Seorang pria menunggu proses kremasi keluarganya yang meninggal akibat Covid-19 di New Delhi, India, Selasa (20/4/2021). | AP/AP
22 Apr 2021, 03:35 WIB

Modi: Gelombang Infeksi Ini Seperti Badai 

Pasokan oksigen RS pemerintah hanya untuk delapan hingga 24 jam.

NEW DELHI -- Perdana Menteri Narendra Modi menyatakan gelombang kedua kasus Covid-19 yang terjadi saat ini seperti badai. India, kata Modi, menghadapi badai virus Covid-19 yang membanjiri sistem kesehatannya. Pihak berwenang India bergegas untuk menopang pasokan oksigen medis ke rumah sakit di ibu kota, New Delhi, Rabu (21/4).

"Situasinya dapat ditangani hingga beberapa pekan lalu. Gelombang infeksi kedua ini datang seperti badai," kata Modi.

"Permintaan oksigen telah meningkat. Kami bekerja dengan kecepatan dan kepekaan untuk memastikan oksigen bagi semua yang membutuhkannya. Pusat, negara bagian, dan perusahaan swasta, semuanya bekerja sama," kata Modi dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa (20/4) malam. 

Modi mendesak warga untuk tetap di dalam rumah dan tidak panik di tengah keadaan darurat kesehatan terburuk di India. Dia menghadapi kritik bahwa pemerintahannya menurunkan kewaspadaannya ketika infeksi virus korona turun ke level terendah pada Februari 2021. 

Terkait

photo
Petugas kesehatan beristirahat selepas melakukan kremasi terhadap korban Covid-19 di New Delhi, India, Senin (13/3/2021) - (AP/Manish Swarup)

Pemerintah mengizinkan festival keagamaan Kumbh Mela dan akivitas politik. Negara terpadat kedua di dunia ini melaporkan jumlah kasus harian baru tertinggi di dunia dan mendekati puncak sekitar 297.000 kasus dalam satu hari. Jumlah tersebut pernah dialami Amerika Serikat pada Januari. 

Pemerintah Delhi pun menyampaikan seruan bantuan di media sosial. Desakan ini akibat rumah sakit pemerintah besar hanya memiliki cukup oksigen untuk bertahan delapan hingga 24 jam lagi, sementara beberapa rumah sakit swasta hanya memiliki cukup oksigen untuk empat atau lima jam. 

Media lokal melaporkan, rumah sakit GTB mendapat pasokan oksigen sebelum kehabisan stok untuk 500 pasiennya. "Kami hampir kehilangan harapan. Kami semua menangis saat melihat tangki oksigen tiba," kata seorang dokter kepada India Today

Kota berpenduduk 20 juta itu mencatat 28.395 kasus baru dan 277 kematian pada Selasa, tertinggi sejak pandemi dimulai. Setiap orang ketiga yang dites virus korona, ditemukan positif.

Saat berita ini ditulis, data Johns Hopkins University menunjukkan kasus global melampaui 143 juta dan lebih dari 3 juta kematian. AS menghadapi kasus terbanyak, yaitu lebih dari 31,79 juta. Angka ini disusul India yang menghadapi 15,61 juta kasus.  

Pergerakan di UEA

Dalam perkembangan berbeda, otoritas Uni Emirat Arab (UEA) sedang mengkaji kemungkinan menerapkan kebijakan pembatasan pergerakan bagi warga yang tak divaksinasi. Ini untuk memastikan keselamatan dan kesehatan masyarakat. 

“Langkah-langkah ketat sedang dipertimbangkan untuk membatasi pergerakan individu yang tidak divaksinasi dan menerapkan langkah-langkah pencegahan, seperti melarang masuk ke beberapa tempat serta memiliki akses ke beberapa layanan, guna memastikan kesehatan dan keselamatan semua orang,” kata Otoritas Manajemen Bencana dan Krisis Darurat Nasional UEA pada Selasa (20/4), dikutip laman Al Arabiya.   

Menurut mereka, keraguan warga untuk divaksinasi menjadi penghambat pengendalian pandemi. “Hal itu membahayakan keluarga, orang yang Anda cintai, dan komunitas. Menerima vaksin akan membantu mengimunisasi dan melindungi masyarakat dari epidemi ini. Vaksin adalah cara terbaik kita untuk pulih dan kembali ke kehidupan normal,” katanya.   

Menurut Kementerian Kesehatan UEA, sejauh ini negara tersebut telah memberikan 9.788.826 dosis vaksin dengan tingkat distribusi vaksin 98,97 dosis per 100 orang. UEA merupakan salah satu negara dengan tingkat vaksinasi Covid-19 tertinggi per 100 orang. Sedangkan, data Johns Hopkins University menunjukkan UEA menghadapi lebih dari 502 ribu kasus dan lebih dari 1.500 kematian.

Sumber : Reuters/Associated Press


×