Umat Islam membaca Alquran saat beriktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan 1442 H di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Senin (3/5/2021) dini hari. | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
09 May 2021, 03:05 WIB

Bukan Ramadhan Terakhir

Semangat kita untuk beribadah saat Ramadhan jangan sampai melalaikan keselamatan.

OLEH A SYALABY ICHSAN 

Pekan ini, Ramadhan sudah memasuki fase terakhir. Jika tak ada aral melintang, umat Islam akan merayakan Hari Idul Fitri 1442 Hijriyah pada Kamis, 1 Syawal, atau 13 Mei 2021. Untuk Ramadhan tahun ini, kaum Muslimin memang masih menghadapi ujian berupa pandemi Covid-19 yang kian merajalela di sejumlah negara. 

Di India, lonjakan kasus infeksi Covid-19 mencapai lebih dari 300 ribu kasus per hari, bahkan pernah mencapai rekor 400 ribu. Ribuan korban jatuh dalam sehari. Penuhnya krematorium membuat umat Hindu harus membakar sanak familinya di tanah lapang. 

Meski kasus di Indonesia menunjukkan tren penurunan, kesadaran kita untuk mematuhi protokol kesehatan tampaknya mulai lengah. Disiplin sudah mulai kendur. Faktanya, klaster-klaster yang bersumber dari buka bersama dan shalat Tarawih berjamaah masih bermunculan. Menjelang Lebaran, masyarakat  memenuhi pusat-pusat perbelanjaan. Virus mutasi baru pun sudah terdeteksi lolos dari bandara. 

Terkait

Dalam kondisi ini, lampu kuning mesti kembali dinyalakan. Tidakkah kita ingin merasakan Ramadhan yang lebih “normal” pada tahun depan? 

Rasulullah SAW sudah mewariskan kepada kita kaidah dalam menghadapi wabah. Kala kaum Muslimin diserang thaun, beliau bersabda: “Wabah thaun adalah suatu ayat, tanda kekuasaan Allah Azza Wajalla yang sangat menyakitkan, yang ditimpakan kepada orang-orang dari hamba-Nya. Jika kalian mendengar berita dengan adanya wabah thaun maka jangan sekali-kali memasuki daerahnya. Jika thaun telah terjadi pada suatu daerah dan kalian di sana maka janganlah kalian keluar darinya.” (HR Muslim).

photo
Umat muslim membaca Alquran saat beriktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan 1442 H di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Senin (3/5/2021) dini hari. Pada 10 hari menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, umat Islam melakukan iktikaf untuk meraih malam kemuliaan (Lailatul Qadar) dengan membaca Alquran, shalat Tahajud (malam) dan berzikir. Foto: Republika/Abdan Syakura - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Demikian ikhtiar yang diwasiatkan Rasulullah SAW kepada kita. Namun, jikalau musibah itu tetap datang maka kita berpegang kepada firman Allah SWT: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". (QS al-Baqarah: 155-156)

Ibadah puasa sebenarnya mengajarkan kepada kita makna kesabaran. Tidakkah Rasulullah SAW pernah memberi predikat Ramadhan sebagai bulan kesabaran? “Berpuasalah di bulan kesabaran dan puasalah tiga hari pada pada setiap bulan” (HR an-Nasa’i).

 
Tidakkah Rasulullah SAW pernah memberi predikat Ramadhan sebagai bulan kesabaran?
 
 

Lewat puasa, kita diajarkan untuk mengendalikan hawa nafsu dari yang haram bahkan yang halal. Makanan dan minuman halal menjadi terlarang saat kita berpuasa. Berhubungan suami-istri pada siang hari membatalkan puasa kita. Semua itu demi menguji diri kita untuk tampil menjadi manusia yang takwa.  

Tidak hanya itu, puasa juga mengajarkan kedisiplinan. Saat berpuasa, kita dituntut disiplin dalam waktu. Syariat menentukan kapan awal dan berakhirnya puasa. Ketika fajar atau Subuh tiba, maka makan dan minum serta hubungan suami-istri dihentikan untuk memulai puasa. Orang yang disiplin waktu merasa lebih baik menunggu daripada terlambat, sebagaimana waktu imsak. 

photo
Sejumlah santri bertadarus (membaca Alquran) saat mengikuti Pesantren Kilat di Rumah Quran Al-Fatih, Jatibening, Jawa Barat, Rabu (21/4/2021). Kegiatan pesantren kilat dengan menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan memakai masker tersebut dilaksanakan pada bulan ramadhan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.Prayogi/Republika. - (Prayogi/Republika.)

Sedangkan, bila Maghrib tiba, kita harus segera makan dan minum untuk mengakhiri puasa meskipun harus menunda beberapa saat pelaksanaan shalat Maghrib. Itulah mengapa kita dituntut mengefektifkan penggunaan waktu.

Dalam konteks menghadapi pandemi yang belum juga tuntas ini, sikap tersebut kita butuhkan. Sabar dan disiplin menjadi penting demi mencegah virus menular kembali. Semangat kita untuk beribadah saat Ramadhan jangan sampai melalaikan keselamatan.

 
Pada malam-malam yang tersisa, mari kita mendekatkan diri kepada Allah SWT.
 
 

Pada malam-malam yang tersisa, mari kita mendekatkan diri kepada Allah SWT. Malam ketika malaikat-malaikat turun untuk menebar rahmat-Nya. "Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat dan Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa bila dia berdoa kepada- Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS al-Baqarah: 186).

Muhammad Husein Thabathaba'i dalam sebuah tulisan berjudul "Tafsir Atas Ayat Alquran Aku Mengabulkan Doa" mengungkapkan, ayat di dalam surah al-Baqarah ini termasuk unik karena Allah SWT merujuk kepada diri sendiri sebagai orang pertama tunggal sebanyak tujuh kali. Deklarasi Allah SWT, "Bahwa sesungguhnya Aku dekat," menegaskan posisi Allah terhadap hamba.

Tak hanya itu, Thabathaba'i pun menjelaskan, ayat tersebut berada setelah dua ayat menyangkut ibadah puasa Ramadhan. Bulan ketika Lailatul Qadar diturunkan pada malam-malam ganjil di 10 malam terakhir.

Bila seorang hamba mendapatkan malam yang lebih baik daripada 1.000 bulan ini, kualitas iman dan takwanya akan semakin meningkat. Jika sudah mencapai dekat kepada-Nya, doa-doa pun akan dikabulkan. Salah satunya doa untuk merasakan kenikmatan Ramadhan kembali tahun depan.

Wallahu a'lam.


×