Anak belajar sambil bermain (ilustrasi) | Zabur Karuru/Antara

Sehat

03 May 2021, 11:23 WIB

Agar Anak Tangguh Hadapi Pandemi

Gizi dan stimulasi diperlukan agar anak tangguh.

Di masa pandemi Covid-19, bisa dibilang yang paling relevan adalah potensi prestasi tangguh. Menjadi anak yang tangguh bukan dari sekadar fisik, tapi juga kondisi psikologis yang mampu menghadapi stres.

Misalnya saat anak tidak bisa membuka kotak makan, dia akan mencoba lagi sampai berhasil mengatasi masalah. ''Jadi secara keseluruhan, dorongan potensi dibutuhkan anak dan jadi fondasi bagi tumbuh kembang di tahun-tahun berikutnya,'' ujar psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi.

Poin yang perlu diingat juga adalah terkait kesetaraan. ''Jangan sampai anak bertumbuh tinggi, tapi belum lancar bicara di usia dua tahun yang biasanya anak-anak sudah menguasai satu sampai dua kata. Tidak ada potensi terlalu tinggi atau rendah dan tidak terlambat, melainkan terus berkembang dari usia satu tahun sampai tahun berikutnya,'' kata Anna.

Apabila potensi itu tidak tercapai, anak bisa digambarkan tidak lincah, luwes, seimbang, kaku dan mudah capek secara fisik. Kemudian, canggung, tidak berpikir cepat, mudah teralih oleh yang sedang dibicarakan, pelupa hingga mudah tertipu dengan pikiran cenderung tertutup.

Potensi kepercayaan diri yang tidak tercapai juga menyebabkan anak tidak kerap cemas, ragu-ragu dan banyak masalah. Selain itu, minder, sulit komunikasi dan berteman sehingga sulit mendapat peluang, mencari kerjaan dan banyak kegagalan. Sebaliknya, jika potensi itu tercapai, anak cenderung bisa memotivasi diri untuk terus bangkit menyelesaikan masalah.

Di masa pembelajaran jarak jauh (PJJ), tentu waktu layar dan penggunaan gawai anak juga menjadi bertambah. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua. Anna mengatakan ada begitu banyak cara membuat anak agar aktif secara fisik. Salah satunya dengan banyak mengajak berkomunikasi dengan kontak mata. “Banyak ngobrol. Jangan sampai ngobrol tapi kontak ibu dengan layar,” katanya.

Upaya itu sudah merupakan bagian stimulasi sekaligus mendekatkan hubungan bunda dengan si kecil, sehingga tercipta komunikasi yang lebih nyaman. 

Cara lainnya, seperti bermain peran atau drama dengan skenario tertentu. Ketika banyak skenario, maka banyak yang dibicarakan tentang apa saja yang bisa menjadi bekal luar biasa. Contohnya, si kecil berperan sebagai pemilik rumah, lalu ia menerima tamu, dari mulai mendengar ketukan pintu, salam.

Anak berlatih menyajikan minuman dan sebagainya, sehingga suatu hari ketika anak mengalami pengalaman serupa, ia tahu apa yang akan dilakukan. Ketika pandemi usai, anak juga punya bekal untuk kembali bertemu dengan banyak orang.

photo
Anak bermain dan belajar (ilustrasi) - (Pixabay)

Penuhi Gizi Si Kecil

Setiap orang tua bertanggung jawab bagi masa depan anaknya. Maka, untuk memenuhi aspek tumbuh kembang buah hati, dibutuhkan nutrisi maupun stimulasi yang lengkap.

Itu pula yang dilakukan aktris dan pesinetron Alyssa Soebandono. Salah satu asupan yang ia perhatikan adalah kebutuhan zat besi si kecil. “Karena ternyata kalau sampai kekurangan zat besi, dampaknya benar-benar berbahaya, mungkin orang tua merasa masih bisa dibenarkan, padahal jadinya bertumpuk,” kata Alyssa.

Ibu dua anak itu menyadari pemenuhan nutrisi dan stimulasi untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Istri Dude Herlino itu kerap berpikir apakah nutrisi dan stimulasi yang dia berikan sudah tepat atau belum. “Untuk nutrisi sudah cukup belum ya, jadi saya sangat hati-hati terlebih di saat seperti sekarang, kita harus sangat menjaga kesehatan. Anak-anak kan belum tahu soal gizi, permainan,” ujarnya.

Jadi, bagi Alyssa, kunci generasi maju berada di tangan tua. Orang tua perlu banyak mencari tahu informasi, tidak malas belajar. Lebih dari itu, Alyssa juga kreatif dalam mencari cara agar sang anak mau mengonsumsi makanan yang disajikan dengan nutrisi yang seimbang. Apalagi anak sulungnya, Rendra, termasuk tipe pemilih makanan alias picky eater. Terkadang menu makanan dibentuk bintang, bola nasi, diselipkan daging, hati dan atau sayuran agar menimbulkan selera makan dia.

Alyssa pun berharap kedua anaknya, Rendra dan Malik, bisa menjadi anak yang selalu aktif, mau belajar, dan ingin memenuhi rasa ingin tahunya. Harapan Alyssa tentu serupa dengan keinginan para orang tua yang lain. Kita semua tentu berharap buah hati tercinta bisa tumbuh sehat dan berprestasi di masa depan.

Untuk mencapai itu, ada sejumlah aspek yang perlu diperhatikan.Selain nutrisi yang lengkap, stimulasi juga penting untuk mengasah potensi prestasi pada anak. “Terutama dengan adanya berbagai tantangan saat ini,” kata psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi, dalam ajang pertemuan virtual pada akhir Februari lalu.

Dia menjelaskan ada aspek tumbuh kembang yang mempengaruhi lima potensi prestasi anak yang dibutuhkan untuk menjadi generasi maju.  Kelima potensi prestasi anak, seperti tumbuh tinggi, berpikir cepat, tangguh, percaya diri, dan aktif bersosialisasi untuk dapat menjadi anak generasi maju. ‘’Pada kondisi seperti sekarang, orang tua dan anak harus menyesuaikan diri. Mendukung potensi prestasi anak pun semakin penting di masa yang tidak menentu,’’ ujar Anna.

Ketika seorang anak tumbuh tinggi, artinya fisiknya tumbuh berkembang sesuai usia. Dalam kartu sehat keluarga juga tersedia grafik pemantau pertumbuhan berat, tinggi badan maupun lingkar kepala anak yang dapat menjadi acuan. ‘’Maka prestasi yang optimal adalah pertumbuhan anak yang terus berada di garis hijau yang disarankan,’’ kata Anna.

 

 

 

Pada kondisi seperti sekarang, orang tua dan anak harus menyesuaikan diri. Mendukung potensi prestasi anak pun semakin penting di masa yang tidak menentu.

Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi
 

 

Berikutnya, pencapaian optimal potensi berpikir cepat yaitu anak bisa cepat memahami, kritis, tidak gampang terlena dengan hoaks, bisa menilai informasi, kreatif banyak ide, bicaranya juga lancar. Percaya diri yang optimal juga bukan berarti mau tampil terus menerus, tapi memang percaya pada dirinya, punya keyakinan terhadap kemampuan dirinya.

Selanjutnya, potensi aktif bersosialisasi anak yaitu mereka punya banyak keterampilan sosial, mampu bekerja sama dan berbagi empati serta tolong menolong. Itu semua relevan karena dibutuhkan dan menjadi dasar tumbuh kembang anak. Sedangkan untuk stimulasi aktivitas fisik, banyak sekali yang bisa dilakukan, mulai dari kreatif bermain bola, tidak hanya ditendang. Anak juga perlu dilibatkan dalam kegiatan rumah tangga.

Secara garis besar, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam proses tumbuh kembang anak, yaitu, motorik, kognitif dan sosial emosional. Barometer perkembangan motorik yaitu bagaimana anak bertumbuh tambah tinggi sekaligus gerakannya yang lebih fleksibel. Dalam segi aspek kognitif, yaitu kemampuan berbahasa anak dan bagaimana berkonsentrasi menangkap informasi serta menyimak, menjawab dalam berkomunikasi.

Aspek sosial emosional adalah tentang bagaimana anak mengenali emosi dan mengendalikan diri serta percaya diri, bersosialisasi baik bersama anak lainnya.

Untuk mengoptimalkan ketiga aspek, perlu memenuhi nutrisi dan stimulasi si kecil. Ketika anak kurang zat besi dan vitamin C, misalnya, anak mengalami kurang berat dan tinggi badan serta rewel, di aspek motorik. Di aspek kognitif, timbul kondisi seperti sulit konsentrasi, mudah terdistraksi, daya tangkap rendah, mudah lupa.

Dampak jangka panjangnya adalah prestasi anak menjadi tidak optimal, sulit mengendalikan emosi, mudah marah, meledak-ledak, sedih, susah diatur, sulit bergaul dan minderan. “Belum lagi menurut penelitian, kekurangan zat besi berkorelasi dengan kesehatan mental, depresi atau masalah psikologis yang bisa berasal dari kekurangan nutrisi,” tambah Anna.


×