerjakan hingga 35 orang," ujarnya.

Proses pembuatan bingka di toko kue Rafi dimulai pada pukul 16.00 WITA dan berakhir pada pukul 11.00 WITA keesokan harinya. Para pekerja perempuan memulai proses produksi dengan menyiapkan bahan dasar, seperti tepung terigu, gula, dan telur itik. Kentang direbus dan diparut, demikian juga santan, direbus dan diambil bagian atasnya saja.

Kentang yang digunakan untuk bahan dasar bingka tidak dihaluskan dengan cara digiling, tapi diserut untuk menjaga teksturnya. Pada tengah malam, pekerja laki-laki akan mulai bekerja di dapur untuk membuat adonan kue. Adonan diaduk secara manual tanpa menggunakan mesin pengaduk.

Adonan kemudian dipanggang di sebuah loyang berdiameter sekitar 15 sentimeter selama 30 menit dengan api atas dan dilanjutkan lagi 30 menit dengan api bawah. Rafi memiliki tujuh oven dengan kapasitas 21 loyang sekaligus serta sejumlah oven kecil dengan kapasitas 11 loyang. Mengingat permintaan yang terus melonjak maka proses pemanggangan tidak lagi menggunakan bahan bakar kayu, tapi gas.

Masyarakat Banjarmasin meyakini, resep asli bingka diciptakan oleh Putri Junjung Buih dari Kerajaan Negara Dipa yang merupakan nenek moyang Sultan Suriansyah dari Kerajaan Banjar. Sultan Suriansyah adalah nenek moyang masyarakat setempat.

Menurut legenda, Putri Junjung Buih membuat kue itu hanya untuk para tamu istana. Bingka adalah kue khusus untuk para bangsawan pada masa itu. Rasa manis dan tekstur yang lembut dari kue itu sangat disukai para tamu yang mencicipinya.

Masyarakat Banjarmasin memiliki tradisi untuk menyiapkan 41 jenis kue tradisional dalam acara-acara budaya atau keagamaan. Tradisi itu mulanya adalah budaya masyarakat Hindu masa lalu untuk menghormati arwah agar mereka tidak mengganggu kehidupan manusia.

Setiap kue tampil dalam warna dan bentuk yang berbeda yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Kue-kue yang ditampilkan di acara-acara khusus itu, antara lain, bingka, kararaban, kikicak, bulungan hayam, kelalapon, cingkarok batu, pais waluh, wadai gayam, amparan tatak, pundut, dan ipau.

photo
Pekerja membuat kue bingka di rumah produksi Bingka H Thamrin Salon di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (17/4/2021). Rumah produksi kue khas Banjarmasin tersebut dalam sehari mampu memproduksi 1.100 kue bingka dengan harga Rp45 ribu per buah untuk melayani permintaan yang meningkat selama bulan Ramadhan. - (BAYU PRATAMA S/ANTARA FOTO)

 

Sumber : Antara


×