Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika
04 May 2021, 06:55 WIB

Dahsyatnya Malam al-Qadar

Bagaimana dahsyatnya malam al-Qadar, cukuplah kita melihat dari segi kata al-Qadar,

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

 

Setiap 10 malam terahir Ramadhan, Rasulullah SAW mengkhususkan diri untuk itikaf. Dalam arti, berdiam diri di masjid, hanya melakukan zikir dan perbanyak ibadah, serta tidak keluar dari masjid kecuali karena hajat. 

Inilah contoh yang Nabi Muhammad SAW lakukan dalam memburu malam al-Qadar. Malam yang sangat agung, tidak ada yang tahu pasti malam ke berapa dari sepuluh terakhir Ramadhan. Nabi SAW, bersabda: "Taharraw lailatal qadri fil wutri minal ‘asyril awakhir min ramadhan." (Burulah malam al-Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramdhan) (HR Bukhari). 

Terkait

Dari hadis ini jelas batas waktu turunnya malam al-Qadar bahwa itu hanya terjadi pada antara malam dari 10 malam terakhir Ramadhan. Lalu lebih khusus lagi di antara malam-malam ganjil.

Namun secara pasti tetap itu rahasia Allah SWT. Karena itu dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap 10 malam terakhir Ramadhan Nabi Muhammad SAW meningkatkan ibadahnya. Memingkis lengan baju "syaddal mi’zar", tanda bahwa siap gaspol ibadah.

 
Memingkis lengan baju "syaddal mi’zar", tanda bahwa siap gaspol ibadah. 
 
 

Dikatakan bahwa Nabi SAW, "Ahyal laila kullahu". (Tidak pernah tidur malam), dan "Ayqazh ahlahu"(membangunkan keluarganya). Untuk mengetahui bagaimana dahsyatnya malam al-Qadar, cukuplah kita melihat dari segi kata al-Qadar, yang paling tidak mempunya tiga makna:

(a) al-Qadar artinya takdir, bahwa pada malam itu semua perjalanan takdir manusia selama setahun ke depan ditentukan. Karena itu memohonlah kepada Allah SWT supaya selalu mendapatkan takdir yang baik. 

(b) al-Qadar artinya keagungan, dalam bahasa Arab kita mengenal istilah "syahadatut taqdir" (piagam penghargaan), bahwa tidak ada malam yang lebih agung daripada malam tersebut. Sebab di malam itulah Alquran diturunkan.

Allah SWT berfirman: "Innaa anzalnahu fii lailatil qadr" (QS al-Qadr: 1). Tidak ada kitab yang lebih agung daripada Alquran, maka segala sesuatu yang bersentuhan dengan Alquran ikut menjadi agung. 

(c) al-Qadar artinya sempit, seperti dalam ayat "Faqudira alaihi rizquhu" (disempitkan rizkinya). Untuk yang terakhir ini, maksudnya bahwa pada malam itu langit dan bumi sangat sempit karena turunnya para malaikat berdesak-desakan hadir mengagungkan malam tersebut.

Para malaikat selain berzikir juga mendoakan hamba-hamba Allah SWT yang pada malam itu bangun beribadah kepada Allah SWT. Tampaknya inilah yang membuat Nabi SAW benar-benar memburu malam alqadar, dan mengajak umatnya agar memburunya. 

Bayangakan suasana yang sangat dahsyat tersebut. Apakah kita tidak merasa malu melihat semangat para malaikat berzikir dan mendoakan kita, sementara kita di malam itu masah sibuk dengan tidur, atau kesia-siaan?


×