Surya Sahetapy, difabel tuli yang kini belajar di Amerika Serikat | Youtube
04 May 2021, 10:38 WIB

Ramadhan Ala Surya Saherapy, Difabel Rungu Muslim di AS

Selama menjalani puasa Ramadhan, Surya Saherapy tidak bisa mengandalkan siapa pun untuk membangunkannya sahur.

OLEH DEA ALVI SORAYA 

Bagi Surya Sahetapy, menuntut ilmu di luar negeri, terlebih di Amerika Serikat (AS), merupakan suatu keberhasilan yang tak ternilai. Aktivis Tunarungu Indonesia yang sedang mengenyam pendidikan di Rochester Institute of Technology New York ini membagikan sedikit cerita dan pengalamannya tinggal di AS dari sudut pandangnya sebagai seorang difabel rungu Muslim. 

Dia bercerita, bahasa isyarat yang digunakan di AS berbeda dengan bahasa isyarat yang biasa dia gunakan di Indonesia, terlebih Jakarta, tempat kelahirannya. Bahasa isyarat umum yang digunakan di AS adalah America Sign Language (ASL).

ASL terdiri atas beberapa level. “ASL yang digunakan di kampus atau akademik dengan saat di jalan atau nonakademik itu juga berbeda,” ujarnya dalam webinar berjudul “Ramadhan and the Daily Life of Student with Disabilities in the US” yang digelar @america, Kamis (29/4).

Terkait

Setiap daerah di AS juga memiliki bahasa isyarat yang berbeda-beda. “Bahasa isyarat New York akan berbeda dengan Los Angeles, begitu juga di Indonesia,” kata dia.

Menariknya, di AS, Surya lebih mudah berkomunikasi dengan orang-orang sekitarnya meski menggunakan bahasa isyarat, mengingat, di AS, setiap orang mendapatkan pelajaran mengenai ASL dasar. 

“Di Amerika, orang-orang dengar juga sudah diajarkan bahasa ASL dasar sejak kecil. Jadi, saat saya ke kantor polisi, ke kafe, atau ke tempat publik lain, saya tetap bisa berkomunikasi dengan baik,” ujarnya.  

Selama menjalani puasa, Surya tidak bisa mengandalkan siapa pun untuk membangunkannya sahur. Terlebih lagi, di AS, tidak ada pemberitahuan waktu shalat atau imsak seperti di Indonesia. Sebagai gantinya, dia mengandalkan alat sejenis alarm berbasis getaran yang dapat membantunya untuk bangun saat sahur. 

“Saya hanya mengandalkan teknologi, Muslim Pro, aplikasi di mana saya bisa mendapatkan informasi waktu shalat dan imsak. Teknologi ini berbentuk alarm berbasis getaran. Jadi, walaupun tuli saya masih bisa terbangun dengan alarm tersebut,” jelasnya.

Namun, terkadang Surya lupa mengaktifkan alat itu atau ketika alat itu jatuh, getarannya tidak terasa oleh Surya. “Itu jadi tantangan juga,” ujar putra pasangan artis Dewi Yull dan Ray Sahetapy ini.

Selama pandemi Covid-19, seperti halnya di Indonesia, setiap kegiatan mengalami pembatasan. Begitu juga kegiatan keagamaan, seperti shalat Tarawih, berbuka bersama, dan ngabuburit. Namun, kini semua kegiatan tersebut sudah berbasis digital sehingga meski tidak bertatap langsung, dia tetap bisa menyaksikan proses kegiatan dengan nyaman di rumah. 

“Shalat Tarawih, kami ada khususnya bagi siswa di asrama, tapi karena lokasi saya jauh, jadi saya hanya beribadah di rumah,” kata dia.

Di kampus Surya, juga ada sistem informasi tentang jadwal shalat Tarawih, nama penceramah, serta topik ceramah. “Sehingga kami, tunarungu, bisa meminta pengadaan penerjemah bahasa isyarat, jadi saya lihat tidak ada masalah berarti di sini,” ujarnya.


×