Sejumlah anggota Badut Nyentrik Cimahi Bandung Sauyunan (Necis) membagikan takjil dan masker ke pengendara di Jalan Aruman, Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jumat (23/4). Komunitas Badut Necis membagikan sedikitnya 100 paket takjil dan masker secara gratis kepa | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Cahaya Ramadhan

25 Apr 2021, 06:44 WIB

Tumbuhkan Gaya Hidup Berbagi pada Ramadhan

Di antara tanda orang beriman adalah suka berbagi baik pada Ramadhan maupun setelahnya.

 

Banyak keberkahan yang dapat diperoleh pada bulan Ramadhan. Untuk meraihnya, seorang Muslim harus dapat mengoptimalkan waktu sebaik mungkin pada bulan suci ini untuk beribadah. Salah satu ibadah itu adalah berzakat dan berwakaf.

Menurut pengamat ekonomi syariah, Irfan Syauqi Beik, bulan suci Ramadhan semestinya menjadi momentum bagi setiap umat Islam untuk menunaikan zakat, infak, sedekah dan wakaf (ziswaf). Apalagi, Allah SWT melipatgandakan pahala kebaikan pada bulan yang penuh berkah dan maghfirah ini.

Menurut Irfan, Ramadhan menjadi waktunya bagi umat Islam yang masuk kategori muzaki untuk mengeluarkan zakatnya selain zakat fitrah, yaitu seperti zakat profesi, zakat mal, dan sebagainya.

“Ramadhan ini dijadikan sebagai batasan standar haul zakat. Misalnya zakat deposito, zakat emas, perak, zakat perhiasan yang dimiliki. Zakat-zakat itu bisa dikeluarkan saat Ramadhan. Jadi, Ramadhan sebagai standar menetapkan haulnya,” kata Irfan kepada //Republika//, belum lama berselang.

Irfan menjelaskan, Ramadhan disebut juga syahru tarbiyah yakni bulan pendidikan umat. Salah satu caranya, yakni dengan membiasakan diri berbagi kepada sesama. Bulan suci ini juga merupakan momentum penguatan gaya hidup berbagi bagi umat Islam. Harapannya, gaya hidup berbagi itu terus dijalankan secara istiqamah di luar bulan Ramadhan. 

Lebih lanjut, Irfan yang kini menjabat sebagai Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI) mengatakan, ibadah zakat memiliki banyak keutamaan. Zakat merupakan ibadah mahdah yang juga bagian dari rukun Islam. Karena itu, menurut dia, tegak tidaknya ajaran Islam, salah satunya ditentukan oleh penerapan syariat zakat.

Selain itu, zakat juga merupakan instrumen yang dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan seorang Muslim. Sebab, di antara tanda orang beriman adalah yang suka berbagi. Keutamaan lain dari berzakat adalah untuk membersihkan diri dari penyakit-penyakit ruhani semisal kikir, bakhil, dan berbagai dosa yang pernah dilakukan.

Zakat juga merupakan instrumen yang bisa memperkuat solidaritas sosial masyarakat. Melalui zakat muncul semangat kepedulian dari kelompok masyarakat mampu kepada kelompok masyarakat tidak mampu.

“Dengan begitu solidaritas sosial pun semakin kokoh di tengah masyarakat,” ujar dia.

Zakat juga memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Irfan yang pernah menjabat sebagai direktur Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengatakan, potensi zakat di Indonesia saat ini mencapai Rp 327 triliun atau naik dari sebelumnya Rp 233,8 triliun. 

 "Ini kalau kita bisa kelola dengan baik, yang sebagiannya bisa disalurkan untuk program yang sifatnya produktif maka ini akan memperkuat perekonomian nasional," katanya.

Sementara, CEO Rumah Zakat, Nur Efendi menyampaikan, zakat saat ini telah mengarah pada gaya hidup Muslim di Indonesia. Banyak orang yang merasa bangga setelah dapat menunaikan zakatnya di lembaga-lembaga pengelola zakat.

"Bangga dan bahagia menunaikan zakat itu sudah menunjukkan zakat sudah menjadi gaya hidup," kata Nur.

Ia juga menerangkan, peran zakat sangat strategis, baik untuk ekonomi, sosial, dan budaya. Menurutnya, sejarah Islam juga telah mencatat pengelolaan zakat yang baik dapat membawa pada kejayaan. Karena itu, Nur pun mengajak umat Islam, khususnya yang telah mampu dan mempunyai kewajiban berzakat untuk memanfaatkan momentum Ramadhan sebagai kesempatan menunaikan zakat.

Apalagi, menurut dia, berzakat pada masa kini jauh lebih mudah. Dengan dukungan teknologi, masyarakat dapat berzakat kapan pun. Saat ini, berzakat tidak perlu datang ke kantor, tidak perlu menjemput donatur, tapi sudah bisa melalui bank ataupun secara daring.

“Tidak ada alasan untuk tidak berzakat karena zakat itu sangat mudah, di manapun, kapan pun.”


×