Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika
06 May 2021, 06:48 WIB

Cara Mendapatkan Malam al-Qadr

Tujuan dirahasiakannya malam al-qadr adalah supaya kita benar-benar memburu setiap malam.

 

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

 

Tiga kali Allah SWT menyebutkan kata al-qadr dalam surah al-Qadr yang pendek. Padahal bisa saja Allah SWT menggunakan kata ganti dhamir pada sebagian ayat. 

Terkait

Misalnya pada ayat ketiga diganti dengan "Hiya khairun min alfi syahrin" (Dia lebih baik dari seribu bulan). Tetapi Allah SWT tidak melakukannya. Allah SWT lebih memilih mengulang penyebutan kata lailatul qadri secara langsung. 

Di sini ada makna pengagungan terhadap malam al-qadr. Juga ada makna penekanan bahwa peristiwa tersebut pasti terjadi. Maka tidak boleh seorang mukmin meragukan kejadiannya sedikitpun. 

Penekanan kata lalilatun (malam) menunjukkan bahwa itu pasti terjadi pada malam hari. Nabi Muhammad SAW menyebutkan waktunya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, antara tanggal 21 sampai 29 atau 30 Ramadhan. Artinya bagi yang ingin mendapatkannya hendaklak bersungguh-sungguh bangun setiap malam pada batas waktu tersebut. 

Ibn Masud RA mengatakan "Man yaqumil haul yushib lailatul qadr" (siapa yang bangun setiap malam sepanjang tahun pasti dapat malam al-qadr). Dengan ini, kita tidak perlu pilih-pilih malam. Sebab tujuan dirahasiakannya adalah supaya kita benar-benar memburu setiap malam.

 
Tujuan dirahasiakannya adalah supaya kita benar-benar memburu setiap malam.
 
 

Kalaupun ada hadis yang mengatakan bahwa itu terjadi pada malam-malam ganjil atau riwayat yang mengatakan bahwa itu banyak terjadi pada malam 27 Ramadhan, semua itu hanyalah ancer-ancer agar kita pada malam-malam tersebut lebih maksimal.

Namun tidak menutup kemungkinan itu terjadi pada malam yang kita anggap genap. Sebab ganjil-genap bisa menjadi relatif karena perbedaan ru’yah (melihat hilal) dan hisab sebagai upaya ijtihadiyah. 

Karena itu, selain hadis tentang puasa dan Tarawih, ada hadis khusus tentang malam al-qadr, "Man qaama lailatal qadri imanan wahtisaban ghufira lahu maa taqaddama min dzambih" (Siapa bangun beribadah di malam al-qadr, akan diampuni dosanya yang telah lewat). 

Dari ayat penutup surah al-Qadr, "Salamun hiya hatta mathlai’il fajar", tergambar ciri-ciri malam al-qadr sebagai ancer-ancer untuk mendapatkannya.

 
Dampak sosial akan berpengaruh pada pembntukan akhlak mulia, lemah lembut, rendah hati, tidak sombong, peduli dan saling menhormati.
 
 

Kata salamun (damai), maksudnya di malam itu aman terkendali, tidak ada bencana, angin kencang, hujan deras, dan lainnya. Nabi Muhammad SAW menyebutkan malam itu cerah, tidak terlalu panas atau terlalu dingin, pagi harinya matahari tampak tidak tajam cahayanya. 

Bentuk kata salamun nakirah (indefinite noun) menunjukkan keagungan dampak yang akan terjadi jika mendapatkannya, dampak terhadap kehidupan pribadi akan semakin damai dan penuh keharmonisan dalam rumahnya.

Dampak sosial akan berpengaruh pada pembntukan akhlak mulia, lemah lembut, rendah hati, tidak sombong, peduli dan saling menhormati. Dan dampak terhadap kehidupan bernegara yaitu tegaknya keadilan sebagai syarat tercapainya kedamaian hakiki.


×