Ahmad Syafii Maarif | Daan Yahya | Republika
11 May 2021, 03:40 WIB

Ranah Minang, ABS-SBK-AM-SM, dan Kebanggaan Semu (V)

Ungkapan ‘sapi perah’ untuk Islam yang digunakan Riki terasa menyengat.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Pembengkakan jumlah penduduk yang merata di seluruh Indonesia yang pada 2021 sekitar 272 juta jiwa, merupakan masalah besar yang tidak mudah diselesaikan. Saat Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, penduduk Indonesia hanyalah sekitar 69 juta jiwa.

Dalam rentang waktu 76 tahun, naik sekitar 350 persen. Pulau Jawa adalah yang terpadat di antara pulau-pulau yang lain.

Karena titik pusat artikel ini tentang ranah Minang, maka masalah Indonesia yang tidak kurang ruwetnya, tidak dibicarakan. (Mereka yang ingin tahu pendapat saya tentang Indonesia awal abad ini, bisa baca: “Republik Sapi Perah” dalam Kompas, 27 Februari 2021, hlm 6).

Terkait

Sumatra Barat yang luasnya hanya 42.297,30 km2, tidak lebih dari 2,17 persen dari luas Indonesia dengan penduduk 5.534.472 adalah tanah yang sempit. Tidak mungkin menghidupi penduduknya, jika semuanya menetap di sana.

 
Fakta ini mengharuskan pemerintah daerah “pandai-pandai” bermain dengan pemerintah pusat, sesuatu yang lemah sejak beberapa tahun terakhir.
 
 

Jumlah perantau yang juga disebut “Diaspora Minang”, tidak ada angka yang pasti, tetapi dalam perkiraan kasar setara dengan mereka yang tinggal di ranah. Pendapatan asli daerah (PAD) provinsi ini tahun 2019 hanya Rp 2,4 triliun, sedangkan APBD-nya Rp 6,7 triliun.

Dengan demikian, dana perimbangan yang berasal dari pusat Rp 4,1 triliun. Dengan angka PAD yang rendah itu, ketergantungan Sumatra Barat kepada pusat sangat besar.

Fakta ini mengharuskan pemerintah daerah “pandai-pandai” bermain dengan pemerintah pusat, sesuatu yang lemah sejak beberapa tahun terakhir.

Maka jika ranah Minang mau maju, tidak ada jalan lain kecuali membuka diri selebar-lebarnya, mengakui segala kekurangan yang jelas-jelas nyata ditunjukkan angka-angka di atas, baik yang menyangkut PAD maupun angka-angka tentang kerusakan moral, seperti telah dijelaskan sebelumnya.

Jika anggota sebuah suku masih mau melihat kondisi masyarakatnya secara jujur dan jernih, sekalipun pahit, adalah pertanda positif.

Sikap semacam ini selain karena dorongan cinta, juga karena prihatin mengamati suasana sosial kultural ranah, yang terlihat semakin jauh terbenam dalam kebanggaan semu. Mungkin, perantau lebih tajam membaca peta dibandingkan mereka yang menetap di ranah.

 
Jika anggota sebuah suku masih mau melihat kondisi masyarakatnya secara jujur dan jernih, sekalipun pahit, adalah pertanda positif.
 
 

Kali ini, saya banyak mengutip pandangan budayawan dan sastrawan Minang, bukan dari tokoh agama yang umumnya normatif, dengan pertimbangan karena sikap mereka mungkin lebih merdeka dan tanpa beban.

Kekuatan intuisi mereka pun berada di atas rata-rata kebanyakan kita. Dengan demikian, pandangan yang disampaikan mereka diharapkan akan lebih objektif dengan nalar yang dingin. Tentu saja pandangan mereka ini masih perlu didiskusikan lebih cermat, tidak ditelan begitu saja, betapa pun tajamnya intuisi mereka itu.

Bagian akhir seri V dan seri VI Resonansi ini, khusus membicarakan tulisan sastrawan nasional Riki Dhamparan Putra tentang peta sosial, budaya, dan keagamaan ranah Minang terkini. Riki kelahiran Nagari Kajai, Talamau, Pasaman, pada 1 Juli 1975.

Bedanya dengan Navis, Riki lebih banyak hidup di rantau, tetapi kepeduliannya terhadap Minangkabau cukup besar, seperti yang dulu telah ditunjukkan oleh AA Navis yang telah tiada itu.

Dalam jaringan Tarbiyah Islamiyah tertanggal 10 Agustus 2020, artikel Riki berjudul, “Islam di Sumatra Barat yang Sedang Sial.” Judul ini sekaligus menunjukkan kegelisahan penulisnya terhadap “prahara” budaya yang sedang menimpa ranah Minang.

 
Ungkapan ‘sapi perah’ untuk Islam yang digunakan Riki terasa menyengat.
 
 

Perkataan “prahara” ditempatkan antara dua tanda kutip untuk menunjukkan bahwa situasi riil di sana mungkin baru pada tahap menuju ke sana. Perlu segera dicarikan obat penangkalnya bersama-sama, jika kita sudah punya bahasa yang sama dalam membaca masyarakat Minangkabau kontemporer.

Kalimat pertama Riki dalam artikel itu berbunyi: “Islam umpama sapi perah bagi masyarakat Sumatra Barat. Selain menjadi sumber energi dan nutrisi budaya, ia juga menjadi alat pencitraan yang utama. Tak kecuali pada era aplikasi Android ini, di saat Islam mendapatkan ekspresi barunya sebagai salah satu tools sosial yang paling fashionable untuk mendapatkan simpati dan pengaruh.”

Ungkapan ‘sapi perah’ untuk Islam yang digunakan Riki terasa menyengat. Agama ini telah dijadikan semacam kuda tunggangan oleh sebagian penganutnya untuk meraih tujuan-tujuan duniawi atas nama Tuhan.

Agama di tangan manusia yang tidak tulus biasanya, ditutupi dengan berbagai topeng untuk mengelabui masyarakat yang menjadi korbannya. Retorika yang digunakannya dalam berceramah di telinga pendengar yang jeli pastilah dirasakan sebagai sandiwara murahan belaka. 


×