Sergio Aguero dari Manchester City mengejar bola pada pertandingan leg kedua babak 16 besar Liga Champions antara Manchester City dan Borussia Moenchengladbach di Puskas Arena di Budapest, Hongaria, Selasa, 16 Maret 2021. | AP/Laszlo Balogh
19 Apr 2021, 11:10 WIB

Akhir Angan Quadruple Manchester City

Angan-angan soal raihan quadruple Manchester City pada musim ini kian menggema.

LONDON – Sejak Glasgow Celtic menjuarai empat kompetisi sekaligus pada musim 1966/1967, tidak ada satu pun tim di daratan Eropa yang bisa menyamai prestasi apik klub asal Skotlandia tersebut.

Torehan quadruple atau empat titel bergengsi dalam satu musim kompetisi yang biasanya ditandai oleh gelar juara di kompetisi Eropa, kompetisi Liga, dan dua trofi kompetisi domestik berformat turnamen menjadi prestasi yang begitu langka. Terlebih, tak semua negara punya dua turnamen di luar kompetisi liga seperti Skotlandia, Inggris, atau Prancis.

Pada musim lalu Bayern Muenchen mungkin bisa meraih empat trofi, termasuk raihan Piala Dunia Antarklub. Namun, sebagian besar pihak berpendapat, Piala Dunia Antarklub tak masuk dalam satu musim gelaran kompetisi, tapi dalam satu kalender tahun.

Potensi untuk menjadi tim kedua di Eropa yang mampu meraih quadruple sebenarnya dimiliki Manchester City pada musim ini. Angan-angan soal raihan quadruple City pada musim ini kian menggema usai keberhasilan the Citizen melangkah ke babak semifinal Liga Champions, tengah pekan lalu.

Maklum, ini merupakan keberhasilan pertama City melangkah ke empat besar Liga Champions dalam empat musim terakhir. Ini melengkapi status City pada tiga ajang lainnya di Liga Primer Inggris, Piala FA, dan Piala Liga Inggris. 

Namun, pada Sabtu (17/4), di Stadion Wembley, London, City dipaksa melupakan mimpinya memboyong empat trofi pada musim ini. Angan-angan ini dihentikan oleh sesama anggota the Big Six Liga Primer Inggris, Chelsea. Tim besutan Thomas Tuchel berhasil menyingkirkan City dari Piala FA itu setelah menang tipis 1-0 pada babak semifinal. Sebuah serangan balik cepat Chelsea pada menit ke-55 membuyarkan ambisi City untuk melaju ke babak final. 

Salah satu sorotan tajam dan kerap dinilai menjadi penyebab utama kegagalan City meraih kemenangan di laga ini adalah pilihan pemain yang diturunkan pelatih Pep Guardiola. Pelatih asal Spanyol itu dianggap blunder lantaran tidak menurunkan skuad terbaik the Citizens pada laga tersebut. Guardiola hanya mempertahankan Ruben Dias, Rodri, dan Kevin de Bruyne di starting line-up City melawan Dortmund. 

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Manchester City (mancity)

Kendati keputusan pemainnya di laga tersebut mendapatkan sorotan tajam, Guardiola menegaskan memiliki alasan kuat untuk mengambil keputusan tersebut. Menurutnya, keputusan ini justru diambil agar City bisa terus kompetitif di semua kompetisi.

"Tim ini selalu mengincar kemenangan di laga apa pun. Itu yang membuat kami bisa tampil di empat partai final Piala Liga Inggris dan tampil di semifinal Piala FA musim ini," kata Guardiola, dikutip dari BBC.

Menurut Guardiola, menemukan celah di pertahanan tim top seperti Chelsea tidak mudah. Laga ini, kata dia, ditentukan oleh margin yang sangat kecil. “Semua bisa saja terjadi pada laga sepertin ini,'' ujar Guardiola.

Eks pelatih Bayern Muenchen itu segera melupakan kegagalan timnya mempertahkanan kemungkinan raihan empat trofi pada musim ini. Guardiola menegaskan, timnya masih harus bersiap dan bakal melakoni jadwal yang padat. Fokus utama City saat ini sudah ditujukan ke lanjutan Liga Primer Inggris kontra Aston Villa, tengah pekan ini, dan kontra Spurs di partai puncak Piala Liga Inggris, akhir pekan ini.


×