Ilustrasi shalat. Ramadhan merupakan kesempatan baik untuk memperbaiki shalat. | Republika/Putra M. Akbar
22 Apr 2021, 12:56 WIB

Ramadhan Momentum Perbaiki Shalat

Identitas keislaman seseorang dilihat dari shalatnya.

OLEH ANDRIAN SAPUTRA 

Rasulullah SAW telah mengabarkan bahwa segala amal di bulan Ramadhan bernilai pahala berlipat ganda. Bila seorang Muslim tak melalaikan shalat maktubah (shalat lima waktu), bahkan berupaya menyempurnakan ibadah di bulan Ramadhannya dengan mengerjakan berbagai shalat sunah, tentu amaliyah tersebut akan dibalas dengan pahala berlipat ganda. Sebab sejatinya shalat sendiri merupakan ibadah yang derajatnya tinggi.

Pendakwah yang juga Ketua Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Masyhuril Khamis menjelaskan, terdapat hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi yang menyebutkan bahwa shalat merupakan tiang agama. Terlepas dari perdebatan ulama mengenai status hadis tersebut, menurutnya, shalat memang merupakan ibadah utama dalam Islam.

"Faktanya memang shalat adalah tiang dari agama. Ibarat agama adalah rumah, shalat adalah penyangganya. Rumah tanpa tiang tentu tidak ada manfaat bagi pemiliknya. Begitu pula agama Islam tanpa shalat, seolah ia tak berarti apa-apa," ujar Kiai Masyhuril kepada Republika, beberapa hari berselang.

Terkait

Dijelaskan, identitas keislaman seseorang dilihat dari shalatnya. Maka, tidak heran jika sebagian ulama berpendapat, seseorang yang meninggalkan shalat dengan sengaja bisa berujung pada kekafiran.

Shalat sebagai tiang agama, menurut Kiai Masyhuril, juga bisa dipahami bahwa shalat adalah ibadah yang akan menentukan selamat atau tidaknya manusia di akhirat nanti. Sebagaimana disebutkan dalam hadis: "Sungguh amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, beruntung dan selamatlah dia. Namun, jika rusak, maka merugi dan celakalah dia (HR Tirmidzi, Nomor 413).

Sementara Ramadhan, dia melanjutkan, adalah momentum perbaikan diri bagi kaum Muslimin. Pada bulan suci Ramadhan, pintu surga dibuka lebar-lebar, sedangkan pintu neraka ditutup dengan rapat serta setan dibelenggu. “Kesempatan ini seharusnya tidak disia-siakan oleh seorang Muslim,” ujar dia.

Saat Ramadhan, seorang hamba akan sangat mudah mendapat ampunan dan diringankan untuk melakukan ibadah. Karena itu, para ulama salaf sudah menunggu dan terus berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya dan berdoa agar amalannya diterima selama enam bulan setelah Ramadhan.

Kiai Masyhuril menekankan, hal utama yang harus diprioritaskan untuk diperbaiki pada bulan Ramadhan adalah shalat, sebagaimana Allah juga akan menanyakannya pertama kali di akhirat kelak. Karena itu, selain menjalankan kewajiban berpuasa, kita harus lebih dulu memperhatikan kewajiban yang lebih besar, yaitu shalat.

“Akan sangat rugi jika seseorang melakukan kewajiban puasa, tapi lalai dari kewajiban shalat," katanya.

 
Akan sangat rugi jika seseorang melakukan kewajiban puasa, tapi lalai dari kewajiban shalat.
 
 

Menurut Kiai Masyhuril, seseorang yang baik shalatnya sudah pasti baik budinya. Hamba tersebut tidak akan takabur dan berlaku sombong karena ketika bertakbir dirinya tahu bahwa Allahlah yang Mahabesar.

Orang yang mendirikan shalat juga tidak akan rakus dan tamak kepada kehidupan dunia. Ia akan sadar bahwa dunia bukanlah tujuan utama. Orang yang mendirikan shalat juga akan menyayangi dan mengharapkan kebaikan atas sesamanya serta tidak akan menyakiti dan merugikan sesamanya.

Mengenai faedah shalat, pakar tafsir Alquran yang juga pengurus Komisi Dakwah MUI, Ustaz Syahrullah Iskandar, menjelaskan, di antara faedah shalat adalah mengokohkan relasi seorang hamba kepada Allah sebagai pencipta. Shalat merupakan pertanda ketundukan dan kepatuhan seorang hamba kepada Allah.

Shalat memiliki relasi yang sangat kuat dengan ibadah lainnya. Bahkan, Ustaz Syahrullah menjelaskan, dalam sejumlah ayat Alquran seruan untuk mengerjakan shalat kerap disandingkan dengan amal ibadah lainnya, seperti berzakat, bersedekah, dan sebagainya. 

Hal itu menunjukkan bahwa tidak berartinya amal ibadah seseorang bila meninggalkan shalat. Begitu pun sebaliknya, tidak sempurna keislaman seseorang yang hanya mengerjakan shalat tapi mengesampingkan ibadah lainnya, terlebih zakat, berpuasa, dan berhaji bagi yang mampu.

Apalagi relasi antara puasa dengan shalat, menurut dia, sangat kuat dalam membuat seorang hamba jadi insan yang bertakwa.  “Dengan berpuasa, seorang hamba juga dapat meningkatkan kualitas shalatnya.”


×