Dokter dari Tim Pertamina Peduli memeriksa kesehatan dan pengobatan pengungsi gempa bumi di Mamuju, Sulawesi Barat, Selasa (19/1/2021). PT Pertamina (Persero) memberikan kepedulian pada korban gempa Sulawesi Barat dengan memastikan ketersediaan BBM dan LP | ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Ramadhan

07 May 2021, 16:53 WIB

Peduli Sesama Perkuat Persatuan Bangsa

MUI berkomitmen membuat gerakan peduli sesama untuk pemberdayaan kaum duafa

JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta memberikan santunan kepada 100 anak yatim dan dhuafa di Hotel Grand Cempaka Jakarta pada Kamis 6/5/2021. Kegiatan santunan ini dilakukan MUI DKI dengan mengkordinir majelis-majelis taklim yang ada di Jakarta melalui Forum Silaturahmi Pimpinan Majelis Taklim (Fospita) dengan mengadakan buka puasa bersama.

"Hari ini bidang PRK dapat menyelenggarakan acara buka puasa dan santunan yatim dhuafa, untuk itu kami ucapkan terima kasih atas dukungan pimpinan MUI DKI Jakarta serta dukungan penuh dari baznas bazis Jakarta dan perumda jaya sehingga kami dapat menyelenggarakan acara pada hari ini dengan lancar. Amin," ujar ketua Bidang PRK MUI DKI Jakarta, Nuraini Saefulloh dalam siaran pers, Jumat (7/5).

Menurutnya, dalam kondisi pandemi Covid-19, acara ini sengaja digelar untuk pemberian paket lebaran yang langsung dapat diterima oleh anak yatim. Acara buka puasa bersama ini juga bertujuan untuk mempererat tali silaturahim, sekaligus berbagi kepada sesama yang tujuannya meningkatkan perekonomian keluarga muslim di Jakarta.

“Jika kita mau membantu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan keluarga, maka melalui majelis-majelis taklimlah sasaran yang tepat, karena di sana berkumpulnya punggung keluarga, di sanalah pemegang kendali keluarga berkumpul, sehingga di sana pulalah kita bisa memberikan arahan, pembinaan dan tuntunan ketrampilan untuk mengelola keluarga supaya bisa sejahtera,” kata Nuraini.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by MUI DKI Jakarta (muidki)

Nuraini berharap melalui program-program PRK MUI DKI Jakarta yang konsen terhadap bidang ekonomi, kesehatan, dan pendidikan keluarga, maka keberadaan FOSPITA sangat dinanti kehadirannya, agar semua program bidang PRK dapat terlaksana dengan baik, terukur dan berkelanjutan.

“Alhamdulillah bidang PRK MUI DKI Jakarta dengan dukungan penuh dari KH.Munahar Muchtar Ketum MUI DKI Jakarta bisa adakan bukber, karenanya pada kesempatan yang baik ini kami sekaligus meminta Ketum untuk mengukuhkan Forum Silaturahin FOSPITA,” ungkapnya.

Ketua tim penggerak PKK Provinsi DKI Jakarta, Fery Farhati mengatakam acara buka puasa bersama anak yatim dan dhuafa serta pengukuhan pengurus Fospita, diselenggarakan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Sehingga saat buka puasa pun para undangan dan peserta tetap berada di tempatnya masing-masing dan makanan diantar oleh petugas hotel.

Lebih berempati

Dewan pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan tausiyah menyambut Idul Fitri 1442 Hijriyah. MUI mengajak kepada seluruh umat Islam dapat lebih meningkatkan kepatuhannya terhadap ajaran Islam selepas menjalani serangkaian ibadah selama Ramadhan.

“Tingkatkan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada kaum dhuafa, fakir-miskin dan anak yatim-piatu terdampak Covid-19, dengan mengeluarkan zakat fitrah, zakat harta, Infak, sedekah, dan wakaf,” kata Ketua Umum MUI, KH Miftachul Akhyar, dalam tausiyah MUI menyambut Idul Fitri yang diterima Republika, Kamis (6/5).

MUI mengimbau, penyaluran zakat, infak, sedekah (ZIS) sebaiknya dilakukan melalui lembaga resmi, seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan lembaga amil zakat (LAZ) lainnya. Namun, apabila tidak dapat dilakukan, bisa disampaikan langsung kepada para mustahik, dengan perencanaan yang baik dan benar,  serta dikoordinasikan dengan aparat keamanan terkait. Tujuannya agar tidak menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan.

MUI menyerukan seluruh umat Islam pada khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya untuk tetap waspada terhadap ancaman pandemi Covid-19. “Jalani seluruh rangkaian ibadah Ramadhan dan hari raya Idul Fitri serta syiar Islam seperti takbir malam Idul Fitri dengan protokol kesehatan ketat, tidak melakukan kegiatan mudik Lebaran demi menjaga keselamatan jiwa diri sendiri, keluarga, dan warga sekeliling," jelasnya.

MUI juga menyarankan umat Islam melakukan silaturahim Lebaran melalui sarana virtual. “Mulai dari phone call hingga video call bagi warga di area zona merah," ujarnya.

Kiai Miftachul mengimbau pemerintah tidak ragu mengambil langkah tegas dan bijaksana. Tujuannya, untuk melindungi keselamatan seluruh warga melalui pembatasan mobilitas warga masyarakat.

“Rayakan Idul Fitri dengan senantiasa berdoa untuk keselamatan umat dan bangsa, mengedepankan perilaku terpuji, keamanan dan kenyamanan, menahan diri untuk tidak berperilaku tabdzir,” kata dia.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, mengajak masyarakat lebih berempati dan peduli kepada saudara sebangsa yang terpapar Covid-19. Menurut dia, menyongsong Idul Fitri boleh dijalani dengan kegembiraan, tapi jangan berlebihan dengan belanja dan lainnya yang melampaui kemestian, apalagi berkerumun. 

Idul Fitri harus tetap dijalani sebagai satu rangkaian puasa Ramadhan. Terlebih lagi, situasi pandemi belum reda.

 
Insan beriman mesti menunjukkan sikap empati, simpati, dan peduli sebagai wujud ihsan dan kesalehan.
PROF HAEDAR NASHIR
 

Dalam surah al-Maidah ayat 87 disebutkan bahwa Allah SWT tidak menyukai hamba-Nya yang melampaui batas. “Ingat, banyak saudara kita kekurangan dan terdampak pandemi. Insan beriman mesti menunjukkan sikap empati, simpati, dan peduli sebagai wujud ihsan dan kesalehan," ujar Haedar.

Jauhi sikap egois dan ekstrem dalam beragama dan menyambut Lebaran. Dia mengatakan, shalat Id perlu dilaksanakan dengan sangat hati-hati. Jika tidak memungkinkan, sebaiknya dilaksanakan secara terbatas di sekitar lingkungan atau di rumah tanpa melibatkan banyak jamaah.

Pemerintah telah melarang mudik. Haedar meminta semua mengikutinya demi mencegah dan mengatasi wabah agar tidak meluas. Namun, dia berharap, pemerintah juga membatasi kegiatan wisata dan pusat keramaian agar konsisten.

Apalah artinya mudik dilarang kalau pusat-pusat keramaian publik dilonggarkan. Haedar menilai, mencegah dan menahan diri dari segala bentuk kerumunan dan keadaan yang membuat mudarat harus diutamakan warga bangsa yang baik dan bertanggung jawab. “Terlebih lebih bagi Muslim yang berpuasa dan berhasil dalam pengendalian diri," ujar Haedar.


×