Cahaya Ramadhan
Khataman, Likuran, dan Malam Lailatul Qadar
Masyarakat bergotong royong menyajikan yang terbaik untuk meramaikan malam lailatul qadar
NANANG SUMANANG; Guru Sekolah Indonesia Davao-Filipina
Ketika kecil dulu, kami, setiap liburan puasa yang panjangnya sebulan, pasti dipulangkan oleh orang tua kami ke kampung halaman, di rumah nenek. Ayah berasal dari desa Kutaraja, dan ibu berasal dari Ciporang, tetangga desa berada di kecamatan Maleber, kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Rumah nenek Ciporang sangat asri, di belakangnya terdapat hawangan (saluran air pegunungan) yang mengalir sepanjang hari, menimbulkan irama gemericik air yang menenangkan hati. Di sebelah kanannya ada tajuk (surau) kecil, tempat kami shalat, juga tempat kami beristirahat siang, ketika pulang dari bermain, atau berenang seharian di sungai Cigede pada bulan puasa.
Malamnya tajuk itu akan sangat ramai didatangi oleh warga, baik yang tua maupun yang muda untuk melaksanakan shalat Isya dan Taraweh bersama. Tajuk kecil yang di depannya ada balong dengan airnya yang tidak pernah berhenti mengalir, adalah tempat kami mengambil air wudhu. Karena banyak ikannya, kadang kami balong gunakan juga untuk mencari ikan di sana pada siang hari.
Usai shalat Taraweh dan tadarus, adalah acara yang sangat kami nantikan. Ustadz akan mengeluarkan wedang atau makanan kecil, kiriman dari para warga untuk yang bertadarus. Kopi , teh, wajik, raginang, papais, dage (oncom hitam), adas (tepung beras dicampur parutan kelapa dan gula merah) dll. Sedotan rokok kawung menemani para bapak-bapak bercerita tentang sawah dan kehidupan sehari-hari.
Udara yang dingin, sambil selimutan sarung, menyeruput kopi atau teh, menampakan kegembiraan para leluhur kami dalam mengolah hidup dan kehidupan ini. Dan sebagai tokoh utamanya pada kegiatan tersebut adalah kami, anak-anak yang paling sering menghabiskan wedang taraweh hingga tuntas.
Entah bagaimana caranya, ustaz di tajuk kami mengatur cara membagi membaca Alquran, sehingga khataman Alquran itu pas bersamaan masuk malam ke 21 (salikur) bulan Ramadhan. Acara ini adalah puncak dari bulan Ramadhan di tajuk kami. Bayangkan, semua makanan dari hasil bumi dimasak dengan tangan-tangan yang penuh cinta, yang mengharapkan ridha Allah semata, diolah dengan bumbu dan rempah-rempah yang terbaik juga akan dihidangkan dalam rangka menyambut khataman dan malam salikuran.
Nenek saya yang terkenal sebagai pembuat rengginang, akan membuat rengginang yang terenak dengan beras ketan yang terbaik. Siangnya beliau memotong dua ekor ayam, kemudian diberi bumbu untuk dibakar. Sementara tetangga lainnya membuat kue, nasi, dan lauk pauknya. Ikan nila, gurame, mujair dan emas, yang ada di balong-balong mereka, akan dipepes dan digoreng untuk dimakan bersama.
Mereka saling berbagi, kalau ada bumbu yang kurang, mereka akan meminta ke tetangganya, semuanya bahagia, tidak ada yang cemberut dan berpangku tangan. Kami anak-anak paling-paling hanya bisa membantu alakadarnya, seperti membersihakan daun pisang yang akan ditaruh di tetampah (anyaman bambu yang berbentuk lingkaran) dan nantinya akan diisi dengan berbagai makanan lainnya.
Bagi kami malam itu adalah malam yang sangat mewah, di luar rumah, dipasang banyak obor dari bambu, yang menerangi rumah-rumah penduduk dan jalanan. Obor-obor itu bagaikan menceritakan bahwa malam ini adalah malam lailatul qadar, malam kemuliaan, karena malam ini adalah malam turunnya Alquran yang menjadi penerang bagi umat manusia dan alam semesta.
Yang kami tahu, malam itu adalah malam yang penuh dengan kebahagiaan dan kekenyangan, karena makanan yang ter-enak dan terlezat keluar semua. Saking kenyangnya, biasanya kami akan tidur di tajuk bersama teman-teman, dan akan kembali pulang ke rumah masing-masing ketika waktu sahur tiba.
Saat itu, kami belum berpikiran bagaimana para orang tua dan leluhur kami begitu sangat memuliakan malam lailatul qadar. Kemuliaan malam lailatul qadar yang diungkap dalam laku budaya yang sangat indah, penuh dengan kepercayaan diri menampilkan olahan hasil bumi sendiri, dikerjakan dengan tangan-tangan penuh cinta dan doa, dengan keikhlasan memberi hanya untuk mendapatkan kemuliaan malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Masyarakat Sunda adalah masyarakat yang religius, masyarakat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Peringatan memuliakan malam lailatul qadar dalam bentuk laku budaya bukan hanya ada di kampung saya di Kuningan, tapi juga di seluruh masyarakat Jawa Barat atau bahkan Indonesia.
Di Garut juga ada malam mamaleman atau lilikuran. Dalam rangka menyambut malam lailatul qadar, dimana nilai kebaikannya lebih baik dari seribu bulan.
Usep Romli, seorang budayawan yang berasal dari Garut menceritakan bahwa pada siang harinya malam mamaleman, para ibu akan menyibukan diri dengan membuat panganan yang semua berasal dari hasil bumi. Seperti dupi atau tangtang angin, yang berbahan baku beras yang dibungkus daun dupi, dan berbentuk segitiga atau prisma. Ada lagi uras, leupeut, teumeung teundeut, dan katimusyang terbuat dari dari parutan singkong yang dicampur gula merah plus irisan kelapa tidak terlalu muda.Ada juga putri noong terbuat dari parutan singkong, ditengahnya ada pisang. Ada makanan dari aci kawung (gula aren) seperti ongol-ongol dsb.(Jernih.co, 19 Mei 2020)
Ada nilai yang sangat penting yang bisa diambil, yang mungkin sekarang sudah mulai memudar. Yang pertama bahwa ada usaha pemahaman keagamaan yang ingin dibumikan oleh masyarakat Jawa Barat. Agar pemahaman agama bisa benar-benar dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari dan diingat oleh generasi ke generasi selanjutnya, maka pembumiannya melalui laku budaya. Seperti kemuliaan malam lailatul qadar ini.
Yang kedua merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT dengan cara mengolah tanah dengan baik sehingga menghasilkan produk-produk pangan yang mencukupi kebutuhan hidup masyarakatnya. Bayangkan, apabila masyarakat kita mempunyai kesadaran akan hal tersebut, didukung oleh pemerintah melalui kebijakan-kebijakan yang mengembangkan potensi keanekaragaman makanan khas Indonesia, maka tidak mungkin akan terjadi ketergantungan terigu dan gandum, yang memang tidak ada ladangnya di Indonesia.
Secara budaya makanan sebenarnya kita sudah dijajah oleh terigu dan produk-produk lainnya yang bukan lahir dari bumi ibu pertiwi. Apabila kita bisa mengolah dengan baik semua potensi makanan yang lahir di bumi pertiwi, maka insya Allah ketahanan pangan akan mudah dijangkau.Ini adalah bentuk dari ayat “Wa ammaa bini’mati robbika fahaddits”Dan atas segala nikmat yang Allah telah berikan kepadamu, maka nampakanlah dengan caramengolahnya dengan baik.
Ketiga, laku budaya tersebut mengajarkan kepada kita tentang pengamalan hadist “alyadul ‘ulya khoerun min alyadis supla”bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Secara takhriji hadist ini statusnya muttafaq ‘alaih, yang diriwayatkan oleh Bukhari. Pada malam likuran dan khataman al-Qur’an, semua orang berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik, sebatas kemampuannya.
Dengan niat ikhlas untuk memuliakan malam lailatu qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan, malam turunnya al-qur’an. Sungguh sebuah simponi yang indah, apabila yang mampu memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya, dan masyarakat yang tidak mampu tidak mau menengadahkan tangannya, sungguh sebuah keindahan luar biasa dari ajaran Islam.
Keempat ada suasana gotong royong yang guyub, yang benar-benar mencerminkan budaya Indonesia yang dihiasi oleh nilai-nilai keagamaan. Kaya dan miskin menjadi satu, saling bergotong royong, beramai-ramai menyiapkan makanan dan acara untuk menyambut malam kemuliaan. Mereka bekerjasama dalam pikiran, harta benda, tenaga yang semuanya tidak akan lagi terlihat mana yang paling mulia diantaranya, semuanya ikhlash saling bergotong royong. “Ta’awanuu ‘alal birri wat-taqwa, walaa ta’aawanuu ‘alal istmi wal udwan” Saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan, dan jangan sekali-kali kamu tolong menolong dalam perbuatan dosa dan kejahatan.
Laku budaya yang lahir dari pergulatan pemikiran para leluhur kita terhadap perjalanan masyarakatnya beserta kondisi alam sekitarnya, sekarang sepertinya sudah berubah. Tajuk kecil dulu sudah berubah menjadi masjid, tidak ada balongnya, dan anak-anak yang tidur-tiduran setelah bermain atau berenang. Acara khataman dan likuran berubah menjadi budaya instan, efesien yang diukur dengan budget, dan waktu yang singkat. Menikmati sebuah proses bukan lagi sesuatu yang menyenangkan, suara alu ketika dipukul, teriakan anak-anak yang berebutan mengambil sisa-sisa makanan, harus dikalahkan oleh budaya cepat saji, makanan yang diproduksi massal.
Semoga ini hanya bentuk perubahan budaya saja, tapi esensi kerja keras, kemandirian, suka memberi, gotong royong masih tetap ada pada umat Islam di Jawa Barat dan Indonesia umumnya.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
Mutiara Ramadhan
Sesungguhnya di dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang pada Hari Kiamat orang-orang yang berpuasa masuk ke surga melalui pintu tersebut... HR ALBUKHARI No.1896
HIKMAH RAMADHAN
Memahami Makna Ramadhan
Ramadhan hadir untuk membakar dosa-dosa para hamba Allah.
Ramadhan hadir untuk membakar dosa-dosa para hamba Allah.
