Petugas medis membawa pasien menggunakan tempat tidur roda keluar dari ruangan rawat pinere saat peresmian dan pengoperasian Rumah Sakit Rujukan Covid-19 di Banda Aceh, Aceh, Selasa (20/4/2021). | AMPELSA/ANTARA FOTO
06 May 2021, 09:57 WIB

Tetap Bersyukur di Tengah Musibah Pandemi Covid-19

Sakit atau musibah, seperti Covid-19 adalah salah satu hal yang wajib disyukuri.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI 

Sudah lebih dari setahun, pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Begitu banyak musibah menimpa umat manusia di tengah situasi yang mencekam ini. Ada yang sakit, bahkan wafat. Ada pula yang diimpit kesulitan ekonomi.

Namun, di tengah segala ujian dan cobaan berat ini, setiap Muslim harus senantiasa bersyukur dan bersabar. Terkait hal ini, Ketua Dewan Syuro al Irsyad al Islamiyah KH Abdullah Jaidi menjelaskan mengenai keutamaan sabar dan bersyukur pada masa pandemi.

Menurut dia, meski ujian terus-menerus menimpa di tengah pandemi ini, umat Islam harus tetap bersyukur kepada Allah SWT.

Terkait

“Ada sebagian dari pasien Covid-19 yang meninggal dunia, tapi banyak juga yang selamat dan sehat kembali. Hal inilah yang wajib disyukuri,” kata Kiai Jaidi kepada Republika, belum lama ini.

Sakit, menurut dia, merupakan salah satu cara Allah untuk menghapus dosa-dosa hamba-Nya. Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam surah asy-Syura ayat 30: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Karena itu, menurut dia, sakit atau musibah adalah salah satu hal yang wajib disyukuri sebagai sebuah nikmat. Karena Allah memberikan kesempatan kepada mereka untuk menghapus dosa-dosanya di dunia.

Mereka yang kembali sehat juga masih diberikan kesempatan untuk hidup dan melakukan amal-amal kebaikan. Dengan demikian, mereka dapat kembali mencari pahala untuk akhirat kelak.

Sebuah hadis menjelaskan terkait hal itu. “Dai Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: “Setiap kesulitan, penyakit, kerisauan, kesedihan, aniaya, dan bencana yang menimpa seorang Muslim, bahkan duri yang menusuknya niscaya Allah akan jadikan itu semua sebagai penebus berbagai kesalahan.’’

Dalam menghadapi pandemi ini, Kiai Jaidi juga menganjurkan untuk tetap khusyuk beribadah sebagai wujud rasa syukur, apalagi di bulan suci Ramadhan. Sedekah sebagaimana anjuran Rasulullah juga dapat menjadi cara untuk menolak bala.

Sebuah hadis mengisyaratkan tentang hal itu, “Sedekah itu benar-benar menolak bala” (HR Thabrani dari Abdullah ibnu Mas’ud).

Berdoa juga harus dilakukan untuk menjauhi bala. Nabi Muhamad SAW bersabda, “Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa” (HR Ahmad). Bahkan, ada doa yang langsung dari Allah untuk menuntun kita terhindar dari berbagai ujian, musibah, dan bala. “Duhai Allah jangan sekali-kali Engkau uji kami di luar batas kemampuan kami.” (QS al-Baqarah: 286).

"Menolak bala, tak hanya dalam menghadapi ujian pandemi, karena banyak saudara kita di daerah lain yang menghadapi pandemi juga tertimpa bencana. Seperti yang terbaru bencana di NTT," kata Kiai Jaidi.

Terhindar dari bencana, tentu wajib kita syukuri. Namun, bagi mereka yang tertimpa bencana tersebut, hendaknya tetap bersabar. Sebab, ujian ini sebenarnya juga adalah untuk meningkatkan kualitas diri. Karena tak ada orang di dunia ini yang lepas dari ujian, terutama ujian keimanan.

“Ketika tertimpa musibah, masihkah mereka tetap bersyukur, bersabar, dan beriman kepada Allah SWT? Ini akan menjadi ukuran bagi mereka untuk naik kelas dalam ujian keimanan,” ujar dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Wahdah Islamiyah (wahdah_islamiyah)

Sementara, Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustaz Zaitun Rasmin mengatakan, ujian pada masa pandemi tidak bisa dibandingkan dengan besarnya karunia Allah SWT yang diberikan kepada umat Islam. Maka, umat hendaknya tetap bersabar dalam menghadapi ujian ini, termasuk adanya pembatasan ibadah selama bulan suci Ramadhan.

Ia pun meminta umat Islam mematuhi aturan yang ditetapkan pemerintah, termasuk  menjaga protokol kesehatan. Pada Ramadhan tahun ini, shalat tarawih masih dibatasi terutama di wilayah zona merah, sehingga banyak jamaah yang tidak melaksanakan shalat tarawih di masjid. Jikapun bisa shalat tarawih, jumlah jamaah dibatasi.

Demikian juga dengan itikaf. Saat ini pelaksanaan i'tikaf masih dibatasi di masjid. Karena khawatir menjadi salah satu sumber penularan virus.

‘’Ramadhan sebagai bulan kesabaran, tentu menjadi latihan umat Islam untuk menjaga kesabaran. Terutama dalam menghadapi pembatasan ibadah,’’ kata Ustaz Zaitun.

Ustaz Zaitun yang juga Ketua Satgas Covid-19 MUI Pusat ini mengingatkan bahwa ketika kita bersikap sabar dan tetap bersyukur di tengah ujian maka Allah akan memberikan kebaikan-kebaikan dalam bentuk yang lebih baik, termasuk ditambahnya rezeki dan pahala.


×