Warga bersilaturahim menggunakan fasilitas panggilan video untuk saling meminta dan memberi maaf dengan kerabatnya saat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah di Kota Madiun, Jawa Timur, Minggu (24/5/2020). Warga melakukan silaturahim denga | SISWOWIDODO/ANTARA FOTO

Ramadhan

08 May 2021, 06:43 WIB

Pandemi Bukan Penghalang Silaturahim

Tak harus tatap muka, banyak media yang bisa dimanfaatkan untuk bersilaturahim.

OLEH ALI YUSUF 

Bulan suci Ramadhan 1442 H hampir tiba di titik akhir. Hari raya Idul Fitri pun segera hadir. Sudah menjadi tradisi bagi umat Islam di Tanah Air, Lebaran atau hari raya Idul Fitri diwarnai dengan tradisi bersilaturahim kepada orang tua dan sanak keluarga.   

Namun, bagaimana dengan Idul Fitri pada masa pandemi, apakah tetap bisa dilakukan ketika acara mudik ke kampung halaman menjadi sesuatu yang dilarang? Apa pula sejatinya makna silaturahim ini?

Ketua Umum PB Al Washliyah KH Yusnar Yusuf mengatakan, silaturahim secara umum diartikan sebagai upaya menjalin keakraban dengan keluarga, kerabat dan yang setara dengannya. Alquran surah al-Hujurat ayat 10 menyebutkan tentang hal ini, yaitu, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

"Namun, jika berdasarkan Alquran, maka tidak ditemukan kaitannya dengan pulang kampung," kata Kiai Yusnar kepada Republika, belum lama ini.

Menurut dia, masyarakat saja yang membuatnya menjadi seolah-olah berkaitan, sehingga dipandang bahwa pulang kampung atau mudik pada akhir Ramadhan itu bersifat sakral, tidak boleh ditinggal, dan seperti wajib adanya. Padahal, semestinya tidak demikian.

“Sependapat jika dinyatakan bahwa pulang kampung atau mudik adalah perlakuan yang ditradisikan, atau perlakuan yang mentradisi, karena dilakukan di setiap akhir Ramadhan,” katanya.

Namun, untuk bersilaturahim, menurut Kiai Yusnar, sebaiknya lakukan sesering mungkin untuk meningkatkan persaudaraan yang hakiki. Apalagi, seperti disabdakan oleh Rasulullah SAW,“Orang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat aniaya terhadapnya dan tidak boleh pula menjerumuskannya.”

Sementara itu, dalam pandangan Ustaz Rafiq Jauhary Lc, silaturahim atau menyambung persaudaraan adalah bagian dari ibadah dalam Islam, dan hukumnya wajib. “Sebaliknya qathi'aturahim atau memutus persaudaraan adalah dosa yang tergolong sebagai dosa besar,” ujar alumnus Darul Hadits al-Ghomidy, Awaly, Makkah, Arab Saudi itu.

Rasulullah SAW bersabda,“Tidak akan masuk surga seseorang yang memutus tali persaudaraan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Meski demikian, bersilaturahim atau menyambung persaudaraan tidak selalu dilakukan dengan membuat pertemuan tatap muka. Apalagi dengan menentukan waktu khusus setiap Lebaran. "Hal itu justru dapat mempersempit makna silaturahim," katanya.

Kendati dalam suasana pandemi, menurut Ustaz Rafiq, silaturahim harus tetap terjaga. Jangan jadikan ancaman Covid sebagai penghalang silaturahim. Sebab, silaturahim masih tetap dapat terjalin dengan bertegur sapa melalui media lain seperti lewat telekonferensi.

"Bisa juga melakukan panggilan telepon, saling berkirim kartu Lebaran, saling berkirim parsel atau lainnya,” katanya.

Menyambung silaturahim merupakan bagian dari perintah Allah SWT dan Rasul. Perintah Allah tentang menyambung silaturahmi ada dalam surah ar-Ra’d ayat 21, yang artinya,“Orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkannya."

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW juga bersabda. "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim." (HR Abu Hurairah).

Untuk itu demi menjaga tali silaturahim, Ustaz Rafiq mengingatkan untuk selalu berbuat baik kepada kaum kerabat dan sanak famili. Juga kepada kaum fakir miskin, orang-orang yang memerlukan bantuan, dan selalu berupaya mendermakan kebajikan.


×