anak-anak tertidur saat gerobak yang ditarik ibunya di kawasan Kalimalang, Bekasi, Kamis (12/4). (ilustrasi) | Tahta Aidilla/Republika

Opini

Dilema ‘Generasi Sandwich

Data BPS menunjukkan, empat dari 10 lansia Indonesia (39,10 persen) tinggal dalam rumah tangga tiga generasi.

MARDHA TS, Statistisi di Badan Pusat Statistik

Terjebak di antara dua generasi, itulah kondisi yang merepresentasikan generasi  sandwich. Istilah ini pertama kali diperkenalkan Dorothy A Miller (1981) dalam jurnal ‘Sandwich Generation: Adult Children of The Aging.’

Miller mendefinisikan “generasi sandwich” sebagai generasi orang dewasa yang harus memenuhi kebutuhan anak-anak, sekaligus orang tua mereka, baik itu kebutuhan finansial maupun kebutuhan psikologis.

Mereka yang termasuk generasi sandwich cenderung mengalami lebih banyak tekanan, karena harus menanggung beban finansial untuk tiga generasi sekaligus.

 
Mereka yang termasuk generasi sandwich cenderung mengalami lebih banyak tekanan, karena harus menanggung beban finansial untuk tiga generasi sekaligus.
 
 

Selain itu, mereka mesti memainkan banyak peran untuk mengatur keseimbangan kehidupannya. Misalnya, sebagai orang tua dari anak-anak, suami/istri dari pasangan, anak dari orang tua, atau sebagai seorang pekerja.

Populasi generasi sandwich

Populasi generasi sandwich di Indonesia tersembunyi dalam demografinya. Data pasti populasi ini belum tersedia. Namun, Sensus Penduduk 2020 dan Publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan gambaran.

Sensus Penduduk 2020 mencatat, dari 270,2 juta jiwa penduduk Indonesia, 9,78 persennya lanjut usia (lansia). Ini menandakan, Indonesia dalam transisi menuju era ageing population, suatu kondisi ketika persentase penduduk usia 60 tahun ke atas lebih dari 10 persen.

Menurut PBB, fenomena ini terjadi ketika umur median penduduk dari suatu wilayah atau negara meningkat karena bertambahnya tingkat harapan hidup atau menurunnya tingkat fertilitas.

Peningkatan jumlah penduduk lansia di Indonesia, memiliki berbagai dampak sosial dan ekonomi. Salah satu hal yang patut diperhatikan adalah kestabilan finansial penduduk lansia itu sendiri. Kondisi saat ini mengimplikasikan stabilitas keuangan lansia belum tercapai.

 
Hingga 2020, jaminan kesehatan belum menjangkau seluruhnya, 26,41 persen penduduk lansia masih belum memiliki jaminan kesehatan apa pun.
 
 

Dalam publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia 2020, hanya sekitar tujuh dari 100 lansia yang sumber pembiayaan terbesar rumah tangganya berasal dari pensiunan (6,45 persen) atau investasi (0,58 persen).

Sementara itu, 92,98 persen lansia memerlukan dukungan finansial untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Baik dari anggota rumah tangga yang bekerja maupun kiriman uang/barang dari keluarga dan pihak lain.

Selain itu, kondisi fisik lansia mengalami proses penuaan, yang menyebabkan munculnya lebih banyak penyakit. Proses degenerasi pun menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit infeksi.

Kondisi itu menegaskan pentingnya jaminan kesehatan bagi lansia. Dalam Rencana Aksi Nasional Lansia 2020-2024, pemerintah mengeklaim, akan meningkatkan kualitas dan kuantitas kesehatan. Salah satunya, melalui ketersediaan jaminan kesehatan bagi lansia.

Hingga 2020, jaminan kesehatan belum menjangkau seluruhnya, 26,41 persen penduduk lansia masih belum memiliki jaminan kesehatan apa pun.

Data lain dari BPS menunjukkan, empat dari 10 lansia Indonesia (39,10 persen) tinggal dalam rumah tangga tiga generasi. Ketiga generasi tersebut mengacu pada orang tua, anak atau menantu perempuan, dan cucu dalam satu rumah tangga.

 
Kedudukan anak dalam keluarga besar tersebut adalah mereka yang rentan dalam fenomena generasi sándwich
 
 

Kedudukan anak dalam keluarga besar tersebut adalah mereka yang rentan dalam fenomena generasi sándwich. Bukan masalah jika memiliki kapasitas keuangan mencukupi untuk menopang keluarga dan mendanai orang tua mereka.

Generasi sándwich dari keluarga kelas menengah ke bawah, bagaimanapun, akan menghadapi lebih banyak masalah. Mendukung tiga generasi sekaligus, membuat mereka lebih rentan terjepit di antara berbagai tanggung jawab yang mereka miliki.

Memutus rantai

Penting untuk diingat, dalam memahami fenomena generasi sándwich bukan berarti mengabaikan anak dan orang tua yang telah menjadi tanggungan. Yang perlu diperhatikan, bagaimana memutus mata rantai itu ke depannya.

Indonesia saat ini memiliki 70,72 persen penduduk yang tergolong usia kerja. Pada tahun-tahun mendatang, mereka akan berangsur-angsur mencapai usia tua dan tidak lagi bekerja. Proyeksi penduduk juga menunjukkan, akan terjadi peningkatan penduduk yang menua.

Untuk menghentikan rantai generasi sandwich, generasi muda harus mulai membangun kesiapan finansial sedini mungkin. Saat ini, jaminan pensiun merupakan sesuatu yang belum lumrah dimiliki lansia di Indonesia.

 
Ini mempertegas masih banyak lansia berstatus ekonomi rendah, yang belum memiliki jaminan sosial.
 
 

Data BPS menunjukkan, hanya 13,84 persen rumah tangga lanjut usia yang memiliki jaminan sosial, yang meliputi jaminan pensiun, jaminan hari tua, asuransi kecelakaan kerja, asuransi jiwa, atau pesangon pemutusan hubungan kerja.

Lalu jika dilihat lebih lanjut berdasarkan status perekonomiannya, terungkap bahwa pada kelompok pengeluaran 40 persen terendah, hanya 5,18 persen rumah tangga lanjut usia yang memiliki jaminan sosial.

Ini mempertegas masih banyak lansia berstatus ekonomi rendah, yang belum memiliki jaminan sosial. Persiapan dana pada hari tua bisa dibangun melalui tabungan, asuransi, atau investasi. Pemilihan instrumen disesuaikan dengan kemampuan finansial saat ini.

Pemahaman literasi keuangan yang baik sangat bermanfaat dalam jangka panjang. Dengan stabilitas finansial, generasi sandwich berpotensi memiliki masa tua yang layak dan mandiri, serta tak menjadikan keturunan mereka sebagai generasi sandwich 2.0. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat