Jamaah haji menjaga jarak saat melaksanakan tawaf di Masjidil Haram, 2020. | Reuters

Ramadhan

07 May 2021, 19:13 WIB

Kini Masjidil Haram Diperlengkapi 7.500 Pengeras Suara

Sistem pengeras suara di Masjidil Haram adalah yang terbaik di dunia.

MAKKAH — Masjidil Haram, Makkah Arab Saudi sekarang diperlengkap dengan 7.500 pengeras suara yang tersebar di seluruh area masjid, seperti lantai, alun-alun, koridor, dan jalan-jalan. Pengeras suara itu akan mengirimkan suara adzan dan imam sehingga menggema ke berbagai arah mata angin.

Direktur Operasi dan Pemeliharaan pada Presidensi Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Mohsen bin Abdul-Mohsin al-Sulami mengatakan sistem pengeras suara Masjidil Haram adalah terbesar yang digunakan di dunia. Sebab, itu berfungsi melalui sensor akustik canggih dengan kepekaan yang sesuai dengan kebutuhan tempat.

Suara ditransmisikan melalui perangkat modern yang dioperasikan oleh spesialis yang sangat terlatih sehingga sinyal suara ditransmisikan ke penerima sangat jelas. Al-Sulami menekankan sistem suara Masjidil Haram beroperasi di bawah efisiensi yang ketat dan diawasi untuk menghindari kerusakan dengan memiliki cadangan dasar dan sistem darurat.

Jika terjadi kerusakan pada sistem utama, maka sistem cadangan akan langsung berfungsi sebagai pengganti. Perangkat ini terhubung ke perangkat UPS berkapasitas tinggi untuk memastikan pasokan listrik tidak terputus untuk semua lokasi audio.

Dilansir SPA, Jumat (7/5), al-Sulami menjelaskan lebih dari 65 staf operasional khusus insinyur, teknisi, supervisor, dan operator yang menjaga fungsi-fungsi ini untuk memastikan implementasi yang tepat sesuai dengan instruksi teknis. Sistem audio dioperasikan dari ruang kendali utama ekspansi kedua atau sub-Saudi di wilayah Al-Masaa.

Lebih lanjut, dia mengatakan tim berkomunikasi satu sama lain melalui “Intercom” untuk memastikan suara tidak terganggu sebelum ritual ibadah apa pun dan jauh sebelum adzan berkumandang.

Belum ada instruksi terkait haji

Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi menegaskan belum mengeluarkan instruksi resmi terkait pelaksanaan ibadah haji tahunan tahun ini. Juru Bicara Kementerian, Hisham Saeed, mengatakan Arab Saudi ingin memberikan kesempatan bagi semua Muslim di seluruh dunia untuk melakukan ritual haji. Namun, saat ini kementerian masih mengutamakan keselamatan jamaah haji.

Tahun lalu, kementerian memutuskan hanya memberi izin pelaksanaan haji bagi sejumlah jamaah domestik, mengingat merebaknya pandemi Covid-19 di seluruh dunia.

Sebagaimana diberitakan Saudi Gazette, Jumat (7/5), Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dr. Abdel Fattah Mashat, mengatakan jamaah haji asing dan domestik dapat melakukan umrah sesuai dengan persyaratan kesehatan dan protokol pencegahan virus Covid-19.

Tata cara umrah dapat diakses melalui aplikasi Eatmarna dan Tawakkalna. Dia juga menegaskan, penerapan langkah kehati-hatian akan menjadi prioritas utama, sambil memungkinkan jamaah haji dalam dan luar negeri melakukan umrah.

Terakhir, Mashat meminta umat Muslim untuk tidak memperhatikan iklan apa pun di media sosial, yang mengklaim mengeluarkan izin umrah.

Arab Saudi sedang mempertimbangkan pelarangan kedatangan jamaah haji luar negeri untuk tahun kedua. Hal ini disebabkan kasus Covid-19 yang mengalami peningkatan secara global.

Tak hanya itu, muncul kekhawatiran tentang munculnya varian baru virus Covid-19. Hal ini disampaikan oleh sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada sebuah media yang berbasis di Inggris, Rabu (5/5) waktu setempat. 

Kantor Berita The News pada Kamis (6/5) memperkirakan jamaah dari luar negeri akan kembali menunda kedatangannya ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah tahunan akan dibuka hanya bagi warga negara Saudi ataupun penduduk Kerajaan yang telah divaksinasi atau pulih dari Covid-19, setidaknya beberapa bulan sebelum kegiatan berlangsung.

Meski diskusi panjang tentang kemungkinan larangan ini telah dilakukan, belum ada keputusan akhir apakah hal ini akan ditetapkan atau tidak.

Dua sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan, pihak berwenang telah menangguhkan rencana untuk menampung jamaah haji dari luar negeri. Mereka hanya akan mengizinkan jamaah haji domestik yang telah divaksinasi atau telah pulih dari Covid-19, setidaknya enam bulan sebelum ziarah. Pembatasan usia jamaah juga akan diterapkan.

Sumber lainnya mengatakan, awalnya Kerajaan Saudi berencana mengizinkan sejumlah jamaah haji yang divaksinasi dari luar negeri. Namun, mereka kebingungan tentang jenis vaksin, kemanjurannya, dan kemunculan varian baru virus mendorong para pejabat untuk mempertimbangkan kembali keputusan ini.

Kantor media pemerintah tidak menanggapi permintaan komentar terkait hal ini. Saudi, yang mempertaruhkan reputasi atas perwaliannya pada situs-situs paling suci Islam di Makkah dan Madinah, melarang orang asing menunaikan ibadah haji tahun lalu karena pandemi untuk pertama kalinya dalam sejarah modern kerajaan. 

Infeksi Covid-19 masih meningkat di 35 negara secara global. Setidaknya, ada 153 juta infeksi yang dilaporkan dan 3,3 juta kematian disebabkan oleh virus tersebut sejauh ini.

Pada Februari, Pemerintah Saudi menangguhkan masuknya warga negara atau penduduk dari 20 negara, kecuali diplomat, warga negara Saudi, praktisi medis dan keluarga mereka. Keputusan ini diambil sebagai upaya membantu mengekang penyebaran virus Covid-19.

Larangan tersebut, masih berlaku hingga saat ini. Adapun 20 negara yang dimaksud di antaranya Indonesia, Uni Emirat Arab, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Afrika Selatan, Prancis, Mesir, Lebanon, India, dan Pakistan.


×