Anak bermain dan belajar (ilustrasi) | Pixabay

Keluarga

26 Apr 2021, 09:13 WIB

Yuk, Raih Masa Emas Anak Lewat PAUD

Pendidikan anak usia dini menjadi penting karena untuk menyambungkan seluruh sel otak anak.

Saat manusia lahir ke dunia, jumlah seluruh sel otak bisa mencapai lebih dari 100 triliun sel. Namun, seluruh sel otak tersebut baru bisa berfungsi hanya dengan stimulasi lantaran ‘perangkat’ otak ini masih belum berkembang dan belum disambungkan. Maka, usia dini dianggap masa paling penting dalam hidup manusia, karena usia 0-3 tahun mulai terjadi penyambungan ‘perangkat’ otak, semua harus tersambung.

Artinya, jika ada yang tidak tersambung, maka itu akan masuk pada program penghapusan. Satu literatur menyebutkan, jumlah sel otak orang dewasa dibanding anak usia dini bisa berbeda 50 persen. “Pendidikan anak usia dini (PAUD) menjadi penting karena untuk menyambungkan seluruh sel otak anak,” kata Guru Besar Bidang Gizi dan Pangan & Pakar PAUD dari Himpaudi, Prof Dr Ir Netti Herawati, M.Si, dalam webinar “Bangkit & Menghebat di Era New Normal (Kesehatan, Parenting dan Pendidikan)” pada akhir Februari lalu.

Kalau melihat dari berat otak anak usia dini, itu jadi pondasi untuk belajar dan pondasi untuk hidup. Jadi bukan sekadar menyiapkan untuk masuk SD saja, tapi juga untuk SMP, SMA, perguruan tinggi, bahkan untuk hidup.

Para orang tua khususnya ibu, harus memahami bahwa usia 0-2 tahun merupakan masa krusial pada anak. Karena apabila sel otaknya tidak tersambung atau terstimulasi dengan baik maka terjadilah fase penghapusan sel otak atau yang lebih dikenal dengan istilah use it or lose it.

Hal ini ditentukan oleh kualitas dan kuantitas stimulasi karena setiap detik terjadi 1,684 juta sambungan sel otak. Sedangkan, untuk kualitas stimulasi terkait pada aspek perkembangan atas apa saja yang distimulasikan pada anak, dengan cara yang tepat atau tidak.

“Kalau di usia 0-2 tahun yang juga puncak perkembangannya, ketika anak lahir ke dunia hanya mata dan telinga yang berfungsi, selebihnya distimulasi dulu baru dia nanti punya jalurnya di otak. Kalau tidak dididik di usia dini, maka kesempatan emas ini jadi hilang,” ucap Prof Netti.

Alhasil urgensi PAUD adalah jika pondasi tidak tersambungkan di usia dini, maka tidak ada di masa depannya. ''Jadi kita hanya menggunakan yang kita sambungkan tadi. Oleh karena itu PAUD penting disebut the golden years,'' kata dia lagi.

Semakin berkualitas, semakin banyak sel otak tersambungkan. ''Materi juga tergantung yang diberikan atau dipersiapkan anak untuk hidup, misal mau jadi ustad atau pendeta, musisi, perampok, itu hubungannya adalah apa yang diberikan sejak usia dini, sehingga dia kenal dirinya dan tahu memperlakukan tubuhnya. Orang-orang yang tidak patuh atau tidak mengerjakan hal baik, itu karena dia tidak kenal dengan dirinya sendiri. Jadi PAUD itu memperkenalkan diri anak kepada anak itu sendiri,” ungkap dia.

Untuk melihat perkembangan anak berhasil atau tidak, bisa dilihat dari umur kronologis sama dengan perkembangannya. Umur kronologis itu usia anak, dan perkembangannya ada enam nilai. Harus keenam nilainya, tidak boleh hanya salah satu. “Enam itu nilai agama, moral, fisik motorik, kognitif bahasa, sosial emosional, dan seni. Semua sudah ada di banyak hasil penelitian dan juga landasan yuridis,” papar Prof Netti.

Misalnya perkembangan mulai dari agama dan moral, seperti dalam Islam diperdengarkan kumandang adzan dan iqomah, dan seterusnya. Untuk moral, klasifikasikan mana perilaku yang benar dan salah, mana perbuatan yang dosa dan pahala, mana barang punya kita dan punya orang.

Menurut dia, anak sedari dini harus dilatih berpikir kritis atau ‘critical thinking’, ini disebabkan karena terlalu banyaknya informasi yang masuk di era digital seperti sekarang. ‘’Sehingga anak harus terlatih untuk memilah informasi mana yang berguna, mana yang tidak,’’ ujarnya.

 

 

 

Enam itu nilai agama, moral, fisik motorik, kognitif bahasa, sosial emosional, dan seni. Semua sudah ada di banyak hasil penelitian dan juga landasan yuridis.

Prof Dr Ir Netti Herawati, M.Si
 

 

 

Perhatikan imunisasi anak

Pada masa pandemi saat ini, kesehatan buah hati boleh jadi menjadi fokus utama orang tua. Tidak hanya dilatih untuk berpikir kreatif, mereka dituntut mengembangkan kemampuan kognitif agar memiliki daya juang lebih. Apalagi mereka pun termasuk berisiko terpapar virus Covid 19.

Baru-baru ini dalam jurnal JAMA Pediatrics disebutkan, anak-anak di bawah usia 5 tahun atau balita bisa membawa materi genetik Covid-19, 10 hingga 100 kali lebih tinggi dalam nasofaring mereka dibandingkan anak yang lebih tua dan orang dewasa.

Selain itu, anak-anak juga ternyata memiliki risiko komplikasi yang lebih besar bila terpapar Covid-19, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kronis bawaan, seperti penyakit imun atau obesitas. Melihat kondisi tersebut, tentunya para orang tua perlu ekstra hati-hati dalam memerhatikan kondisi kesehatan keluarga terutama anak-anak di masa pandemi ini.

Dokter Spesialis Anak RS Hermina Jatinegara, Dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A menyampaikan, menjaga kesehatan anak terbaik adalah dengan memberikan nutrisi adekuat agar mencapai status gizi yang baik, sehingga daya tahan tubuh dapat terpacu secara optimal. 

“Satu lagi yang penting yaitu imunisasi. Jangan sampai karena anak tidak divaksin, begitu pandemi selesai, maka muncul wabah infeksi lain yang seharusnya bisa dicegah oleh imunisasi. Jangan lupa untuk cek rekomendasi vaksinasi anak usia 0-18 tahun yang telah diperbaharui tahun 2020 lalu oleh IDAI,” jelas dokter Kanya.

photo
Dua orang anak bermain layangan di areal pesawahan (ilustrasi) - (Republika/Edi Yusuf)

 

Nutrisi Hati dari Ayah

Selain nutrisi gizi, orang tua diimbau untuk tidak lupa memberikan nutrisi hati kepada anak, agar anak tidak memiliki trauma atau luka masa kecil yang bisa dibawa hingga dewasa nanti.

Para orang tua terutama ibu, harus paham pola komunikasi yang baik dan benar dengan anak karena itu juga merupakan aspek stimulasi yang penting pada anak usia dini.

Namun, mengurus anak ini bukan hanya tanggung jawab ibu, melainkan juga jadi tanggung jawab ayah. Seperti kekompakan mengurus anak yang dilakukan Dude Harlino dan Alyssa Soebandono.

“Peran ayah dalam parenting itu selalu saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga terus memerhatikan jadwal imunisasi anak agar tidak menciptakan wabah penyakit baru. Jangan takut untuk pergi ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan, yang penting lakukan protokol kesehatan yang ketat,” papar Dude.

Pola asuh di masa pandemi ini pun juga mengalami perubahan bagi dia dan istri. Mereka harus memberikan satu pengertian kepada anak, tentang kondisi yang belum normal saat ini, menunda sekolah dan berlibur, mereka bekerja sama untuk itu.

Mereka juga membahas bagaimana mendidik anak tanpa kata-kata keras dan tidak ada bentakan. Karena dengan membentak justru akan berakibat buruk bagi anak. Anak perlu melihat ketegasan dan kepemimpinan dari seorang ayah, dan itu tidak bisa digantikan oleh ibu. Semua perkataan harus benar-benar diatur.

“Penting untuk menjaga mood anak. Karena anak sudah di rumah hampir setahun, tidak ke mana-mana, artinya kita harus terus menjaga mereka tetap aktif. Saya tetap berikan mereka ruang aman, tidak terlalu banyak orang, tapi hasrat mereka untuk aktif itu harus dikasih ruang terus,” ungkap Dude yang juga duta produk popok Baby Happy.

Bagi Dude, para ayah di rumah pun harus turut andil mendukung pekerjaan rumah tangga bersama ibu, meskipun itu termasuk bila harus mengganti popok anak. Dengan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja, jadi lebih memanfaatkan waktu luang bersama keluarga.

Bagi sebagian laki-laki, mungkin tidak menyukai kala mendapat bagian untuk mengganti popok dengan alasan tidak bisa. Tapi tidak dengan Dude Harlino ketika pertama kali memiliki anak, meski rasanya sangat canggung dan tidak tahu apa-apa, ia belajar hingga akhirnya seringkali bergantian mengganti popok anak dengan sang istri.

Pengalaman luar biasanya ketika anak pertama baru saja lahir, masih usia nol bulan, ia merasa bingung cara mengganti popok anak. Ketika sang anak menangis, ia masih bingung apa makna tangisan itu. Apakah lapar, haus, buang air kecil, buang air besar, dan sebagainya. Dan ia paling tidak ingin jika anak tidak nyaman karena popok.

“Sebagai ayah, di hari-hari pertama punya anak itu sebenarnya sangat canggung. Saya cari popok yang tidak menyebabkan ruam, yang kualitasnya baik, gampang dipakai, kena ke kulit bayi tidak ruam walau anak beraktivitas, tetap kering, dan bisa ikuti contour anak ketika mulai aktif,” ungkap Dude dalam konferensi pers virtual Baby Happy.

Jika anak nyaman, maka anak akan jauh lebih tenang ketika tidur apalagi saat malam hari, dengan begitu orang tua pun juga bisa dengan tenang tidur. Artinya harus menggunakan produk yang membuat anak tenang dan sehat, ketika anak bangun pun akan siap memberikan apa pun kebutuhan anak.


×