Vaksinasi menjadi salah satu kunci penting revisi positif proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara. | EPA
01 May 2021, 05:57 WIB

Melihat Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Vaksinasi menjadi salah satu kunci penting revisi positif proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara.

 

OLEH AGUNG P VAZZA

Perlahan tapi pasti, perekonomian Asia Tenggara mulai bergerak menuju pemulihan pada 2021. Hanya saja, pemulihan perekonomian diperkirakan berjalan lambat lantaran masa depan penanganan pandemi belum benar-benar jelas. Meski pelaksanaan vaksinasi sudah berjalan, namun kekhawatiran merebaknya varian baru virus masih membayangi.

Bagaimanapun, pelaksanaan vaksinasi diakui menjadi motor penting mulai bergulirnya perekonomian Asia dan Asia Tenggara. Setidaknya survei yang dilakukan Japan Center for Economic Research dan Nikkei, cukup mengindikasikan kondisi tersebut.

Terkait

Survei dilakukan mulai awal sampai akhir Maret lalu, dengan menganalisis jawaban ekonom dan analis sebagai responden di India, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina. Survei yang dipublikasi awal April ini secara tegas menyebutkan progres cepat vaksinasi di Singapura dan Indonesia memicu muncul revisi ke atas terhadap perekonomian kedua negara.

Berdasarkan survei tersebut ekonom memprakirakan perekonomian lima negara utama Asia Tenggara mencapai pertumbuhan positif pada 2021. Baik perekonomian Singapura dan Indonesia direvisi ke atas, dibanding survei sebelumnya pada Desember tahun lalu.

Singapura tahun ini diperkirakan mengalami pertumbuhan ekonomi 6,1 persen, meningkat dari prakiraan sebelumnya 4,5 persen. PDB Indonesia diperkirakan ekspansi sampai 3,9 persen, sedikit lebih baik dari prakiraan sebelumnya 3,6 persen. Survei yang sama menyebutkan salah satu kunci penting revisi ke atas tersebut lantaran kedua negara dinilai relatif mencatatkan kemajuan dalam program vaksinasi.

"Kita berharap vaksinasi sebagai 'game changer' bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi pada 2021 kembali ke level sebelum pandemi," ungkap Deni Ramdani, peneliti di Bank Mandiri, salah satu responden survei, seperti dilansir Nikkei Asia.

photo
Vaksinasi menjadi salah satu kunci penting revisi positif proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara. - (EPA)

Pandangan senada dilontarkan Wisnu Wardana, ekonom Bank Danamon Indonesia, yang juga menjadi responden. "Pelaksanaan program vaksinasi terus meningkat dan relatif lebih baik dibanding negara-negara peer," jelasnya.

Selain vaksinasi, Deni juga melihat kebijakan moneter sangat membantu. "Penurunan suku bunga adalah sesuatu yang positif untuk mendukung pemulihan ekonomi," terangnya.

JCER survei dan analis memperkirakan suku bunga acuan berkisar di 3,55 persen sampai paruh kedua 2021. Wisnu juga memperkirakan suku bunga tidak akan naik tahun ini. Bank Indonesia (BI) diyakininya tetap mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 persen dalam jangka pendek. Kenaikan suku bunga diprediksi mulai terjadi pada 2022 dengan asumsi pemulihan ekonomi domestik on-track.

Secara terpisah, Deputi Gubernur BI Dodi Budi Waluyo menegaskan komitmen bank sentral untuk menerapkan kebijakan akomodatif, sejalan dengan progres vaksinasi. BI awal bulan ini memutuskan tidak mengubah kebijakan suku bunga sambil terus berupaya menstabilkan mata uang Rupiah di tengah ketidakpastian pasar global.

Sampai saat ini, sejak akhir tahun lalu, BI sudah memangkas suku bunga sebanyak enam kali dengan total sebesar 150 basis poin. Tujuannya tak lain membantu ekonomi meredam tekanan pandemi.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berkisar antara 4,8 persen sampai lima persen pada 2021," ungkap Dodi dalam sebuah forum investasi di Bali, seperti dikutip Reuters, akhir Maret lalu.

Secara formal, BI memprakirakan perekonomian nasional 2021 tumbuh dalam kisaran 4,3 persen sampai 5,3 persen, lebih baik ketimbang kontraksi pertumbuhan sebesar 2,1 persen selama 2020 yang tercatat sebagai pertumbuhan negatif pertama dalam dua dekade terakhir.

Revisi Proyeksi IMF

Secara keseluruhan, perekonomian Singapura dan Indonesia diproyeksikan mengalami kontraksi yang lebih kecil dibanding Malaysia, Filipina, dan Thailand, dalam periode Januari-Maret. Meskipun ketiga negara tersebut sudah pula melakukan vaksinasi, tapi dinilai sedikit tertinggal dibanding Indonesia dan Singapura.

Sedangkan pertumbuhan rata-rata kombinasi lima negara Asia Tenggara tersebut diprediksi di kisaran 5,5 persen pada 2022, meningkat dibanding prediksi survei sebelumnya di kisaran 5,0 persen. Terkait itu, salah satu faktor risiko yang membayangi pemulihan tak lain meningginya inflasi serta meningkatnya jumlah pengangguran.

Survei JCER jelas mengindikasikan kuatnya optimisme pemulihan ekonomi di Asia Tenggara. Namun, Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan data sebaliknya. Meski tetap menyiratkan optimisme, IMF justru merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan beberapa negara di Asia Tenggara.

IMF memperkirakan lima perekonomian utama di kawasan (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam), secara kolektif, tumbuh sekitar 4,9 persen pada 2021. Angka ini menurun dibanding proyeksi sebelumnya di kisaran 5,2 persen. Progres vaksinasi di negara-negara itu juga dinilai masih lambat dibanding negara-negara lain secara global.

Deputi Direktur IMF untuk Asia dan Pasifik, Jonathan Ostry menjelaskan masih terus bertambahnya kasus Covid-19 ditambah pembatasan baru mobilitas, cukup menghambat prospek perekonomian beberapa negara Asia Tenggara. "Sektor yang menjadi perhatian adalah pariwisata," ungkap Ostry dilansir CNBC.

Bersamaan dengan proyeksi Asia Tenggara tersebut, IMF juga memproyeksikan pertumbuhan secara keseluruhan kawasan Asia dan Pasifik yang justru meningkat dari 7,3 persen menjadi 7,6 persen tahun ini. Sedangkan pertumbuhan global juga diprediksi membaik dari 5,5 persen menjadi enam persen.

Begitupun, Ostry menambahkan, negara-negara maju di Asia Pasifik seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru tetap tumbuh lebih lambat dibanding prospek positif kawasan. "Asia sangat terbuka dan berorientasi ke depan, dan sangat mungkin mendapat imbas positif perekonomian AS yang membaik juga besarnya stimulus fiskal AS," katanya.

 
Asia sangat terbuka dan berorientasi ke depan, dan sangat mungkin mendapat imbas positif perekonomian AS yang membaik juga besarnya stimulus fiskal AS
 
 

Sedangkan terkait negara-negara berkembang Asia, dijelaskannya IMF memberikan revisi ke atas pertumbuhan ekonomi Cina dan India. Cina diperkirakan mengalami pertumbuhan 8,4 persen tahun ini, dan India tumbuh 12,5 persen, lebih baik ketimbang prediksi IMF sebelumnya di kisaran 11,5 persen. Ostry memberi sedikit catatan bagi India terkait kembali meningginya kasus Covid-19.

Terlepas dari masih beragamnya prediksi pemulihan ekonomi negara-negara Asia dan Asia Tenggara, bayang-bayang pemulihan sangat mungkin mulai terlihat meski masih samar. Apalagi ketidakpastian progres vaksinasi dan peluang menyebarnya varian baru virus juga masih membayangi.

Tak pelak, upaya menjaga momentum pemulihan ekonomi perlu lebih serius dijaga, didukung akselerasi progres vaksinasi, sembari memitigasi risiko-risiko yang berpeluang muncul dan menghambat pemulihan.


×