KH Noer Alie, ulama asal Bekasi. | Blogspot
22 Apr 2021, 17:42 WIB

Ponpes At-Taqwa, Warisan Ulama Karismatik KH Noer Alie

Ciri khas yang diturunkan oleh KH Noer Alie di Ponpes Attaqwa adalah metode sorokan.

 

OLEH UJI SUKMA MEDIANTI

Sekitar 500 orang berkumpul di Teluk Pucung, Bekasi, pada tahun 1940. Berkumpulnya mereka sejak pagi hari bukan tanpa alasan. Mereka menanti kehadiran KH Noer Ali, pemuda asal Ujung Malang, yang kembali dari Makkah ke Tanah Air. 

Saat berusia 20 tahun, pria kelahiran Bekasi, 15 Juli 1914, ini bersama rekannya bernama KH Hasbullah pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Kesempatan ini dia manfaatkan untuk belajar ilmu-ilmu agama.

Terkait

Saat itu, di depan rumah KH Noer Alie, sudah disiapkan serenteng petasan sepanjang tiga meter. Bak pahlawan perang yang pulang dari medan laga, KH Noer Alie diarak sampai kampung kelahirannya, Ujung Malang, yang kini berganti nama menjadi Kampung Ujung Harapan Bekasi.

Sesampainya di Ujung Malang, KH Noer Alie membicarakan kembali rencana mendirikan pesantren kepada ayahnya. Namun, saat itu belum terlalu banyak murid. Akhirnya, dia memutuskan untuk membuka pengajian terlebih dulu di masjid di samping rumahnya.

Permasalahan utama KH Noer Alie untuk mewujudkan mimpinya membangun pesantren adalah dia butuh kehadiran seorang badal sebagai jontrot (pelopor). Dia lantas memilih Muhammad Ya’kub Gani yang merupakan pemuda Ujung Malang sebagai pelopor.

Masyarakat Ujung Malang dan sekitarnya mulai memasukkan anaknya untuk belajar di pengajian KH Noer Alie, mulai dari tingkat dasar hingga lanjutan. Berdasarkan buku Ali Anwar berjudul KH Noer Alie: Kemandirian Ulama Pejuang, saat itu Pemerintah Hindia Belanda memberi peluang kepada ulama untuk mendirikan sekolah-sekolah Islam.

Kesempatan ini diambil Noer Alie muda untuk mendirikan pesantren yang menjadi cita-citanya sejak lama. Pesantren itu diberinya nama At-Taqwa, yang menjadi ruang baginya menyebarkan ilmu-ilmu agama. Hingga awal 1941, KH Noer Alie telah memiliki 300 murid. Jumlah badal pun ditambah.

 
Hingga awal 1941, KH Noer Alie telah memiliki 300 murid. Jumlah badal pun ditambah.
 
 

Untuk mengefektifkan proses belajar mengajar, KH Noer Alie menerapkan metode model Makkah yang dimodifikasi dengan kondisi pesantrennya. Para murid mendatangi guru atau badal sesuai dengan keahlian dan jam belajarnya. Jadwal kegiatan para murid pun diatur ketat.

Biasanya sebelum fajar, santri harus sudah bangun. Sekitar pukul 04.30 WIB, mereka melaksanakan shalat Subuh, berzikir, dan belajar akhlak. Pukul 06.00-07.00 WIB, santri belajar menghafal, lalu beristirahat untuk sarapan pagi dan mandi.

Belajar utama dilangsungkan pada pukul 07.30-12.00 WIB. Setelah istirahat, santri shalat Zuhur, makan siang, dan tidur. Pelajaran tambahan dilanjutkan pukul 14.00-18.00 WIB. Usai shalat Maghrib, santri belajar hadis. Lalu, dilanjut dengan Muzakaroh pukul 21.00-22.00 WIB.

Ciri khas yang diturunkan oleh KH Noer Alie di Ponpes Attaqwa adalah metode sorokan. Metode ini masih dipertahankan hingga kini, di mana murid mengelilingi guru sambil duduk bersila. 

“Apabila satu materi pelajaran selesai, sang murid diuji langsung oleh KH Noer Alie,” ujar Sekjen Ponpes Attaqwa, Ustaz Anis Abd Quddus, Kamis (15/4).

 
Apabila satu materi pelajaran selesai, sang murid diuji langsung oleh KH Noer Alie.
 
 

Cucu KH Noer Alie ini menyebut, apabila murid dianggap sudah benar atau mahir, maka murid dan badalnya akan berbesar hati karena mendapat pujian. Sebaliknya, jika salah dalam membaca, murid harus mengulang pelajaran di hadapan badal.

Jika sudah dilakukan berturut-turut namun murid tetap tidak mengalami perubahan, maka badalnya yang akan dipanggil untuk dimintai pertanggungjawaban.

Menurut Ustaz Anies, apabila badalnya yang salah, maka dengan tegas dan penuh pengertian Noer Alie akan mengajari badal tersebut sampai benar-benar paham.


×